Ilmu “Ngolah” dan Seni Mencairkan Suasana dalam Islam

www.majelistabligh.id -

Ada satu istilah yang belakangan cukup ramai diperbincangkan: “ilmu ngolah”. Istilah ini menjadi populer setelah dibawakan Chocky Sitohang untuk menggambarkan kemampuan seseorang mengolah suasana yang semula kaku menjadi lebih cair.

Kita semua sebenarnya mengenal situasi semacam itu. Masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi orang-orang yang belum kita kenal. Duduk dalam sebuah forum resmi. Bertemu dengan orang yang secara jabatan jauh lebih tinggi. Menghadiri jamuan yang penuh protokoler. Atau sekadar berada di samping seseorang dalam perjalanan, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa.

Di sinilah “ilmu ngolah” menjadi menarik jika dilihat dari perspektif Islam. Sebab, kemampuan mencairkan suasana sesungguhnya bukan sesuatu yang asing dalam ajaran Islam. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan perhatian besar terhadap cara manusia berbicara, menyapa, menghormati, dan memperlakukan orang lain.

Ilmu “Ngolah” dalam Islam

Dalam Keputusan Tarjih ke-28 tentang Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, Muhammadiyah secara eksplisit menegaskan perlunya menanamkan akhlak mulia dalam pergaulan (mu’āsyarah bi al-ma’rūf). Istilah ini merangkum seluruh cara seorang muslim berinteraksi, bagaimana ia menyapa, berbicara, dan merespons lawan bicaranya.

Di dalamnya, disebutkan tujuh jenis perkataan (qaul) yang menjadi pedoman komunikasi seorang muslim, di antaranya:

  1. Qaulan karīmanberarti perkataan yang mulia;
  2. Qaulan balīghanadalah perkataan yang tepat dan mengenai sasaran;
  3. Qaulan layyinanadalah perkataan yang lemah lembut;
  4. Qaulan ma‘rūfanberarti perkataan yang baik dan patut;
  5. Qaulan maisūranadalah perkataan yang mudah dan tidak menyulitkan;
  6. Qaulan sadīdanberarti perkataan yang benar dan lurus; dan
  7. qaulan ṡaqīlanmenunjuk pada perkataan yang berbobot dan sarat makna.

Jika kita cermati, “ilmu ngolah” pada hakikatnya adalah perpaduan dari qaulan layyinan (lemah lembut), qaulan ma’rūfan (baik), dan qaulan balīghan (tepat sasaran). Sebab aspek paling penting dalam mencairkan suasana adalah kemampuan membaca keadaan dan memilih cara berkomunikasi yang tepat. Ada saat ketika sebuah forum membutuhkan keseriusan. Ada pula saat ketika ketegangan justru perlu dikendurkan dengan percakapan ringan.

Bahkan Allah memberikan contoh yang sangat menarik. Ketika Nabi Musa dan Nabi Harun hendak menghadapi Fir‘aun, Allah berfirman:

فَقُولَا لَهُۥ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Ṭāhā [20]: 44)

Allah juga berfirman dalam QS Ali Imran (3): 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ

“Maka berkat rahmat Allah-lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.”

Ayat ini memberikan pesan kuat bahwa keramahan dan kelembutan adalah perekat persaudaraan. Suasana formal yang terlalu kaku justru berpotensi melahirkan jarak. Maka sifat cair, ramah, dan menyenangkan bukanlah pengkhianatan terhadap keseriusan acara, melainkan justru penyambung hati.

Basa-Basi yang Beradab

Dalam semesta “ilmu ngolah” ini semakin menarik jika kita merujuk ke Tuntunan Adaabul Mar’ah Fil Islam. Dalam dokumen ini memuat tuntunan yang sangat terperinci tentang adab bertamu dan menerima tamu.

Di sana disebutkan secara gamblang: “Jika ke rumah sahabat atau kenalan, harus diusahakan sesuatunya sehingga menyenangkan tuan rumah, dengan tidak lupa akan tata cara sopan santun dan hormat menghormati.

Kemudian dikatakan: “Berusaha mengikuti pembicaraan dengan ramah tamah. Memberi kesempatan pihak lain berbicara dan berusaha supaya diri kita dapat memenuhi segala tata cara yang menyenangkan tuan rumah dan tamu-tamu yang hadir lainnya.

Lebih dari itu, dalam tata cara menerima tamu, dinyatakan: “Menerima tamu dengan muka manis dan ramah tamah.” Juga dikatakan: “Tanggapilah dengan basa basi dan cara-cara yang menyenangkan.”

Perhatikan redaksinya: basa basi disebut secara eksplisit sebagai bagian dari tuntunan syar’i. Ini membuktikan bahwa Islam tidak memandang basa-basi sebagai sesuatu yang hampa atau sia-sia. Basa-basi yang dimaksud di sini adalah tanggapan yang menyenangkan, bukan basa-basi yang berisi dusta dan pujian palsu untuk menjilat.

Di sini kita perlu membuat garis yang cukup tegas antara “ngolah” dan manipulasi. Keduanya mungkin sama-sama membutuhkan kemampuan membaca situasi. Tetapi orientasinya berbeda. Ngolah mengelola suasana; manipulasi mengendalikan orang. Orang yang mengolah suasana bertanya, “Bagaimana agar pertemuan ini nyaman?”; sementara orang yang memanipulasi bertanya, “Bagaimana agar orang ini melakukan apa yang saya inginkan?”

Islam memberikan pagar yang jelas. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. al-Aḥzāb [33]: 70).

Salah satu hadis yang sangat terkenal menggambarkan agar menjauhi cara-cara tidak benar dalam berkomunikasi:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ، وَلَا اللَّعَّانِ، وَلَا الْفَاحِشِ، وَلَا الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji, atau berkata kasar.” (HR. al-Tirmiżī).

Mencairkan Suasana adalah Jalan Dakwah

Allah menegaskan dalam QS Al-Hujurat (49): 13:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu sekalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal-mengenal (li ta’ārafū).” (QS Al-Hujurat (49): 13).

Salah satu kemuliaan akhlak yang paling nyata dalam kehidupan Nabi adalah kemampuannya mencairkan suasana. Beliau tidak pernah berkata kasar, tidak pernah menyakiti hati, dan senantiasa memulai salam, tersenyum, dan merespons dengan kehangatan meskipun sedang menghadapi orang yang bersikap keras.

Jabir bin Samurah r.a. menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ لَا يَقُومُ مِنْ مُصَلَّاهُ الَّذِي يُصَلِّي فِيهِ الصُّبْحَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتْ قَامَ، وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِي أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ، فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ

“Rasulullah saw tidak beranjak dari tempat beliau melaksanakan salat Subuh hingga matahari terbit. Setelah matahari terbit, beliau baru berdiri. Para sahabat berbincang tentang berbagai hal, termasuk perkara pada masa jahiliah, lalu mereka tertawa dan beliau pun tersenyum.” (HR Muslim).

Di sinilah mencairkan suasana memiliki sisi dakwah. Dakwah pada dasarnya adalah proses menghadirkan nilai-nilai Islam kepada manusia. Proses itu membutuhkan komunikasi, dan komunikasi membutuhkan hubungan yang baik. Pesan yang benar akan sulit diterima ketika disampaikan dalam suasana yang penuh jarak, kecurigaan, atau ketegangan. ||sumber: muammadiyah.or.id. Referensi: Tuntunan Menuju Keluarga Sakinah, Tuntunan Adaabul Mar’ah Fil Islam

 

Tinggalkan Balasan

Search