Seremoni kegiatan yang bernuansa relegius dalam pergantian tahun baru Hijriyah 1448 sampai saat ini masih terasa. Upacara pergantian tahun baru dalam Islam tidak hanya sekedar ritual biasa, tetapi mengandung nuansa relegius dan banyak hikmah yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam kehidupan. Setidaknya, ada 3 aspek yang perlu dipelajari dalam memahami “hijrah”.
Pertama, kata “hijrah” berasal dari bahasa Arab, dalam ilmu shorof (morfologi bahasa Arab) berasal dari akar kata “hajara-yahjuru-hijratan”, secara harfiyah memiliki makna meninggalkan, menjauhkan diri, memutuskan, atau berpindah (migrasi).
Kedua, hijrah berdasakan makna kontekstual adalah berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya), (https://kbbi.web.id/hijrah).
Ketiga, hijrah dalam perspektif historis. Pemahaman hijrah berdasarkan peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya dari Mekah menuju Yasrib (Madinah) yang terjadi pada tahun 622. Perjalanan ini dilakukan untuk menghindari tekanan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy Makkah. Peristiwa hijrah menjadi titik awal Nabi Muhammad SAW dalam mengembangkan dakwah Islam lebih luas dan membangun pusat peradaban.
Perintah berhijrah sebagai makna secara bahasa dan istilah termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Bagi orang-orang yang beriman yang malakukan hijrah karena semata-mata Allah dan Rasul-Nya, maka Allah akan memberikan balasan yang setimpal dan layak. Baik balasan di dunia, maupun balasan di akhirat.
Fondasi Utama dalam Berhijrah
Terkadang orang lupa niat dalam melakukan hijrah (migrasi) sehingga dalam prosesnya menjadi salah arah atau tujuannya tidak sukses dan gagal. Misalnya hijrah secara fisik (tempat) atau keadaan; berupa urbanisasi, transmigrasi, dan imigrasi dengan tujuan untuk perbaikan perekonomian, keilmuan, status sosial, atau tujuan lainnya.
Termasuk hijrah secara sifat atau perbuatan yang berkeinginan lebih baik taat beribadah dan mengubah pola perilaku (akhlak) yang terpuji. Tetapi hijrahnya bertujuan ingin dilihat orang lain agar dipuji (riya’) dan menceritakan atau memperdengarkan amal perbuatannya kepada orang lain agar selalu dipuji (sum’ah).
Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap melakukan amalan yang baik wajib diawali dengan niat yang baik. Pekerjaan yang disertai dengan niat atas perintah Allah SWT dan rasul-Nya, maka akan memperoleh kebaikan di dunia dan pahala di akhirat. Apabila seseorang melakukan pekerjaan hanya untuk dunia semata, maka di akhirat tidak memperoleh pahala sebagaimana yang dijanjikan Allah.
Khusus perihal niat, Rasulullah mengingatkan dalam hadits riwayat Bukhari Muslim sebagaimana yang disampaikan Umar bin Khattab:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ. (متفق عليه)
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka fondasi utama dalam melakukan amal kebajikan adalah niatnya karena Allah akan memberikan kehidupan yang layak di dunia dan derajat mulai di akhirat. Niat bagaikan istilah “two in one”, melakukan hijrah (amal perbuatan) kerena Allah, maka dua balasan yang diperoleh di dunia dan di akhirat.
Jaminan Orang Bagi yang Berhijrah
Orang yang melakukan migrasi (hijrah) dengan niat semata-mata karena beribadah kepada Allah, seperti; mahasiswa, murid atau santri yang menuntut ilmu untuk meningkat kualitas kehidupan dunia atau sesorang yang bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain tujuan di dunia, migrasinya juga sebagai bekal terbaik menuju akhirat.
Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya tentang orang-orang yang berhijrah atas agaama, maka akan diberikan balasan pahala yang terbaik di dunia dan di akhirat. Berikut janji Allah bagi orang-orang beriman yang berhijrah dengan niat suci:
1. Allah akan memberikan tempat hijrah di muka bumi ini dan rezeki yang banyak, serta memberikan pahala terbaik bagi orang yang berhijrah, kemudian mengalami kematian sebelum sampai ke tempat tujuan (QS. an-Nisa’: 100);
2. Allah akan memberikan derajat lebih tinggi di sisi-Nya dan memberikan kemenangan atau keuntungan (QS. at-Taubah: 20);
3. Mendapatkan rahmat dari Allah SWT dan ampunan secara sempurna (QS. al-Baqarah: 218);
4. Allah akan menghapus kesalahan, memberikan pahala terbaik, dan memasukkan ke dalam surga-Nya (QS. Ali Imran: 195);
5. Allah akan memberikan tempat yang baik di dunia dan pahala lebih besar di akhirat (QS. an-Nahl: 41);
6. Allah akan memberikan rezeki yang baik (surga), walaupun mereka terbunuh atau mati (QS. Al-Hajj: 58).
