GENIUS 2026 Buktikan Masjid Bisa Jadi Ruang Tumbuh Generasi Masa Depan

 GENIUS 2026, Buktikan Masjid,  Ruang Tumbuh, Generasi Masa Depan, 
*) Oleh : Bayu Firdaus
Sekretaris Takmir Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Bagaimana jika anak-anak justru merasa paling nyaman ketika berada di dalam masjid? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian pengurus masjid, kehadiran anak-anak yang berlarian, bermain, dan tertawa di area masjid masih kerap dianggap sebagai gangguan.

Padahal, jika masjid ingin melahirkan generasi penerus, bukankah anak-anak seharusnya dikenalkan kepada masjid sejak mereka masih kecil?

Pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo, melalui berbagai kegiatan yang menghadirkan anak-anak sebagai bagian dari kehidupan masjid. Salah satunya melalui GENIUS 2026, kegiatan perlombaan anak yang diselenggarakan oleh Giat Anak Masjid Ar-Royyan (GAMA).

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Ahad (30/8/2026), di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo. GENIUS (Generasi Islam Unggul dan Santun) 2026 diikuti oleh puluhan peserta yang datang dari sejumlah kota.

Sejak pagi, sekitar pukul 07.30 WIB, peserta bersama orang tua mulai berdatangan dan memadati area Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran. Suasana masjid yang biasanya identik dengan aktivitas ibadah pagi itu berubah menjadi lebih semarak dengan kehadiran anak-anak.

Sebelum kegiatan dimulai, para peserta melakukan registrasi ulang dengan didampingi orang tua masing-masing. Namun, suasana pagi itu tidak hanya dipenuhi aktivitas registrasi. Anak-anak juga terlihat bermain dan berinteraksi bersama teman-temannya.

Menariknya, bermain di area masjid bukan sesuatu yang dianggap sebagai masalah. Masjid Ar-Royyan memang menyediakan playground khusus anak, sehingga peserta dapat mengisi waktu sambil menunggu perlombaan dimulai.

GENIUS 2026 sendiri merupakan kegiatan perlombaan yang menghadirkan sejumlah kategori untuk anak-anak, mulai dari lomba mewarnai, tahfidz, baca puisi, hingga storytelling.

Perlombaan dimulai pukul 08.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 11.30 WIB. Suasana kompetisi berlangsung meriah, tetapi tetap dalam nuansa edukatif dan kekeluargaan.

Orang Tua Merasa Lebih Nyaman
Kehadiran anak-anak di masjid ternyata mendapatkan respons positif dari para orang tua. Salah satunya Yunia Rahma, wali murid yang hadir mengantarkan putrinya mengikuti GENIUS 2026.

Yunia mengaku senang dengan adanya kegiatan anak yang diselenggarakan di lingkungan masjid. Informasi mengenai kegiatan tersebut juga ia dapatkan melalui media sosial Masjid Ar-Royyan.

“Saya mengetahui kegiatan ini dari Instagram @masjidarroyyan.id dan saya mendaftarkan dua anak saya sekaligus untuk mengikuti kegiatan ini,” ujar Yunia.

Menurutnya, sebagai orang tua, ia merasa lebih nyaman ketika kegiatan anak-anak difasilitasi oleh masjid.

“Sebagai orang tua, saya pribadi lebih merasa nyaman dan aman jika kegiatan anak-anak itu difasilitasi atau diadakan oleh masjid,” katanya.

Ketertarikannya terhadap kegiatan anak di Masjid Ar-Royyan sebenarnya sudah muncul sejak putrinya mengikuti kegiatan Kids Traveller.

Anaknya, kata Yunia, merasa senang mengikuti kegiatan tersebut. Sejak saat itu, ia memilih untuk terus memantau media sosial Masjid Ar-Royyan agar tidak tertinggal informasi mengenai kegiatan anak berikutnya.

Datang Karena Penasaran, Pulang Membawa Kesan
Cerita berbeda disampaikan Heni, salah satu orang tua peserta yang datang dari Surabaya. Ia mengaku awalnya hanya ingin mencoba mengikuti kegiatan di Masjid Ar-Royyan setelah mendapatkan informasi dari seorang teman.

