Gempa Flores, 1.378 Sekolah Terdampak

Wamendikdasmen Atip Latipulhayat saat meninjau lokasi terdampak di NTT. (ist)
www.majelistabligh.id -

Gempa bumi yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak 15 Agustus 2026 berdampak serius pada sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak, dengan 116.324 murid kini terpaksa menghentikan aktivitas belajar tatap muka reguler demi keselamatan jiwa.

Mengikuti kebijakan Pemerintah Provinsi NTT, proses belajar-mengajar dialihkan secara fleksibel ke rumah masing-masing maupun lokasi pengungsian. Langkah antisipatif ini diambil mengingat gempa susulan masih terus terjadi dan merusak ribuan bangunan sekolah.

Berdasarkan data Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (Seknas SPAB) per 20 Agustus 2026, sebanyak 1.268 sekolah (92 persen) telah mengonfirmasi kondisi lapangan. Kerusakan meluas di tujuh kabupaten yang memayungi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

Secara keseluruhan, dari 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 ruang kelas (63,7 persen) mengalami kerusakan, dengan 2.229 di antaranya rusak berat hingga hancur total. Kerusakan mendasar juga menimpa laboratorium, perpustakaan, sarana sanitasi, serta rumah dinas guru. Secara total, ada 502 sekolah yang dikategorikan mengalami kerusakan berat.

Di tengah situasi krisis ini, duka mendalam disuarakan atas gugurnya 72 korban jiwa dalam bencana tersebut, yang di dalamnya termasuk tiga orang murid dan seorang guru. Gempa juga meratakan puluhan ribu rumah warga serta memaksa lebih dari 80 ribu jiwa mengungsi, di mana sekitar 38 ribu di antaranya merupakan warga sekolah.

“Dalam situasi bencana, keselamatan dan keberlanjutan pendidikan anak harus menjadi perhatian bersama. Kemendikdasmen terus bergerak bersama pemerintah daerah dan seluruh mitra untuk memastikan anak-anak tetap mendapatkan layanan pendidikan, meskipun dalam kondisi darurat,” tegas Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, saat meninjau lokasi terdampak di NTT, Jumat (21/8/2026).

“Kita ingin memastikan bahwa keterbatasan akibat bencana tidak menghentikan hak anak untuk belajar dan mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan,” lanjutnya.

Pola Pembelajaran Flexibel dan Distribusi Tenda Darurat

Dari data laporan pembelajaran yang masuk, skema kegiatan belajar terbagi dalam beberapa moda: 923 sekolah menerapkan sistem belajar dari rumah (BDR), 171 sekolah menggelar pembelajaran daring, 35 sekolah mendirikan kelas darurat, dan hanya 30 sekolah yang masih dapat menggelar tatap muka terbatas.

Sejak 16 Agustus 2026, tim Kemendikdasmen telah diterjunkan mulai dari Labuan Bajo hingga menyisir wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Nagekeo, dan Sikka. Bantuan tahap awal yang disalurkan meliputi 4.500 bingkisan anak, paket sembako, 800 school kit, serta 400 family kit.

Untuk mengatasi kehancuran fisik bangunan, Kemendikdasmen mulai mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat yang ditargetkan mulai beroperasi pada pekan depan. Selain itu, menyulut kerja sama dengan Himpunan Psikologi, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), serta konsorsium perguruan tinggi, aksi pendampingan psikososial (trauma healing) bagi guru dan murid langsung dijalankan di posko-posko pengungsian. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search