Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diketuai oleh Dr. Ghoffar Ismail, SAg, MA sukses melaksanakan program pendampingan pada Sabtu (25/4/2026). Kegiatan yang dilaksanakan menggunakan pendanaan dari Direktorat Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bersama Pesantren Modern Muhammadiyah Green School (MGS) Yogyakarta merupakan wujud nyata hilirisasi riset mengenai Kurikulum Pendidikan AIK berbasis Risalah Islam Berkemajuan yang diimplementasikan ke dalam struktur sosial masyarakat.
Krisis lingkungan global yang kini bertransformasi menjadi Triple Planetary Crisis—perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati—bukan lagi sekadar isu teknokratis, melainkan tantangan eksistensial yang menuntut respons paradigmatik. Kegiatan ini dipusatkan di Kampung Mancasan, Ambarketawang, Gamping Sleman Yogyakarta, sebuah wilayah penyangga urban yang kini tengah menghadapi degradasi lingkungan hidup yang serius.

Hilirisasi Riset: Dari Disertasi ke Aksi Kemasyarakatan
Kegiatan ini bukanlah sekadar agenda rutin, melainkan bentuk hilirisasi riset yang mendalam. Menurut Ghoffar Ismail, program ini menerjemahkan hasil riset disertasi mengenai kurikulum integratif Bayani, Burhani, dan Irfani (BBI) ke dalam struktur sosial berbasis masjid. Melalui pendekatan ini, MGS berusaha menjembatani kesenjangan tajam antara kesalehan ritual (shaleh ritual) dengan realitas perilaku lingkungan (shaleh ekologis) yang selama ini menjadi persoalan utama di masyarakat.
“Selama ini, pusat edukasi ekologi seringkali terbatas pada lembaga formal. Kami menginisiasi masjid sebagai episentrum perubahan perilaku melalui model Masjid Hijau,” ungkap Ghoffar Ismail.
Pemilihan masjid didasarkan pada posisinya sebagai institusi sosial paling otoritatif yang mampu menyatukan legitimasi moral dan teologis bagi terbentuknya Green Village.
Workshop Edukasi: Membedah Nalar Ekologi Islam
Acara dimulai dengan workshop intensif yang menghadirkan dua pakar lingkungan sebagai narasumber utama. Ananto Isworo, SAg, inisiator Shadaqah Sampah Masjid Al-Muharram, membekali peserta dengan metodologi pengelolaan sampah berbasis komunitas. Ia menekankan pentingnya manajemen persampahan hulu (at-source segregation) guna menghentikan praktik pembakaran sampah plastik di pekarangan masjid yang selama ini mencemari udara.
Selanjutnya, Anisa Putri memberikan penguatan pada aspek agrikultur perkotaan melalui materi pengelolaan lahan hijau. Peserta diajarkan teknik penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang adaptif terhadap keterbatasan lahan, mengubah sudut-sudut masjid yang gersang menjadi area yang estetis dan produktif.
Kegiatan ini melibatkan partisipasi aktif dari seluruh ustadz dan santri MGS, serta pengurus takmir dan jamaah dari empat masjid mitra: Masjid MGS, Masjid Al-Ma’arif, Masjid Al-Furqan, dan Masjid Al-Muqarrabin.
Implementasi Strategis Berbasis BBI
Operasionalisasi program ini dilakukan melalui tiga tahapan strategis yang bersumber dari epistemologi Islam Berkemajuan: Pertama, Rekonstruksi Narasi Dakwah (Bayani): Menguatkan otoritas teks keagamaan melalui penyusunan draf modul “Dakwah Hijau”. Takmir didampingi untuk menyelaraskan materi khutbah dengan nilai-nilai Hifdz al-Biah (Penjagaan Lingkungan) sebagai pilar keenam Maqashid asy-Syariah.
Kedua, Penerapan Sains dan Teknologi (Burhani): Instalasi infrastruktur pengelolaan sampah mandiri berupa pengadaan tempat sampah pilah tiga warna (color-coded bins). Langkah ini dibarengi dengan penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan limbah untuk menjamin keberlanjutan program.
Ketiga, Internalisasi Etika Ekologis (Irfani): Membangun kesadaran batin bahwa merawat alam adalah bentuk kesalehan spiritual dan cinta kepada Sang Pencipta.
Aksi Lapangan: Mewujudkan Embrio Green Village
Puncak kegiatan ditandai dengan aksi fisik di lingkungan masjid. Para santri dan jamaah secara kolaboratif melakukan penanaman minimal 12 jenis tanaman produktif di lahan seluas 10-30 meter persegi. Melalui teknik vertikultur dan potisasi, lahan yang sebelumnya tidak produktif kini bertransformasi menjadi laboratorium alam mini.
Program ini juga berhasil membentuk unit “Relawan Masjid Hijau” yang terdiri dari pemuda masjid sebagai kader penggerak lingkungan di tingkat RT/RW. Keterlibatan aktif ini memastikan bahwa solusi yang ditawarkan tidak berhenti pada seremonial, melainkan berakar kuat dalam kebiasaan harian masyarakat.
Visi Masa Depan
Manfaat utama dari pengabdian ini adalah terciptanya kemandirian masyarakat Mancasan dalam menjaga lingkungan yang asri, bersih, dan produktif. Dengan terwujudnya fasilitas manajemen sampah yang terstandar dan area hijau produktif, MGS telah meletakkan batu pertama bagi terbentuknya komunitas Green Village Mancasan.
Melalui diseminasi hasil pengabdian dalam bentuk video edukasi dan artikel ilmiah, model pendampingan ini diharapkan dapat direplikasi oleh masjid-masjid lain di bawah naungan Muhammadiyah. Inilah esensi dari Risalah Islam Berkemajuan: menghadirkan solusi atas problematika kemanusiaan universal melalui sinergi wahyu, ilmu, dan rasa untuk kemajuan umat dan bangsa. (*/tim)