“Saya mengetahui informasi ini dari teman. Saya juga sudah tahu kalau masjid ini viral karena pelayanan musafirnya, makanya saya ingin mencoba datang langsung dan mengikuti kegiatannya,” ungkapnya.

Namun, setelah datang secara langsung, Heni mengaku menemukan suasana yang berbeda dibandingkan dengan pengalaman yang selama ini ia lihat di sejumlah masjid.

Menurutnya, masih ada masjid yang memberikan batasan cukup ketat terhadap aktivitas anak-anak. Bahkan, anak yang bermain di area masjid terkadang justru mendapatkan teguran.

“Ternyata auranya memang beda. Di beberapa masjid, pengurus takmir sering khawatir dan bahkan melarang jika anak-anak bermain di dalam masjid. Namun, di sini saya merasa hal itu tidak ada,” tuturnya.

Ia melihat sejumlah hal yang menurutnya menunjukkan komitmen Masjid Ar-Royyan dalam menciptakan lingkungan yang ramah terhadap anak.

Mulai dari adanya tulisan “Dilarang Memarahi Anak”, zona playground, hingga sikap pengurus ketika melihat anak-anak bermain di area utama masjid.

“Saya memperhatikan anak-anak kecil bermain di area utama masjid dan pengurusnya cukup diam, bahkan ikut tertawa membersamai anak-anak kami,” kata Heni.

Bagi Heni, pengalaman tersebut memberikan kesan tersendiri. Masjid tidak hanya menjadi tempat untuk menjalankan ibadah, tetapi juga menjadi ruang sosial yang membuat anak-anak merasa diterima.

Masjid Harus Menjadi Ruang Terbuka
Pandangan tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Aisyah Noor Milla, Divisi Acara GENIUS 2026 sekaligus anggota Departemen Muslimah Takmir Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.

Aisyah membenarkan bahwa konsep kegiatan anak yang dilakukan di Masjid Ar-Royyan memang tidak terlepas dari keinginan untuk menghadirkan wajah masjid yang lebih terbuka.

“Memang masjid ini ingin menampakkan bahwa masjid harus menjadi ruang terbuka yang aman dan nyaman untuk siapa pun. Bukan hanya untuk orang tua dan untuk beribadah saja,” jelas Aisyah.

Menurutnya, anak-anak juga memiliki hak untuk mengenal masjid sejak usia dini. Karena itu, menciptakan suasana masjid yang ramah terhadap anak menjadi bagian penting dari upaya tersebut.

“Anak kecil juga memiliki hak untuk mengenal masjid sedari dini. Untuk itu kami berusaha untuk menciptakan suasana masjid yang ramah anak,” ujarnya.

Apa yang dilakukan Masjid Ar-Royyan menunjukkan bahwa membangun kedekatan anak dengan masjid tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah atau kegiatan ibadah formal. Perlombaan, bermain, berkumpul, belajar, dan berinteraksi juga dapat menjadi pintu masuk bagi anak untuk mengenal masjid.

Pada akhirnya, anak yang merasa diterima di masjid hari ini berpotensi menjadi generasi yang tidak asing dengan masjid di masa depan.

Mungkin sudah waktunya para pengurus masjid membuka kembali cara pandang kita: jangan hanya bertanya apakah anak-anak bisa tenang di masjid, tetapi tanyakan juga apakah masjid sudah cukup nyaman bagi anak-anak. Sebab, jika hari ini kita mengusir suara tawa mereka karena dianggap mengganggu, jangan heran jika kelak ketika dewasa mereka justru merasa masjid bukan lagi rumah mereka.

Masjid yang ramah anak bukan berarti masjid kehilangan kesakralannya. Justru dari ruang yang terbuka, aman, dan penuh kasih itulah kecintaan kepada masjid dapat tumbuh sejak dini. Karena generasi penerus masjid tidak lahir begitu saja—mereka harus diperkenalkan, diterima, dan diberi ruang untuk tumbuh di dalamnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search