Di tengah gemuruh Stadion BC Place Vancouver yang merayakan pesta enam gol tanpa balas Kanada atas Qatar, sebuah momen penuh kepasrahan lahir dari sudut ruang perawatan. Ismael Kone, gelandang andalan Tim Nasional Kanada, tertelungkup menahan sakit luar biasa akibat patah tulang kaki setelah menerima tekel horor pemain Qatar Assim Madibo.
Namun, di saat karier dan impian besarnya di Piala Dunia 2026 terancam runtuh dalam hitungan detik, tidak ada makian, amarah, ataupun sumpah serapah yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanyalah sebuah pengakuan iman yang menggetarkan hati: “Allah tidak pernah mengecewakan saya.”
Insiden memilukan itu terjadi tepat lima menit menjelang berakhirnya babak kedua dalam laga lanjutan babak penyisihan Grup B. Madibo meluncur dengan terjangan keras ke kaki Kone, dan langsung diganjar kartu merah oleh wasit.
Benturan tersebut begitu fatal hingga memaksa Kone harus ditandu keluar lapangan dalam kondisi yang membuat seluruh suporter terhenyak. Kehilangan pemain kunci di tengah turnamen akbar sekelas Piala Dunia adalah mimpi buruk bagi pesepak bola mana pun.
Meski demikian, lewat sebuah unggahan mendalam di media sosial pribadinya, pemain berusia 24 tahun ini justru menunjukkan kedewasaan spiritual yang luar biasa di hadapan publik dunia.
“Allah tidak pernah mengecewakan saya. Sepanjang hidup, tak pernah sekalipun saya dibuat kecewa. Jadi mengapa meragukannya?” tulis penggawa klub kasta tertinggi Italia, Sassuolo tersebut.
Bagi Kone, cedera parah ini bukanlah sebuah akhir dari segalanya, melainkan sebuah ujian untuk mengukur ketebalan iman dan karakternya. Ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa Sang Pencipta telah menyusun rencana dan visi terbaik di balik takdir yang harus ia jalani.
Menurutnya, mendapat ujian dari Tuhan pada hakikatnya adalah sebuah bentuk hadiah terindah untuk menaikkan derajat spiritualitasnya, karena Allah tidak akan pernah membebani seorang hamba di luar batas kemampuannya.
Keteguhan hati Kone ini langsung memicu gelombang simpati yang luar biasa dari pencinta sepak bola global. Dukungan moral mengalir deras dari berbagai penjuru, termasuk dari rekan setimnya di Sassuolo yang juga kapten Tim Nasional Indonesia, Jay Idzes, yang menuliskan pesan penguat, “Tetap kuat kawan.”
Menanggapi cinta yang begitu besar, Kone mengungkapkan rasa syukur yang mendalam. Ia merasa sangat beruntung dikelilingi oleh banyak orang yang tulus mendoakan kesembuhannya.
Meski dipastikan absen di sisa turnamen, semangat Kone tidak lantas padam. Dengan nada berkelakar yang menyejukkan suasana, ia menyatakan kesiapannya untuk berganti peran demi mendukung perjuangan rekan-rekannya di lapangan. Ia berjanji akan beralih peran menjadi “asisten pelatih” dadakan di pinggir lapangan demi membakar semangat skuad Kanada.
Ketangguhan mental Kone ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh pelatih Kanada, Jesse Marsch. Sang juru taktik memuji Kone sebagai representasi sejati dari karakter pantang menyerah yang menjadi ciri khas timnya.
Kemenangan telak 6-0 atas Qatar kini mengantar Kanada ke puncak klasemen sementara Grup B dengan empat poin. Namun, lebih dari sekadar statistik di papan skor, kisah Piala Dunia 2026 di Vancouver kali ini akan selalu diingat lewat narasi indah tentang seorang pemuda yang mengajarkan arti sejati dari sebuah keikhlasan dan kepasrahan mutlak kepada ketetapan Tuhan. (*/chusnun)
