Potensi bonus demografi yang digadang-gadang sebagai jembatan emas menuju Indonesia Emas 2045 dinilai akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembangunan karakter dan keteladanan moral. Peringatan keras tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib.
Irwan menegaskan, penyiapan generasi emas tidak boleh hanya bertumpu pada penguasaan teknologi, peningkatan kualitas pendidikan, atau pertumbuhan ekonomi semata. Menurutnya, fondasi paling krusial bagi kemajuan bangsa adalah integritas, kejujuran, tanggung jawab, dan akhlak mulia.
Ia menilai, selama ini peran keluarga dan lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai moral sudah cukup optimal. Orang tua dan guru secara konsisten mengajarkan kejujuran, kerja keras, tenggang rasa, hingga kesederhanaan. Namun, benteng karakter yang dibangun di rumah dan sekolah tersebut kini menghadapi ancaman serius dari ruang publik.
“Di rumah dan sekolah, anak-anak diajarkan nilai moral tinggi. Namun, benteng itu bisa runtuh saat mereka menyaksikan realitas bertolak belakang di ruang publik, khususnya melalui televisi dan media sosial,” ujar Irwan, Kamis (23/7/2026).
Irwan secara khusus menyoroti maraknya kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat negara. Menurutnya, ironi terjadi ketika para pelaku tetap tampil tanpa rasa bersalah, sementara gaya hidup mewah dari hasil penyalahgunaan uang rakyat justru dipamerkan secara terbuka di media sosial.
Fenomena ini, lanjut Irwan, memicu disonansi moral bagi generasi muda. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di lingkungan keluarga dan sekolah menjadi tidak sejalan dengan contoh destruktif yang mereka saksikan sehari-hari.
Oleh karena itu, Irwan menekankan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dibebankan semata-mata kepada orang tua dan guru. Negara, para pejabat, media, hingga tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab kolektif untuk menghadirkan ruang publik yang bersih, berintegritas, dan kaya akan keteladanan.
“Anak-anak jauh lebih cepat belajar dari contoh nyata yang mereka lihat daripada sekadar nasihat yang mereka dengar. Keteladanan adalah metode pendidikan yang paling efektif,” tegasnya.
Ukuran keberhasilan Indonesia Emas 2045 bukan sekadar statistik ekonomi atau kecanggihan teknologi, melainkan keberhasilan mencetak bangsa yang berakhlak dan berkeadaban.
“Jika bonus demografi ini diimbangi dengan keteladanan moral, Indonesia tidak hanya akan menjadi negara yang maju, tetapi juga bermartabat,” pungkas Irwan. (*/tim)
