Kebiasaan seseorang seringkali menjadi cerminan dari isi hati, pikiran, dan karakter dasarnya. Perilaku yang konsisten muncul dalam kehidupan sehari-hari, menunjukkan apa yang sebenarnya tertanam di dalam diri seseorang.
Berikut dua kebiasaan orang-orang yang mencerminkan apa ada di hatinya:
- Banyak berjanji kepada Allah.
Sudah jadi kebiasaan orang-orang fasik dan munafik adalah banyak berjanji tetapi tidak memenuhinya.
وَمِنْهُمْ مَّنْ عَاهَدَ اللّٰهَ لَئِنْ اٰتٰٮنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَـنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
“Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan bersedekah dan niscaya kami termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. At-Taubah: 75)
- Nanti rajin salat malam kalau dapat kerjaan.
- Nanti menyantuni anak yatim kalau proyek tembus.
- Nanti kalau udah nikah, mau rajin hadir di majelis ilmu bersama pasangan.
- Nanti kalau sudah punya anak, mau fokus dengan Al Qur’an.
- Nanti kalau deposit sudah sekian, mau sedekah tiap bulan sekian.
Bla..bla..bla..
Tapi begitu Allah lapangkan sedikit hidupnya, dinaikkan sedikit derajatnya, mulai lupa dan masih punya banyak alasan lainnya. Jangan sampai kita salah satunya.
.فَلَمَّاۤ اٰتٰٮهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ
“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran).” (QS. At-Taubah: 76)
- Mencari-cari alasan agar diberi keringanan dalam beramal saleh.
- Beralasan repot agar bisa menunda salat.
- Beralasan capek agar dimaklum ketika tidak Qiyamul lail.
- Beralasan lagi minus agar bisa menghindar dari sedekah.
- Beralasan keluarga sendiri saja belum cukup, masak nolong orang lain.
Dan seterusnya…
Padahal, Allah tidak pernah meminta banyak. Cukuplah beramal sesuai kemampuanmu.
Dan sebenarnya, bahkan dalam kesempitan sekali pun, Allah masih tetap menganjurkan kita beramal saleh. Sebab itulah (punya amal) yang nantinya bisa menyelamatkan kita.
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖ ۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّاۤ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَاۤ اٰتٰٮهَا ۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا
“Hendaklah orang yang mempunyai keluasan memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” (QS. At-Talaq: 7)
Jangan nunggu lapang untuk beramal. Karena yang sedang terbatas keadaannya pun sebenarnya juga masih bisa beramal sesuai kemampuan. Karena bisa saja itu yang kelak jadi wasilah pengundang syafaat.
Oleh sebab itu,
- Jangan kebanyakan janji.
- Jangan kebanyakan alasan agar hidup bahagia dunia dan akhirat. (*)
