Jalan Keselamatan Agar Terhindar dari Neraka Saqar

Jalan Keselamatan Agar Terhindar dari Neraka Saqar
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Majelis Tabligh dan KMM PDM Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Kehidupan di dunia adalah sebuah panggung ujian yang singkat, namun menentukan nasib manusia di alam abadi kelak. Sesuai dengan janji Allah Swt, akhir dari perjalanan manusia hanya akan berujung pada dua tempat: surga yang penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan. Di antara tingkatan neraka yang mengerikan, Al-Qur’an secara spesifik menyebutkan sebuah nama yang membuat hati orang-orang beriman bergetar: Neraka Saqar.

Saqar bukanlah sekadar tempat penyiksaan biasa. Ia adalah seburuk-buruk tempat kembali yang dirancang khusus untuk membakar habis raga dan jiwa tanpa mematikan, meninggalkan rasa sakit yang abadi. Memahami apa itu Neraka Saqar, siapa saja calon penghuninya, dan bagaimana jalan keselamatan agar terhindar darinya adalah kewajiban krusial bagi setiap muslim yang merindukan keselamatan di akhirat.

Nama “Saqar” diambil dari akar kata dalam bahasa Arab yang berarti “memanggang” atau “melepuhkan”. Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT. menggambarkan kedahsyatan Neraka Saqar secara eksplisit dalam Surah Al-Muddassir:

“Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Dan tahukah kamu apa (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar itu) tidak meninggalkan (sedikit pun daging) dan tidak membiarkan (setiap yang masuk di dalamnya). Ia (neraka Saqar) adalah pembakar kulit manusia.” (QS. Al-Muddassir: 26 – 29)

Sifat utama dari neraka Saqar adalah “Lā tubqī wa lā tadzar”—ia tidak membiarkan apa pun yang dilemparkan ke dalamnya utuh, namun tidak pula memusnahkannya hingga hilang. Siksaan di dalamnya terus memperbarui diri; kulit yang hangus terbakar akan digantikan dengan kulit yang baru untuk merasakan kepedihan yang tiada henti.

Untuk menemukan jalan keselamatan, kita harus terlebih dahulu memetakan kompas penghuni neraka Saqar. Mengapa mereka bisa terjerumus ke sana? Jawaban ini diabadikan secara runtut dalam Al-Qur’an melalui dialog antara penghuni surga dan penghuni Saqar dalam Surah Al-Muddassir ayat 42-47: (Penghuni surga bertanya) “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar?” Mereka (penghuni Saqar) menjawab dengan 4 pengakuan jujur yang terlambat: 1) meninggalkan salat, 2) kikir dan tidak peduli sosial, 3) mengikuti tren kebatilan (khawdh) dan 4) mendustakan hari pembalasan.

Selain keempat sifat di atas, Saqar juga diancamkan kepada orang-orang yang sombong terhadap ayat-ayat Allah dan mengabaikan petunjuk-Nya, serta orang-orang yang berdosa besar yang tersesat dalam kesesatan mereka.

Berdasarkan penyebab runtuhnya keimanan para penghuni Saqar di atas, para ulama merumuskan empat pilar keselamatan yang wajib dibangun oleh seorang muslim selama hidup di dunia:

  1. Menjaga dan menegakkan salat lima waktu

Shalat adalah tiang agama sekaligus pembeda antara keimanan dan kekufuran. Ketika penghuni Saqar ditanya hal pertama yang mendepak mereka ke neraka, jawaban pertamanya adalah: “Kami tidak termasuk orang-orang yang mendirikan salat.”

Nabi Muhammad saw. menegaskan pentingnya shalat dalam sebuah hadis sahih:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

Artinya: ”Sesungguhnya batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Maka, jalan keselamatan pertama adalah komitmen total terhadap shalat lima waktu. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan mendirikannya dengan khusyuk, tepat waktu, dan berjamaah di masjid bagi kaum laki-laki.

