Fathan Faris Saputro Bongkar Rahasia Artikel Opini Berkualitas di SMP Muhammadiyah 1 Babat

www.majelistabligh.id -

SMP Muhammadiyah 1 Babat menggelar Workshop Literasi Menulis Artikel Opini bagi para murid, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Fathan Faris Saputro, M.Pd., sebagai narasumber.

Dalam kegiatan tersebut, Faris membekali para murid dengan teknik menyusun artikel opini yang sistematis, argumentatif, dan relevan dengan persoalan yang berkembang di masyarakat. Menurut Faris, artikel opini bukan sekadar menyampaikan pendapat pribadi. Sebuah opini harus lahir dari fenomena aktual, didukung data yang kuat, serta mampu menawarkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Tulisan opini atau artikel ilmiah populer perlu disusun dengan komposisi yang jelas. Paragraf pembuka menjadi penentu apakah pembaca akan melanjutkan membaca. Gagasan harus fokus, didukung sumber, serta diarahkan pada solusi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, artikel opini yang baik terdiri atas empat bagian utama, yakni pembukaan, jembatan, isi, dan penutup. Keempat bagian tersebut harus saling berkaitan agar pembaca mudah mengikuti alur tulisan.

“Kalau pembuka sudah menarik tetapi tidak mampu mengantar ke gagasan utama, pembaca akan kehilangan arah. Karena itu, jembatan menjadi bagian penting sebelum masuk ke isi pembahasan,” jelasnya.

Tujuh Kunci Artikel Opini Berkualitas

Selain menjelaskan struktur tulisan, Faris juga mengungkapkan tujuh aspek yang menentukan kualitas artikel opini. Ketujuh aspek tersebut meliputi momentum, kebaruan, originalitas, kredibilitas sumber, sifat solutif, gaya penulisan, dan ukuran tulisan.

Menurutnya, media massa cenderung memilih artikel yang mengangkat isu-isu yang sedang menjadi perhatian publik. “Opini lahir sebagai respons atas sebuah peristiwa. Karena itu, penulis harus peka terhadap momentum. Ketika momentum sudah lewat, biasanya daya tarik tulisan juga ikut menurun,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan sudut pandang baru dalam sebuah tulisan. “Kebaruan tidak selalu berarti membahas peristiwa yang baru terjadi. Bisa saja isunya sama, tetapi cara kita melihat dan menawarkan solusi harus berbeda. Di situlah letak originalitas seorang penulis,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Faris mengingatkan agar para murid tidak membangun argumentasi berdasarkan asumsi semata. Menurutnya, opini yang baik harus didukung data, teori, maupun pendapat para ahli.

“Referensi bukan sekadar pelengkap. Kehadirannya membuat pembaca percaya bahwa gagasan yang kita sampaikan memiliki dasar yang jelas,” ungkapnya.

Tak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa tulisan opini harus mampu memberikan solusi atas persoalan yang dibahas. “Jangan membuat pembaca selesai membaca justru semakin bingung. Tugas penulis adalah menguraikan persoalan sekaligus menawarkan solusi yang realistis,” tegas Faris.

Berawal dari Banyak Membaca

Pada sesi berikutnya, Faris membagikan sejumlah kiat agar artikel memiliki peluang lebih besar dimuat di media massa. Salah satunya adalah memperbanyak membaca. “Penulis yang baik lahir dari pembaca yang baik. Semakin banyak membaca, semakin kaya sudut pandang yang dimiliki. Namun, kualitas tulisan tetap menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.

Workshop berlangsung interaktif saat para murid diajak mempraktikkan cara menemukan ide tulisan. Faris memperkenalkan rumus sederhana untuk mencari ide artikel. “Kalau bingung mencari ide, gunakan rumus sederhana: ide sama dengan isu aktual ditambah sudut pandang baru, lalu ditutup dengan solusi. Dengan cara itu, kita tidak akan kehabisan bahan untuk menulis,” jelasnya.

Sebagai contoh, ia mengangkat fenomena penggunaan gawai di kalangan pelajar. Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup diselesaikan dengan larangan. “Masalahnya bukan pada gawainya, tetapi bagaimana pelajar diajarkan menggunakannya secara bertanggung jawab. Sekolah perlu menghadirkan literasi digital, bukan hanya menyita gawai,” katanya.

Menutup kegiatan, Faris mengajak para murid untuk berani memulai menulis sejak dini. Menurutnya, kemampuan menulis lahir dari proses belajar dan latihan yang berkelanjutan. “Menulis bukan tentang siapa yang paling hebat memainkan kata. Menulis adalah keberanian untuk memulai, ketekunan untuk berlatih, dan kerendahan hati untuk terus memperbaiki diri,” pesannya.

Workshop literasi tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya penulis-penulis muda di SMP Muhammadiyah 1 Babat yang mampu menyampaikan gagasan secara kritis, argumentatif, serta memberi manfaat bagi masyarakat. (Bilal)

Tinggalkan Balasan

Search