Iduladha dan Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anaknya

Dr. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM. Wakil Ketua PWM Jawa TImur.
*) Oleh : Dr. M. Sholihin Fanani, M.PSDM.
Wakil Ketua PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Umat Islam di seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia, bersiap menyambut datangnya Hari Raya Iduladha 2026. Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi telah mengeluarkan Maklumat bahwa tanggal 10 Zulhijah 1447 H jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026.

Ketetapan ini selaras dengan hasil sidang isbat yang digelar oleh Kementerian Agama RI, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat merayakan momen suci ini dalam kebersamaan dan kekhusyukan.

Iduladha bukan sekadar ritual tahunan tentang penyembelihan hewan kurban. Hari raya ini merupakan momentum refleksi teologis dan historis yang mendalam. Di balik kemeriahannya, ada esensi perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim as. Lantas, apa saja pelajaran penting yang harus kita petik dan implementasikan dalam kehidupan sehari-hari dari perayaan Iduladha tahun ini?

  1. Keluarga sebagai Fondasi Utama Karakter Anak

Pelajaran pertama dan paling mendasar adalah bagaimana Nabi Ibrahim as. mendidik keluarga dan anak-anaknya. Kisah dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sebelum peristiwa penyembelihan mencerminkan pola asuh yang demokratis, penuh kasih sayang, namun tetap tegas dalam prinsip keimanan. Seorang ayah dituntut untuk mampu memberikan landasan moral dan spiritual yang kuat agar anak tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah Swt. sekaligus berbakti kepada orang tuanya.

Rumah adalah madrasah pertama (al-madrasatul ula) bagi seorang anak. Berbagai teori psikologi perkembangan menyebutkan bahwa sekitar 60% perilaku dan karakter anak terbentuk melalui lingkungan keluarga.

  1. Kemurnian Tauhid

Pelajaran kedua adalah menjaga kemurnian tauhid. Nabi Ibrahim as. dikenal sebagai seorang muslim yang hanif, yaitu pribadi yang lurus dan mutlak berserah diri kepada Allah Swt. Beliau dengan tegas menolak segala bentuk syirik dan penyembahan berhala, baik yang berbentuk fisik maupun berhala-berhala modern seperti materi, jabatan, dan ego diri.

Karena kemurnian tauhid dan ketulusan cintanya kepada Sang Pencipta—bahkan melebihi cintanya kepada putra kandungnya sendiri—Nabi Ibrahim dianugerahi gelar kehormatan oleh Allah Swt. sebagai Khalilullah, yang berarti “Kekasih Allah”. Melalui Iduladha, kita diajak untuk menata ulang prioritas cinta dan penghambaan kita agar hanya tertuju kepada-Nya.

  1. Kepekaan dan Kepedulian Sosial

Pelajaran ketiga adalah urgensi kepedulian sosial. Ibadah kurban yang kita tunaikan pada Hari Raya Iduladha seharusnya menjadi momentum untuk mengasah kepekaan sosial umat Islam. Melalui pembagian daging kurban, sekat-sekat sosial di masyarakat dilebur. Kaya dan miskin sama-sama merasakan kebahagiaan di hari yang mulia tersebut.

Iduladha menuntut kita untuk menanggalkan sifat kikir dan egois, lalu menggantinya dengan semangat berbagi kepada sesama, menyantuni anak-anak yatim, serta memberi makan fakir miskin. Spiritualitas sosial inilah yang dahulu digelorakan oleh pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan, melalui gerakan Al-Ma’un.

  1. Pengingat akan Kehidupan Akhirat

Pelajaran keempat dan yang menjadi muara dari semua ibadah kita adalah kesadaran akan kehidupan akhirat. Perayaan Iduladha, dengan segala simbol pengorbanannya, mengingatkan kita bahwa dunia ini fana. Suatu saat nanti, kita semua akan kembali menghadap Allah Swt. Pertanyaan yang harus kita ajukan pada diri sendiri adalah: bekal apa yang sudah kita persiapkan untuk perjalanan abadi tersebut?

Tentu saja, bekal terbaik adalah amal saleh. Terkait hal ini, Rasulullah saw. pernah bersabda:

“Ketika anak cucu Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mau mendoakan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim).

Melalui momentum Iduladha 2026, keempat pilar pelajaran di atas—pendidikan karakter anak, kemurnian tauhid, kepedulian sosial, dan orientasi akhirat—bisa melekat erat dalam sanubari kita.

Semoga kita mampu menjadi pelaku sejarah yang mencetak generasi-generasi “Ibrahim” dan “Ismail” masa depan, yakni generasi yang tangguh, saleh, dan membawa maslahat bagi semesta alam. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search