Kartini dan Budaya Literasi yang Terlupakan

Kartini dan Budaya Literasi yang Terlupakan
*) Oleh : Mu'tamaroh Kurnianingsih, S.E
Anggota Majelis Pembinaan Kader PC Aisyiyah Blimbing, Sukoharjo
www.majelistabligh.id -

Pagi ini anak-anak berangkat ke sekolah dengan mengenakan pakaian daerah: ada yang memakai busana kebaya, batik, dan berbagai identitas adat lainnya. Banyak orang menyebut momen ini sebagai bentuk “Kartinian”. Namun, ada pertanyaan yang kerap muncul: mengapa peringatan Hari Kartini selalu identik dengan pakaian adat, khususnya Jawa?

Mengapa nilai-nilai utama yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, seperti budaya membaca dan menulis, justru kurang, bahkan tidak, mendapatkan perhatian dalam praktik pendidikan kita?

Pertanyaan ini terasa relevan setiap kali bulan April tiba. Kita semua mengetahui bahwa R.A. Kartini adalah sosok yang gemar menulis dan berpikir kritis. Gagasan-gagasannya bahkan banyak dimuat di berbagai media Belanda, lalu dihimpun dalam beberapa buku. Salah satu karya yang paling terkenal berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Dari tulisan-tulisan tersebut, terlihat jelas bahwa perjuangan R.A. Kartini berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan, khususnya bagi perempuan, melalui literasi dan pemikiran yang terbuka.

Oleh karena itu, akan lebih bermakna jika peringatan Hari Kartini tidak hanya diwujudkan dalam simbol-simbol budaya semata, tetapi juga diisi dengan kegiatan yang mencerminkan semangat perjuangannya. Misalnya, sekolah dapat mengadakan gerakan membaca buku bersama, lomba menulis, atau diskusi literasi yang dibimbing oleh para guru perempuan. Kegiatan semacam ini tidak hanya memperingati perjuangan R.A. Kartini secara seremonial, tetapi juga menghidupkan kembali nilai-nilai yang ia perjuangkan.

Jika hal ini dilakukan secara konsisten, para siswa tentu akan memperoleh tambahan pengetahuan dan pengalaman. Manfaat membaca yang begitu luas akan membantu membentuk generasi yang lebih kritis, berwawasan, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan masyarakat secara keseluruhan.

Sudah saatnya ada perubahan dalam cara kita memperingati Hari Kartini. Pemerintah dan lembaga pendidikan perlu mendorong pendekatan yang lebih substantif, bukan sekadar simbolik. Tanpa perubahan tersebut, dikhawatirkan anak-anak kita hanya akan mengenal R.A. Kartini sebatas pada pakaian adat atau lagu peringatan “Ibu Kita Kartini”, tanpa memahami kegigihannya dalam memperjuangkan pendidikan dan kecerdasan kalangan perempuan di tengah masyarakat. Padahal, semangat itulah yang seharusnya diwariskan kepada generasi penerus bangsa. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search