  1. Memiliki kepedulian sosial dan gemar bersedekah

Karakteristik kedua penghuni Saqar adalah keegoisan sosial. Islam adalah agama yang menyeimbangkan antara hubungan dengan Allah (Hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Hablum minannas).

Menahan harta dari hak-hak orang miskin (seperti zakat, infak, dan sedekah) adalah tiket menuju neraka. Sebaliknya, sedekah adalah perisai pelindung dari api neraka, walau sekecil apa pun bentuknya. Rasulullah saw. bersabda:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ

Artinya: “Jagalah diri kalian dari api neraka, walaupun hanya dengan sebiji kurma (yang disedekahkan).” (HR. Bukhari Muslim).

  1. Menjaga lisan dan menjauhi kebatilan

Penghuni Saqar mengaku: “Dan adalah kami mendiskusikan yang batil, bersama orang-orang yang mendiskusikannya.” (QS. Al-Muddassir: 45). Dalam pandangan syariat, ini sama artinya dengan menenggelamkan diri dalam obrolan yang tidak bermanfaat, menyebarkan hoaks, mencela syariat, bergosip (ghibah), atau ikut-ikutan menyuarakan tren maksiat demi validasi sosial.

Di era digital saat ini, hal ini juga mencakup jemari kita di media sosial. Jalan keselamatannya adalah mengendalikan lisan dan ketikan, serta menarik diri dari lingkungan atau kelompok (baik online maupun offline) yang gemar mendiskusikan kemaksiatan.

Rasulullah saw. memberikan jaminan keselamatan bagi mereka yang mampu menjaga lisannya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaklah dia diam.” (HR. Bukhari Muslim).

  1. Memurnikan akidah dan menjaga keyakinan pada hari akhir

Sifat keempat yang membinasakan penghuni Saqar adalah mendustakan hari Pembalasan (Yaumuddin). Ketika seseorang tidak lagi percaya—atau hidup seolah-olah tidak percaya—bahwa setiap perbuatannya akan dihisab, maka ia akan kehilangan rem moral. Ia akan berbuat zalim, korupsi, dan bermaksiat tanpa rasa takut.

Untuk selamat, seorang muslim harus memperbarui imannya kepada hari akhir setiap hari. Keyakinan yang kokoh bahwa akhirat itu nyata akan melahirkan sifat wara’ (berhati-hati dari perkara syubhat) dan khauf (takut akan murka Allah).

Selain menjauhi empat penyebab di atas, Rasulullah saw. mengajarkan beberapa amalan spesifik yang dapat menjadi pelindung khusus kita dari api neraka, termasuk Neraka Saqar. Ada zikir khusus yang diajarkan Nabi saw. untuk dibaca sebanyak tujuh kali setelah shalat Subuh dan Maghrib sebelum berbicara dengan orang lain:

اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنَ النَّارِ

Artinya: “Ya Allah, lindungilah aku dari api neraka.” (HR. Ahmad & Abu Dawud, dengan sanad yang hasan/shahih)

Jika seorang hamba membacanya di malam hari lalu ia wafat, maka Allah tuliskan baginya pembebasan dari api neraka. Begitu pula jika dibaca di waktu subuh.

Neraka Saqar bukanlah sebuah mitos atau dongeng pengantar tidur. Ia adalah realitas masa depan yang mengerikan, yang kini sedang bergolak menunggu para penghuninya. Allah SWT. dengan segala kasih sayang-Nya telah menginformasikannya dalam Al-Qur’an agar kita tidak termasuk golongan yang merugi.

Jalan keselamatan menuju kebebasan dari neraka Saqar tidaklah rumit, namun menuntut konsistensi. Jalan itu membentang di atas sajadah-sajadah shalat kita, mengalir melalui harta yang kita sedekahkan kepada fakir miskin, terjaga melalui lisan yang memilih diam daripada berbuat batil, dan berakar kuat pada keimanan yang tulus kepada Allah dan hari Pembalasan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search