Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menegaskan bahwa hakikat digitalisasi pendidikan bukan sebatas menghadirkan perangkat teknologi atau memindahkan teks buku ke layar monitor. Lebih dari itu, transformasi digital harus memicu perubahan paradigma mengajar agar lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada murid.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka puncak program MODULAR (Membuat Konten Digital untuk Pembelajaran) Summit 2026 di Kabupaten Bogor, Kamis (20/8/2026).
Menurut Atip, karakteristik siswa SMA yang merupakan digital natives—khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha—menuntut gaya belajar yang visual, interaktif, dan kolaboratif. Oleh karena itu, transformasi digital kini menjadi kebutuhan mutlak agar kualitas pembelajaran nasional tetap adaptif terhadap perkembangan zaman.
Meski teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI) dan Papan Interaktif Digital (PID) berkembang pesat, Atip mengingatkan bahwa posisi pendidik tetap tidak tergantikan.
“Pendidik tetap menjadi aktor utama. Posisi guru sebagai educator tidak bisa digantikan oleh teknologi karena butuh sentuhan manusia. Teknologi dan AI hadir untuk membantu,” ujar Atip.
Oleh sebab itu, ia mengapresiasi Program MODULAR 2026 yang diinisiasi Direktorat SMA. Program ini melatih para pendidik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta konten kreatif seperti Media Pembelajaran Interaktif (MPI), gim edukasi, hingga laboratorium maya.
Capaian Program MODULAR 2026
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Sekolah Menengah Atas, Yuli Haryanto, melaporkan perjalanan program yang telah melalui proses seleksi ketat:
- Total Peserta: 4.025 guru mengikuti lima sesi pendampingan awal.
- Hasil Karya: 692 peserta berhasil memproduksi 2.052 konten digital.
- Tahap Penilaian: 874 konten lolos kurasi, hingga terpilih 200 peserta terbaik untuk hadir di MODULAR Summit 2026 (100 luring dan 100 daring).
- Produk Akhir: Tahap finalisasi menghasilkan 362 konten digital siap pakai yang akan diunggah dan dimanfaatkan secara nasional melalui platform Ruang Murid.
Melalui sinergi bersama pemerintah daerah, BBPMP/BPMP, dan 11 mitra pembelajaran, Kemendikdasmen optimistis dapat membangun ekosistem pembelajaran digital yang kokoh serta membuka peluang karir baru bagi pendidik sebagai kreator konten edukasi. (*/tim)
