Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyambangi jajaran pimpinan Agung Sedayu Group (ASG) di Menara Syariah, kawasan PIK 2, Banten, Selasa (18/8/2026).
Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat gerakan dakwah di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), sekaligus menjajaki potensi kolaborasi pengembangan ekonomi syariah.
Rombongan Muhammadiyah dihadiri oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.Si., Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin, Bendahara LDK PP Muhammadiyah Kamarul Zaman, serta Kepala Kantor Sekretariat PP Muhammadiyah Jakarta Hefinal Chairan.
Silaturahmi tersebut disambut langsung oleh Presiden Direktur Agung Sedayu Group Letnan Jenderal TNI Marinir (Purn.) Dr. H. Nono Sampono, M.Si., bersama Komisaris Utama Menara Syariah Harianto Solichin.
Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin menegaskan bahwa dakwah di kawasan 3T memiliki kompleksitas tersendiri dibandingkan wilayah perkotaan. Keterbatasan akses transportasi, sarana komunikasi, hingga tantangan sosial-ekonomi menuntut pendekatan yang tidak sekadar berbasis ceramah keagamaan.
“Dakwah di daerah 3T tidak cukup hanya dengan mengirim dai. Yang sangat penting adalah bagaimana para dai mendapatkan dukungan, sarana, dan ekosistem yang memungkinkan program dakwah berjalan secara berkelanjutan,” ujar Arifin.
Ia menambahkan, dai di kawasan 3T dituntut berperan aktif sebagai penggerak pemberdayaan masyarakat. Selain membina kehidupan keagamaan dan pendidikan, dai harus mampu memetakan persoalan warga serta mendorong kemandirian ekonomi lokal. Oleh karena itu, Muhammadiyah memandang penting keterlibatan lintas sektor—mulai dari pemerintah, lembaga filantropi, perguruan tinggi, hingga dunia usaha.
Dalam konteks tersebut, Menara Syariah PIK 2 dinilai menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan pembinaan umat dengan perspektif industri dan ekonomi syariah. Pengalaman dunia usaha dalam tata kelola sumber daya dan pengembangan ekosistem ekonomi dapat memperkaya program pemberdayaan yang digagas Muhammadiyah.
Muhammadiyah menegaskan bahwa penyelesaian tantangan di daerah terluar tidak bisa dilakukan secara tunggal. Sinergi antara gerakan dakwah dan sektor swasta diharapkan mampu menghadirkan sistem pendukung yang lebih terstruktur bagi para dai.
Melalui silaturahmi ini, kolaborasi antara Muhammadiyah dan dunia usaha diharapkan terus terbuka luas guna melahirkan dai yang tangguh, program terukur, serta dampak nyata bagi kemajuan masyarakat di penjuru negeri. (*/tim)
