Tauhid merupakan inti ajaran Islam dan fondasi utama kehidupan seorang Muslim. Tauhid tidak sekadar berarti mengakui bahwa Allah adalah Tuhan, tetapi mengesakan Allah dalam seluruh bentuk ibadah dan tidak memberikan hak penghambaan kepada selain-Nya.
Dalam Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menempatkan tauhid sebagai pembahasan pertama karena manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan seluruh rasul diutus dengan misi yang sama, yaitu mengajak manusia kepada tauhid.
Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat untuk menyerukan, ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’” (QS. An-Nahl [16]: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid bukan ajaran yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad saw. Sejak Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Nabi Muhammad saw, seluruh rasul membawa pokok dakwah yang sama: menyembah Allah semata dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Hal ini juga ditegaskan dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 25 bahwa Allah tidak mengutus seorang rasul pun sebelum Nabi Muhammad kecuali mewahyukan bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
Karena itu, hakikat tauhid memiliki dua sisi. Pertama, menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Kedua, menolak segala bentuk penghambaan kepada selain Allah. Inilah makna penting dari seruan “sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” Tauhid tidak cukup hanya dengan pengakuan lisan, tetapi harus diwujudkan dalam keyakinan, ibadah, ketaatan, dan ketergantungan hati.
Tauhid juga memiliki kedudukan paling tinggi karena merupakan hak Allah atas manusia. Allah berfirman, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56).
Dengan demikian, tujuan hidup manusia pada hakikatnya adalah penghambaan kepada Allah. Kehidupan yang tidak dibangun di atas tauhid akan kehilangan orientasi dasarnya.
Dalam kehidupan masyarakat, kemurnian tauhid harus dijaga dari berbagai bentuk kesyirikan. Seorang Muslim boleh menghargai budaya dan tradisi selama tidak bertentangan dengan syariat. Namun, jika suatu tradisi mengandung persembahan kepada selain Allah, meminta kepada penghuni kubur, menggunakan jimat, mendatangi dukun untuk perkara gaib, atau menggantungkan keselamatan kepada benda dan kekuatan selain Allah, maka praktik tersebut harus ditinggalkan. Tauhid tidak boleh dikorbankan demi mempertahankan tradisi.
Tauhid juga harus melahirkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang bertauhid tidak hanya rajin beribadah, tetapi juga jujur dalam berdagang, amanah dalam bekerja, adil dalam memimpin, menghormati orang tua, dan tidak menzalimi sesama. Sebab, ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa hanya Allah yang menjadi tujuan pengabdiannya, seluruh kehidupannya akan diarahkan untuk mencari keridaan-Nya.
Dengan demikian, tauhid adalah misi seluruh rasul, tujuan penciptaan manusia, dan fondasi keselamatan kehidupan dunia dan akhirat. Pesan para rasul sesungguhnya sederhana tetapi sangat mendasar: sembahlah Allah semata dan jauhilah segala bentuk kesyirikan.
Karena itu, menjaga kemurnian tauhid berarti menjaga hak Allah sekaligus menjaga arah hidup manusia agar tetap berada di jalan yang lurus. (*)
