Musyawarah Wilayah (Muswil) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Jawa Timur yang digelar di Plaza Airlangga, Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (04/07/2026), menegaskan pentingnya peran strategis cendekiawan Muslim dalam merespons tantangan global. Di tengah disrupsi teknologi, khususnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), ICMI menekankan perlunya membangun peradaban yang tidak hanya berbasis kecerdasan intelektual, tetapi juga berlandaskan integritas dan kekuatan nurani.
Ketua Umum ICMI, Arief Satria, dalam sambutannya menyampaikan bahwa ICMI memiliki mandat besar dalam membangun peradaban melalui penguatan sektor perdagangan dan kontribusi nyata bagi kesejahteraan umat manusia. Ia menegaskan bahwa arah gerakan ICMI harus berorientasi pada nilai-nilai akhirat, sehingga setiap langkah organisasi tidak hanya berdampak secara ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat luas.
Dalam konteks pendidikan, Arief mengkritisi praktik akademik yang cenderung berorientasi pada publikasi jurnal tanpa dampak nyata. Ia menilai, pendidikan seharusnya mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berkontribusi langsung terhadap kemajuan peradaban.
“Jangan sampai karya ilmiah hanya berhenti di perpustakaan tanpa memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya keseimbangan antara akal dan hati. Di era teknologi saat ini, sebagian fungsi berpikir telah banyak dibantu oleh AI, namun hati nurani tetap tidak tergantikan. Ia menjelaskan konsep nurani sebagai kecenderungan pada kebaikan dan zulmani sebagai kecenderungan negatif yang harus dikendalikan, sehingga manusia tetap mampu menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah kemajuan teknologi.
Arief juga menyinggung fenomena global, seperti Piala Dunia, sebagai gambaran perbedaan cara pandang masyarakat. Ia membandingkan bagaimana masyarakat Indonesia di masa lalu cenderung memaknai fenomena secara sederhana, sementara negara seperti Jepang menjadikan media sebagai sarana edukasi. Bahkan, Jepang disebut memiliki pendekatan tersendiri dalam menentukan peran profesional berdasarkan karakter individu.
Isu integritas turut menjadi sorotan utama dalam forum tersebut. Arief menegaskan bahwa integritas harus menjadi prinsip yang dijunjung tinggi oleh kalangan intelektual. Ia menyinggung praktik penggunaan data tidak valid dalam forum internasional yang dapat merusak kredibilitas bangsa. Oleh karena itu, kejujuran dan tanggung jawab ilmiah menjadi fondasi penting dalam setiap aktivitas akademik dan profesional.
Selain itu, ia menekankan pentingnya investasi pada pendidikan usia dini (PAUD) sebagai strategi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia unggul. Menurutnya, pembentukan karakter, keterampilan hidup, dan integritas sejak dini merupakan modal utama dalam mencetak pemimpin masa depan. Nilai adab sebelum ilmu menjadi prinsip dasar yang harus ditanamkan dalam sistem pendidikan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua ICMI Jawa Timur dalam sambutannya menegaskan bahwa intelektual harus berorientasi pada akhirat, menebar manfaat, serta berani meluruskan kezaliman. Kolaborasi dengan dunia akademik dinilai penting untuk menghasilkan inovasi yang berdampak luas bagi masyarakat. Dalam Muswil ini, juga dilakukan proses pemilihan ketua baru, dengan sejumlah nama yang mencuat, di antaranya Pitono Nugroho, Prof Daniel Rosyad, Ulul Albab, Prof Anies, dan Esty. (m roissudin)
