Pada hari ketika langit retak oleh ketakutan, dan bumi tak lagi mengenal langkah kaki, seorang manusia akan berlari, bukan dari musuhnya, tetapi dari orang-orang yang paling dicintai.
Dari orang-orang yang paling dicintai, sebagaimana Allah berfirman: “Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya”.
Ia berpaling dari saudaranya, menghindari tatapan ibu yang pernah menangis karena dirinya, menjauh dari ayah yang dulu memikulnya di bahu, bahkan lari dari anak-anak yang dulu ditimang dengan doa dan harapan. Bukan karena benci, tetapi karena rasa takut yang lebih besar daripada cinta.
Pada hari itu, kasih sayang dunia bukan lagi pelindung, melainkan bayangan tak sanggup berdiri di hadapan keadilan Allah. Bahkan Allah mengungkapkan dahsyatnya hari itu. Orang yang berdosa ingin menebus dirinya dari azab hari itu.
Dengan anak-anaknya, dengan istrinya, dan saudaranya, bahkan dengan seluruh manusia yang ada di bumi seluruhnya, asalkan dia dapat menyelamatkan dirinya.
Seseorang ingin menebus dirinya dengan orang yang pernah ia lindungi. Ingin menukar anak, istri, saudara, asalkan selamat sendiri. Inilah hari, cinta tak dapat menjadi perisai, dan hubungan darah tak mampu menawar keputusan langit.
Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Setiap jiwa bertanggung jawab atas dirinya sendiri.”
‘Dan pada akhirnya di hadapan-Nya, engkau bukan lagi anak, bukan lagi orang tua, bukan lagi siapa-siapa, engkau hanyalah seorang hamba yang berdiri sendiri, bersama iman dan amalmu.’ (Tafsir Ibnu Katsir QS ‘Abasa 34-36, Al-Ma’arij 11-14)
(Shahih Muslim, dalam kitab Al-Iman)
Barakallahu fiikum.
