Pernahkah kita membayangkan, dengan segala kebiasaan buruk, maksiat yang kerap diulang, serta kelalaian dalam menjalankan perintah-Nya, mengapa mukim atau kampung tempat kita tinggal masih berdiri kokoh? Mengapa bumi tidak menelan kita sebagaimana kaum Qorun, atau angin puting beliung tidak meratakan rumah-rumah kita layaknya kaum ‘Ad?
Bukan karena kita teladan, bukan pula karena tumpukan pahala kita yang melimpah. Kampung kita masih aman hari ini belakangan hanya karena rahmat dan kasih sayang-Nya yang teramat luas, serta keberadaan golongan-golongan penahan azab yang dijanjikan-Nya.
Dalam sebuah riwayat hadis qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Aku berniat menurunkan azab kepada penduduk bumi, namun ketika Aku melihat orang-orang yang meramaikan rumah-rumah-Ku (masjid), orang-orang yang saling mencintai karena-Aku, dan orang-orang yang memohon ampunan di waktu sahur, maka Aku palingkan azab-Ku dari mereka.” (HR. Baihaqi)
Ada tiga pilar utama yang menjadi benteng pertahanan kampung kita dari murka-Nya:
1. Hamba yang Meramaikan Masjid: Di saat banyak orang terlelap atau sibuk dengan urusan dunia, masih ada langkah-langkah kaki tua dan muda yang berbondong-bondong menuju masjid saat adzan berkumandang. Kehadiran mereka menghidupkan cahaya iman di lingkungan sekitar.
2. Istighfar di Waktu Sahur: Doa dan rintihan ampunan dari hamba-hamba yang terbangun di sepertiga malam terakhir menjadi penawar atas dosa-dosa yang dilakukan penduduk kampung pada siang harinya.
3. Kasih Sayang Antar sesama: Adanya persaudaraan, kepedulian sosial, dan rasa saling mencintai karena Allah menolak marabahaya dan perpecahan yang mengundang kebencian Ilahi
Selain tiga hal di atas, keberadaan anak-anak kecil yang belum ternoda dosa serta hewan-hewan melata yang melata di sekitar kita juga menjadi sebab Allah menahan murka-Nya.
Ayat Al-Qur’an utama yang menjelaskan alasan Allah menahan atau tidak menurunkan azab-Nya di suatu wilayah adalah Surah Al-Anfal ayat 33:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampun (beristighfar).”
Berdasarkan ayat tersebut dan beberapa ayat pendukung lainnya, terdapat dua penahan utama turunnya azab Allah di tempat tinggal kita:
1. Keberadaan Rasulullah dan Ajaran-Nya (Sunnah): Saat Nabi Muhammad ﷺ masih hidup, fisik beliau menjadi benteng dari azab langsung. Setelah beliau wafat, benteng tersebut diteruskan oleh orang-orang yang senantiasa hidup dan mengamalkan ajaran serta sunnah beliau di kampung tersebut.
2. Perbanyak Istighfar dan Taubat: Selama masih ada warga atau penduduk kampung yang rajin memohon ampunan, membasahi lidahnya dengan istighfar, dan menyesali dosa-dosa mereka, Allah menahan turunnya bencana atau azab.
Ayat lain yang memperkuat konsep ini adalah Surah Al-Qasas ayat 59:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرٰى حَتّٰى يَبْعَثَ فِيْٓ اُمِّهَا رَسُوْلًا يَّتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِنَاۚ وَمَا كُنَّا مُهْلِكِى الْقُرٰىٓ اِلَّا وَاَهْلُهَا ظٰلِمُوْنَ
“Dan Rabbmu tidak akan membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota negeri itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota, kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan zalim.”
Namun, tertahannya azab bukanlah alasan untuk membuat kita makin jemawa dan terus-menerus berbuat maksiat. Justru, ini adalah bentuk muhlat (kesempatan/penangguhan) dari Allah agar kita segera bertaubat. Jangan sampai kita menunggu teguran keras-Nya baru menyadari betapa rapuhnya kita.
Mari kita jaga kampung kita bukan hanya dengan ronda malam atau membangun infrastruktur yang megah, tetapi juga dengan benteng spiritual: memakmurkan masjid, memperbanyak istighfar, dan mempererat tali silaturahmi. (*)
