Berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI Tahun Ajaran 2026-2027 dimulai tanggal 13 Juli 2026. Bagi murid kelas I SD, VII SMP, dan X SMA/SMK kegiatan pengalaman belajar diawali dengan MPLS Ramah (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah).
Tujuan penyelenggaraan MPLS Ramah bagi murid baru berdasarkan Permendikdasmen Nomor 12 tahun 2026 adalah menciptakan masa transisi yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi murid baru. Kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan karakter positif, serta menggali potensi, bakat, dan minat murid sejak dini (https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/mplsramah/).
Bagi murid baru berstatus santri yang tinggal di asrama atau pondok pesantren (boarding school) kegiatan MPLS Ramah menjadi bidang garapan serius dan inovatif sehingga murid/santri baru betah dan kerasan tinggal di asrama. Karena tantangan yang dihadapi murid atau santri baru kelas VII dan X sangat kompleks, seperti; tantangan psikologis, biologis, lingkungan, dan budaya.
Salah satu tantangan berat yang dihadapi santri baru adalah berkaitan faktor lingkungan, yaitu adanya fenomena “Bediding”. Fenomena ini biasaya terjadi di bulan Juli sampai dengan bulan September setiap tahun, puncak terjadinya Bediding di bulan Juli dan Agustus. Fenomena Bediding biasanya terjadi bersamaan dengan awal kalender tahun ajaran baru.
Fenomena Bediding di Wilayah Indonesia
Istilah Bediding bukan merupakan bagian dari salah satu musim di Indonesai, tetapi fenomena ini kerap terap terjadi terutama dilan Juli hingga Agustus. Berdasarkan analisis BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, fenomena Bediding bukanlah cuaca ekstrem, tetapi proses alamiah yang rutin terjadi pada puncak musim kemarau.
Karakteristik utama dari siklus Bediding adalah perbedaan suhu yang mencolok, udara di waktu malam terasa sangat dingin dari biasanya, seperti menusuk tulang hingga pagi hari. Namun suhu di siang hari terasa sangat panas dan terik, serta menyengat karena proses radiasi matahari langsung memanaskaan bumi tanpa penghalang awan.
Tidak hanya terik dan panas di siang hari, terkadang hembusan angin teras panas dengan menerbangkan debu dan daun-daun yang berguguran di musim kemarau. Dampaknya terhadap tubuh sangat terasa tidak nyaman, seperti; kulit menjadi kering, bibir menjadi pecah-pecah (sariawan), dan gatal-gatal di bagian badan yang mengidap alergi.
Bediding umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian Selatan garis khatulistiwa, seperti; di pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Fenomena Bediding terasa di daerah tersebut, apalagi di dataran tinggi atau lereng pengunungan sangat terasa, seperti; dataran Dieng (Jawa Tengah), lereng Bromo dan kawasan Malang Raya (Jawa Timur).
Bediding; Tantangan Santri Baru dan Cara Menghadapi
Bediding bukan merupakan bagian musim di Indonesia, juga bukan anomali iklim atau dampak perubahan iklim global yang terjadi saat ini, tetapi sebuah fenomena yang terjadi setiap tahun di musim kemarau pada bulan Juli sampai dengan bulan Agustus. Belakangan terjadinya tidak menentu, seperti di tahun 2026 terjadinya di bulan Juni atau lebih awal dari biasanya.
Fenomena Bediding terjadi setiap tahun bersamaan dengan awal kegiatan pengalaman belajar murid dan santri yang tinggal di pesantren sehingga dapat berdampak terhadap ketahanan santri. Rangkaian perjuangan berat santri di awal masuk, seperti; berpisah dengan keluarga, beradaptasi dengan lingkungan baru, dan rela meninggalkan smartphone yang melekat di tangannya. Selain itu, santri harus menghadapi fenomena Bediding.
Pada saat Bediding, suhu yang mencolok dan udara di malam terasa sangat dingin hingga sampai ke sumsun tulang yang dapat berakibat pada daya tahan tubuh santri. Fenomena Bediding menjadi tantangan dan ujian bagi santri baru yang tergolong masih usia anak, maka wali santri, pengasuh, dan pembina pesantren harus mencari solusi cara melindungi cuadan dan udara dingin.
Wali santri setidaknya menyiapkan perlengkapan pakaian atau selimut yang tepat untuk malam dan pagi hari, menyiapkan suplemen dan vitamin sesuai dengan kebutuhan untuk ketahan fisik. Bidang kepengasuhan asrama atau pembina harus mampu mengatur pola tidur dan istirahat yang cukup, karena kebiasaan di pesantren bangunnya sebelum adzan Subuh, serta istiqamah dalam memberikan motivasi kepada santri baru.
Tip di atas merupakan bagian dari usaha, tentu saja ada cara dan teknik lain yang dapat dikembangkan oleh pengelola pesantren, agar santri lulus melewati fenomena Bediding dan tetap bertahan di pesantren hingga lulus. (*)
