Kajian rutin Kitab Riyadhus Shalihin di Majis Ar Royyan Muhammadiyah Buduran pada Ahad (6/9/2026) sampai pada pembahasan hadis ke 44. Ustaz Ridwan Manan menyampaikan tentang teladan Ummu Sulaim yang memiliki visi besar untuk membangun keluarga hebat.
“Kalau tidak memiliki visi besar, tidak mungkin Ummu Sulaim berpikiran untuk menitipkan anaknya bernama Anas Bin Malik yang masih kecil di rumah Rasulullah Saw. Dia sanggup berpisah dengan anaknya, demi anaknya mendapatkan pendidikan terbaik, yakni langsung dari Rasulullah SAW,” ujar Ketua Takmi Masjid Ar Royyan Buduran itu.
Diketahui, Anas Bin Malik merupakan sahabat Rasulullah. Sejak usia 10 tahun ia menjadi bagian dari rumah tangga Nabi dan 10 tahun pula lamanya ia mendampingi Rasulullah SAW.Namanya masyhur sebagai perawi hadis karena kedekatan dengan dengan Rasulullah SAw.
Misi besar Ummu Sulaim inilah, lanjut Ustaz Ridwan, sebagai teladan dan relevan dengan kebutuhan zaman sekarang. Kalau ingin membangun keluarga hebat, seorang ibu harus rela dan berjiwa besar saat anak-anaknya yang masih kecil harus hidup berjauhan karena menuntut ilmu.
Dengan bekal ilmu agama sejak kecil, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi matang. Tahu kewajiban kepada Tuhannya, kepada orang tuanya dan tahu mana yang terbaik untuk masa depannya.
Islam dengan jelas telah mengajarkan doa untuk mendapatkan anak keturunan yang saleh, seperti dalam QS Al-Furqan Ayat 74
وَٱلَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَٱجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Artinya: Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
Ustaz Ridwan lantas menyinggung fenomena zaman, memang tidak mudah untuk mendapatkan anak-anak saleh. Banyak tantangan. Ia lantas memberi contoh nyata di sekitar kita, ketika anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu untuk begadang seiring dengan maraknya warung kopi maupun cafe. Mereka lupa tugas utama, menuntut ilmu. Akibatnya, bukan ilmu dan kepintaran yang didapat, malah penyakit yang kini sudah menghinggahi anak-anak.
“Kalau dulu yang biasa terkena tekanan darah tinggi dan diabet itu para orang tua. Kini usia anak pun ada yang kena. Kalau usia anak saja sudah terkena penyakit ini tanda generasi yang lemah. Apa yang bisa diharapkan dari generasi yang lemah,” ujarnya. (ono)
