Haedar Nashir: Kekuatan Muhammadiyah Bertumpu pada Sistem dan Kohesivitas

www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. KH. Haedar Nashir, M.Si., menegaskan pentingnya kohesivitas atau kekuatan ikatan antar anggota dalam menjaga keutuhan organisasi dan umat. Hal itu ia sampaikan dalam ceramah pada kegiatan Halalbihalal Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Sabtu (18/4/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 500 peserta. Mereka terdiri dari unsur Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur, direktur rumah sakit Muhammadiyah, rektor perguruan tinggi Muhammadiyah, serta majelis dan lembaga tingkat wilayah.

Dalam ceramahnya, Haedar Nashir menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi yang unggul dalam sistem kelembagaan. Ia menilai tidak sedikit pihak ingin meniru model tersebut, tetapi tidak mudah diterapkan.

“Tradisi Muhammadiyah adalah tradisi sistem. Sementara banyak organisasi lain masih menggunakan pola federasi atau bahkan franchise, sehingga sulit mencapai kekuatan yang sama,” ujarnya.

Namun demikian, Haedar menekankan bahwa keunggulan sistem saja tidak cukup. Ia menilai Muhammadiyah dan umat Islam secara umum masih membutuhkan penguatan kohesivitas.

Menurutnya, kohesivitas menjadi kunci penting di tengah kehidupan umat, bangsa, bahkan dalam konteks global. Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya silaturahmi sebagai jalan melapangkan rezeki dan memperpanjang jejak kebaikan.

Selain itu, ia juga mengingatkan ancaman bagi mereka yang memutus silaturahmi. Dalam hadis lain disebutkan bahwa orang yang memutus hubungan tidak akan masuk surga.

Haedar menjelaskan bahwa hakikat silaturahmi bukan sekadar menjaga hubungan yang sudah baik, melainkan menyambung kembali hubungan yang telah terputus. Menurutnya, hal ini tidak mudah karena manusia cenderung memiliki sifat individualis dan ego yang tinggi.

“Konflik seringkali dipicu hal-hal kecil, tetapi menjadi besar karena ego. Yang benar sulit memaafkan, yang salah enggan meminta maaf,” katanya.

Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut diperlukan transformasi ruhani agar seseorang mampu menekan ego demi keutuhan hubungan. Haedar menilai ajaran Islam tidak hanya bersifat konstruktif, tetapi juga dekonstruktif untuk membangun kesadaran spiritual yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, ia menyinggung batasan konflik dalam rumah tangga sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW, yakni tidak lebih dari tiga hari. Menurutnya, batas tersebut bertujuan memberi ruang meredakan emosi, bukan memperpanjang pertikaian.

“Kuncinya ada pada hati. Kita harus siap mengalah saat benar dan mudah memaafkan saat salah,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi saat terjadi konflik. Jika satu pihak meninggikan suara, pihak lain sebaiknya merespons dengan sikap tenang untuk meredam ketegangan.

Dalam konteks umat Islam, Haedar menilai tantangan terbesar bukan pada perbedaan pandangan, melainkan pada sikap saling menghakimi. Ia menyebut praktik seperti pemvonisan, penyesatan, dan pengharaman sebagai ujian nyata ukhuwah Islamiyah.

“Retorika ukhuwah kita kuat. Tapi ujian sesungguhnya pada saat kita berbeda,” tegasnya.

Haedar menambahkan, Muhammadiyah sejauh ini telah memiliki sistem yang baik dalam mengelola perbedaan. Namun, ia mengingatkan pentingnya terus menjaga semangat islah atau rekonsiliasi demi memperkuat persatuan umat. (Nidlom)

Editor : Afifun Nidlom M.Pd. M.H.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Search