Kajian rutin Ahad pagi (7/6/2026) Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran Sidoarjo membahas tentang ujian kesabaran. Ustaz Ridwan Manan menyampaikan hadis ke-31 Kitab Riyadush sholihin.
Dari Anas ra. Ia berkata: Nabi saw mendapati seorang wanita sedang menangis di atas kuburan. Beliau bersabsa: bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata: Menjauhlah dari aku, karena Anda sedang tidak ditimpa musibah seperti musibah yang sedang menimpaku”. Wanita itu tidak tahu kalau yang berkata itu adalah Nabi. Setelah diberitahu seseorang bahwa itu tadi adalah Nabi, dia segera berusaha menemui beliau. Kebetulan dia tidak melihat para sahabat yang menjaga pintu Nabi, hingga dengan mudah ia dapat bertemu beliau. Ia berkata,”Saya benar-benar tidak tahu kalau yang berkata tadi adalah Anda. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sabar itu pada benturan pertama pada musibah itu. Muttafaq alaih. (HR Bukhari 1283 dan Muslim:926)
Menurut Ustaz Ridwan Manan ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari hadis tersebut. Yang pertama ajakan amar makruf nahi munkar. Ajakan untuk bertakwa dan bersabar ketika mendapati sesama muslim dalam musibah. Hal ini penting agar kita senantiasa dalam kendali, tidak larut dalam kesedihan ketika ada anggota keluarga atau orang yang kita kasihi, suami, anak misalnya meninggalkan kita.
“Bahkan ada hadis lain yang menyatakan, tidak ada balasan selain surga bagi seorang muslim yang tetap tabah, sabar manakala diuji dengan diambilnya orang yang dicintai alias meninggal. Menangis boleh, namun dilarang kalau sampai mencabik bagian tubuh karena saking sedihnya. Karena dikhawatirkan akan terjerumus tidak rida dengan takdir Allah,” ujar Ridwan Manan.
Dari hadis itu pula, lanjut Ridwan Manan, menunjukkan bahwa tidak ada larangan Wanita untuk ziarah kubur. Nyatanya, Nabi tidak menegur ketika mendapati perempuang di kuburan. Memang ada yang berpendapat Nabi tidak ingin menyampaikan perintah tentang dua hal dalam satu kesempatan.
“Tapi dalam hadis kan dijelaskan, ketika si perempuan akhirnya berhasil menghadap Nabi, tidak juga disinggung larangan ziarah kubur,” jelasnya.
Tentu saja, lanjut Ridwan Manan, keperluan wanita untuk ziarah kubur tidak lain untuk mengingat mati dan mendoakan orang yang telah meninggal agar diampuni segala dosa dosanya.
Dalam kesempatan tersebut Ustuz Ridwan juga menyinggung betapa mudahnya nabi untuk bisa ditemui umatnya. “Ini menjadi pelajaran bagi kita di zaman sekarang, kalau jadi pemimpin, jangan sulit untuk ditemui. Rakyat butuh untuk bisa menyampaikan aspirasi yang perlu didengar atau sampai ke pimpinan,” ujarnya. (ono)
