Kemendikdasmen Gelar Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah

Peserta pelatihan bakal calon kepala sekolah di lingkungan Kemendikdasmen. (ist)
www.majelistabligh.id -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat pemenuhan kebutuhan kepala sekolah di Indonesia telah mendekati angka 80 persen. Capaian ini didorong oleh massifnya pelaksanaan Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai daerah.

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Nunuk Suryani, dalam pembukaan Pelatihan BCKS Gelombang 2 dan Penutupan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI) di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Barat, akhir pekan lalu.

“Hingga Agustus 2026, sebanyak 5.704 peserta telah mengikuti pelatihan BCKS—3.033 dibiayai APBN dan 2.671 melalui APBD. Ini menunjukkan kuatnya kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dalam menyiapkan pemimpin sekolah yang kompeten,” ujar Nunuk.

Ia menambahkan, angka tersebut masih akan terus bertambah seiring berjalannya proses seleksi di sejumlah daerah. Selain terpusat di Jawa Barat, juga diikuti secara hibrida oleh 40 kelas di enam Unit Pelaksana Teknis (UPT) GTK, yakni Aceh, Lampung, Gorontalo, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Siapkan Guru SD Hadapi Kurikulum Bahasa Inggris 2027

Pada kesempatan yang sama, Kemendikdasmen juga menutup program penguatan kapasitas guru SD dalam mengajar Bahasa Inggris. Langkah ini menjadi bagian dari persiapan transisi Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib jenjang SD pada tahun ajaran 2027/2028 mendatangkan.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya membangun rasa percaya diri guru—terutama yang berlatar belakang non-bahasa Inggris—serta merawat jejaring profesional pascapelatihan.

“Jangan biarkan komunikasi dan kolaborasi berakhir di sini. Bangun dan pelihara jejaring profesional yang saling menguatkan,” pesan Abdul Mu’ti.

Ia menegaskan bahwa kunci utama transformasi pendidikan terletak pada sinergi antar pemangku kepentingan. “Pendidikan bermutu lahir dari kolaborasi dan semangat berbagi, bukan dari kerja sendiri,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search