Fase Bingung Itu Wajar, Bukan Tanda Tersesat

Fase Bingung Itu Wajar, Bukan Tanda Tersesat
*) Oleh : Muhammad Al Hafidz, S.Ag
Dai LDK PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Ada satu fase yang hampir pasti dilalui oleh banyak anak muda..yang dimana mereka merasa bingung dengan arah hidup. Misalnya Setelah lulus sekolah atau kuliah, pertanyaan mulai datang bertubi-tubi. Mau jadi apa? Kerja di mana? Harus lanjut atau berhenti dulu? Dan Anehnya, semakin dipikirkan, semakin tidak jelas jawabannya.

Nah.. di titik itu, banyak yang mulai merasa tertinggal. Melihat teman-teman sudah mulai punya pekerjaan tetap, sudah terlihat “jadi orang”, sementara diri sendiri masih mencoba ini dan -itu tanpa adanya kepastian. Lebih – lebih lagi media sosial sering memperparah keadaan. Hidup orang lain terlihat rapi, terencana, dan penuh pencapaian. Sedangkan kita? Masih meraba-raba.

Lalu muncul satu kesimpulan yang ini terasa menyakitkan: “Aku tersesat.”
Padahal, belum tentu juga. Perasaan kehilangan arah di usia muda bukan sesuatu yang aneh. Dalam psikologi perkembangan, fase ini sering disebut sebagai masa pencarian identitas. Erik Erikson menjelaskan bahwa pada tahap “identity vs role confusion”, seseorang memang sedang berusaha memahami siapa dirinya dan ke mana ia akan melangkah.

Kebingungan bukan tanda kegagalan, tapi memang sudah menjadi bagian alami dari proses menuju dewasa. Artinya, merasa tidak tahu arah bukan berarti kamu salah jalan. Bisa jadi, kamu hanya belum sampai.
Masalahnya, kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua orang seperti dituntut untuk segera tahu tujuan hidupnya. Seolah-olah kalau di usia 20-an dan belum punya arah yang jelas, berarti ada yang salah. Padahal tidak semua orang menemukan jalannya di waktu yang sama.

Buku Range karya David Epstein menjelaskan bahwa banyak orang sukses justru tidak langsung menemukan jalannya sejak awal. Mereka mencoba berbagai hal, berpindah bidang, gagal berkali-kali, sebelum akhirnya menemukan tempat yang tepat. Proses “berkeliling” itu bukan pemborosan waktu, tapi bagian dari pembentukan diri.

Sayangnya, kita sering membandingkan proses awal kita dengan hasil akhir orang lain. Kita melihat seseorang yang sudah berhasil, tapi lupa bahwa mereka juga pernah berada di titik bingung yang sama. Perbandingan ini membuat kita merasa semakin jauh tertinggal. Padahal setiap orang punya waktu dan ritmenya sendiri.
Ada yang cepat menemukan jalan, ada yang butuh waktu lebih lama. Ada yang jalannya lurus, ada yang berputar-putar dulu. Semua itu valid. Tidak ada satu pola yang harus diikuti semua orang.

Arah Ditemukan Saat Bergerak, Bukan Menunggu

Nahh.. Yang jadi masalah bukanlah kebingungan itu sendiri, tapi ketika kita berhenti melangkah karena merasa tidak yakin. Kita takut salah, takut gagal, akhirnya memilih diam. Padahal, arah hidup jarang ditemukan dalam keadaan diam.

Dalam buku Man’s Search for Meaning, Viktor Frankl menjelaskan bahwa makna hidup sering kali tidak ditemukan dengan menunggu jawaban datang, tapi dengan menjalani kehidupan itu sendiri. Dengan mencoba, merasakan, dan menghadapi berbagai pengalaman, seseorang perlahan menemukan makna dan arah hidupnya.

Dengan kata lain, kita tidak menemukan arah dengan berpikir saja, tapi dengan bergerak. Langkah kecil sekalipun tetap berarti. Mencoba pekerjaan baru, belajar skill sederhana, ikut kegiatan, bahkan mengalami kegagalan…semua itu bagian dari perjalanan. Dari situ, kita mulai belajar tentang diri sendiri:apa yang kita suka, apa yang tidak cocok, apa yang ingin kita lanjutkan.

Tidak harus langsung besar. Tidak harus langsung sempurna. Yang terpenting adalah tetap berjalan. Sebab yang berbahaya bukan salah jalan, tapi tidak berjalan sama sekali.

Selain itu, penting juga untuk memahami bahwa hidup bukanlah perlombaan. Kita sering merasa harus cepat karena melihat orang lain sudah lebih dulu sampai. Padahal, garis start dan garis finish setiap orang berbeda beda. Membandingkan diri hanya akan membuat perjalanan terasa lebih berat.

Dalam penelitian tentang kesejahteraan psikologis juga menunjukkan bahwa perasaan tertekan sering muncul bukan karena kita benar-benar gagal, tapi karena kita merasa tertinggal dari standar sosial yang tidak realistis. Salah satu laporan dari American Psychological Association menyoroti bahwa tekanan sosial dan perbandingan diri menjadi faktor besar dalam kecemasan anak muda di era modern.

Jadi, jika hari ini kamu merasa bingung, ragu, atau tidak tahu harus ke mana, coba lihat dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin kamu tidak tersesat, hanya sedang dalam perjalanan. Perjalanan yang memang belum sampai tujuan, dan itu tidak apa-apa.

Karena setiap langkah yang kamu ambil hari ini, sekecil apa pun, tetap membawa kamu lebih dekat ke tempat yang seharusnya. Bahkan ketika kamu merasa tidak maju, sebenarnya kamu sedang belajar sesuatu yang akan berguna nanti.

Hidup tidak selalu memberi peta yang jelas. Kadang kita hanya diberi langkah pertama, lalu diminta berjalan. Seiring waktu, jalan itu akan mulai terlihat.

Jadi tidak perlu menunggu semuanya jelas baru bergerak. Bergeraklah, meski belum sepenuhnya yakin. Cobalah, meski belum tahu hasilnya. Jalani, meski belum paham arahnya. Karena pada akhirnya, kamu akan sampai, Bukan karena kamu langsung tahu jalannya, tapi karena kamu tidak berhenti berjalan, dan saat kamu menoleh ke belakang nanti, kamu akan sadar.. semua kebingungan itu bukan tanda kamu tersesat. Tapi bagian dari perjalanan panjang untuk sampai. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search