Fenomena Makar dalam Perspektif Al-Qur’an

Fenomena Makar dalam Perspektif Al-Qur’an
www.majelistabligh.id -

Kajian Ahad Pagi di Masjid At Taqwa, Sumbergedong, Trenggalek, menghadirkan suasana yang mendalam tatkala Al-Ustaz Drs. Wicaksono, M.Pd.I., mengupas tema aktual mengenai Warta Al-Qur’an tentang Makar berdasarkan Tafsir Surah Al-Anfal ayat 29–33, Ahad (8/11/2026).

Di tengah berbagai dinamika sosial dan berita hangat nasional akhir-akhir ini, pengajian bakda Subuh ini mengajak jemaah untuk melihat fenomena makar dan rencana jahat secara bijak melalui kacamata ilahiah.

Ustaz Wicaksono membuka kajian dengan memaparkan bahwa kata makar dan berbagai bentuk derivasinya—seperti makaru, makarna, hingga yamkuru—ternyata disebut dalam Al-Qur’an di sekitar 30 tempat yang tersebar di berbagai surah.

“Istilah ini secara bahasa merujuk pada perbuatan yang tersembunyi, muslihat, atau perencanaan dengan kecenderungan tidak baik,” kata Ustaz Wicaksono di hadapan para jemaah.

Beliau mengingatkan bahwa praktik makar bukanlah hal baru di muka bumi. Perilaku ini sejatinya telah dicontohkan oleh setan ketika menggoda Nabi Adam as dan Siti Hawa di surga.

Melalui bujuk rayu yang manis, sumpah palsu, serta penampilan yang memukau, setan membisikkan tipu daya agar Nabi Adam melanggar larangan Allah. Peristiwa tersebut menjadi cikal bakal sejarah makar pertama yang berdampak pada kehidupan manusia.

Ancaman dan Pertolongan Allah

Lebih lanjut, beliau mengarahkan perhatian jemaah pada Surah Al-Anfal ayat 30 yang merekam bagaimana orang-orang kafir Quraisy dahulu merancang makar besar terhadap Nabi Muhammad saw.

Menjelang hijrah ke Madinah, kaum musyrikin merundingkan strategi untuk menangkap hidup-hidup, mengusir, atau membunuh Nabi agar dakwah Islam tidak berkembang.

Namun, rencana manusia dipatahkan oleh kebesaran Allah Swt melalui wahyu yang membocorkan rencana tersebut (bocor halus ala ilahi), sekaligus memberikan izin kepada Rasulullah untuk segera hijrah. Ayat ini ditutup dengan kalimat agung: Wallahu khairul makirin (Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana).

Dalam konteks kebangsaan, Ustaz Wicaksono mengaitkan fenomena ini dengan berbagai riuhnya pemberitaan nasional mutakhir saat ini. “Sebagai kawulo alit (masyarakat kecil), agar tidak mudah panik, reaktif, atau terprovokasi oleh dinamika politik tingkat tinggi,” jelasnya.

Solusi Spiritual dan Peran Umat

Sebagai penutup kajian yang berlangsung khidmat itu, beliau menekankan pentingnya menjaga ketakwaan, menegakkan salat berjamaah di masjid, serta merawat amanah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, kedisiplinan umat Islam dalam menjalankan ibadah dan menjaga moralitas agama merupakan fondasi spiritual—bahkan diibaratkan sebagai “penjaga” keselamatan kehidupan berbangsa dan bernegara—sehingga bangsa ini senantiasa dilindungi oleh pertolongan Allah dari segala bentuk persekongkolan dan niat buruk.

Kajian ditutup dengan doa bersama agar seluruh elemen masyarakat, para pemangku kebijakan, serta warga bangsa senantiasa diberikan kedamaian, solusi terbaik atas setiap persoalan, serta bimbingan untuk terus berada di jalan yang diridai Allah Swt.|| chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search