Kekuatan Berprasangka Baik dalam Kehidupan

Kekuatan Berprasangka Baik dalam Kehidupan
*) Oleh : Suharto Fauzan
Pegiat Literasi (simpatisan Muhammadiyah)
www.majelistabligh.id -

Pernahkah merasa hari Anda berantakan hanya karena satu pikiran buruk di pagi hari? Atau sebaliknya, merasa sangat bertenaga hanya karena optimis menghadapi tantangan? Itu bukan sekadar perasaan, tapi bukti bahwa pikiran adalah kemudi bagi perasaan kita.

Dalam psikologi modern, ini disebut korelasi antara kognitif dan emosi. Namun, jauh sebelum itu, Islam telah mengajarkan konsep yang luar biasa indah bernama Husnuzan (berprasangka baik).

Pikiran Adalah Magnet Perasaan
Apa yang kita tanam dalam pikiran, itulah yang akan kita panen dalam hati. Jika kita terus-menerus memikirkan kegagalan, kecemasan akan muncul. Sebaliknya, jika kita melatih otak untuk melihat sisi baik (hikmah), maka ketenangan akan hadir.
Allah SWT berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi yang sangat populer: “Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku…” (HR. Bukhari & Muslim)

Pesan ini sangat mendalam, jika kita yakin Allah akan memberi jalan keluar, maka perasaan kita akan tenang. Jika kita berprasangka buruk pada takdir, maka kegelisahanlah yang akan mendominasi.

Mengapa Berpikir Baik Itu Menyehatkan?
Saat kita berpikir positif (berpikir baik), tubuh melepaskan hormon yang membuat kita merasa nyaman. Dalam Islam, berpikir baik bukan berarti naif atau mengabaikan realita, melainkan menjaga hati agar tidak diracuni oleh penyakit hati.
Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mati kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” (HR. Muslim)

Bayangkan, bahkan di titik tersulit sekalipun (menjelang kematian), kita diminta untuk tetap menjaga pikiran yang baik. Mengapa? Karena pikiran yang baik adalah pintu menuju kedamaian batin (merasa baik).

Cara Memulai Kebiasaan “Berpikir Baik”
-Mengubah pola pikir memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi bisa dilatih dengan langkah-langkah sederhana sebagai berikut:

-Senantiasa mensyukuri hal kecil. Fokus pada apa yang dimiliki, bukan apa yang hilang. Sebagaimana firman-Nya: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim: 7).

-Cari alasan untuk memaklumi. Jika ada orang yang berbuat kurang menyenangkan, cobalah berpikir, “Mungkin dia sedang ada masalah.” Ini mencegah kita merasa sakit hati.

-Ubah “Bencana” menjadi “Ujian”. Lihatlah tantangan sebagai sarana naik kelas, bukan hukuman.

Cermin Pikiran
Dunia ini adalah cermin dari pikiran kita. Jika kita ingin merasa baik, maka kita harus berani membenahi cara kita berpikir. Mulailah hari dengan berprasangka baik kepada Allah, kepada diri sendiri, dan kepada sesama manusia.

Hati yang tenang tidak datang dari keadaan yang sempurna, melainkan dari pikiran yang selalu mampu menemukan kebaikan di setiap keadaan.

Jika setiap kali pikiran buruk datang, lawanlah dengan kalimat: “Pasti ada hikmahnya, dan Allah tidak akan membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search