Ketaatan golongan lemah kepada kelompok yang memiliki kekayaan, kekuatan, dan sumber daya sering berujung pada penyesalan. Loyalitas mereka disalahgunakan untuk menolak kebenaran. Bantuan, pekerjaan, dan fasilitas yang diberikan tidak selalu lahir dari kepedulian, tetapi dapat menjadi alat untuk mengendalikan sikap. Mereka baru menyadari adanya tipu daya siang dan malam agar terlibat dalam kejahatan dan pelemahan kebenaran.
Allah membongkar kejahatan pihak yang memanfaatkan ketergantungan kaum rentan. Karena merasa tertipu, kelompok lemah meminta agar pihak yang memperdaya mereka dihukum berlipat.
Loyalitas Menentang Kebenaran
Kelompok lemah dan miskin sering menolak kebenaran bukan karena keyakinan hati, tetapi karena siasat kelompok yang memiliki harta, jabatan, jaringan, dan fasilitas. Atas iming-iming bantuan dan perlindungan, mereka bergerak menentang kebenaran.
Fenomena ini tampak ketika orang dibayar untuk menyerang pengungkap korupsi, menyebarkan fitnah di media sosial, atau membentuk opini palsu. Sebagian pelakunya tidak memahami persoalan, tetapi kebutuhan ekonomi membuat mereka menerima perintah. Dalam kehidupan keagamaan, masyarakat awam juga dapat diprovokasi melalui potongan ceramah, berita yang dipelintir, atau sentimen kelompok. Mereka merasa membela agama, padahal mungkin sedang membela ambisi tokoh yang ingin mempertahankan pengaruh.
Mereka yang memperalat dengan uang atau kekuasaan itu pun menyangkal ketika dirinya dituduh sebagai otak intelektual kejahatan itu. Mereka menuduh balik kelompok lemah sebagai manusia yang dasarnya memang pendurhaka dan mudah melakukan kejahatan. Penyangkalan atas siasat buruk dirinya diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
قَالَ الَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْٓا اَنَحْنُ صَدَدْنٰكُمْ عَنِ الْهُدٰى بَعْدَ اِذْ جَاۤءَكُمْ بَلْ كُنْتُمْ مُّجْرِمِيْنَ ٣٢
“(Para pemimpin) yang menyombongkan diri berkata kepada (para pengikut) yang dianggap lemah, ‘Kamikah yang telah menghalangimu memperoleh petunjuk setelah ia datang kepadamu? Sebenarnya kamulah para pendurhaka.’” (QS. Saba’: 32)
Kelompok kuat berusaha melepaskan diri dari tanggung jawab. Pemimpin menyalahkan anggotanya, pejabat menyalahkan bawahan, pemilik perusahaan menyalahkan petugas lapangan, dan Kelompok lemah menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan. Dengan kata lain, mereka yang menjadi otak intelektual kejahatan itu menyangkal dan menyalahkan pihak yang memang dasarnya jahat.
Mendapatkan tuduhan jahat itu, kelompok lemah ini menyangkal dan membongkar tipu daya dan kejahatan. Mereka menuduh balik bahwa dirinya dibujuk agar melakukan perlawanan terhadap nilai-nilai kebenaran dengan iming-iming tertentu. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَالَ الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا لِلَّذِيْنَ اسْتَكْبَرُوْا بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ اِذْ تَأْمُرُوْنَنَآ اَنْ نَّكْفُرَ بِاللّٰهِ وَنَجْعَلَ لَهٗٓ اَنْدَادًاۗ وَاَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَاَوُا الْعَذَابَۗ وَجَعَلْنَا الْاَغْلٰلَ فِيْٓ اَعْنَاقِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ هَلْ يُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٣٣
“Orang-orang yang dianggap lemah berkata, ‘Sebenarnya tipu dayamulah pada waktu malam dan siang ketika kamu menyuruh kami agar kufur kepada Allah dan menjadikan tandingan-tandingan bagi-Nya.”(QS. Saba’: 33)
Tipu daya siang dan malam menggambarkan manipulasi terus-menerus melalui propaganda, disinformasi, intimidasi, tekanan pekerjaan, atau bantuan yang disertai tuntutan loyalitas. Kebohongan yang diulang akhirnya dianggap benar. Orang yang semula ragu ikut karena takut kehilangan pekerjaan, bantuan, atau penerimaan kelompok.
Ketaatan Semu
Kelompok lemah sering menunjukkan loyalitas kuat kepada pemimpinnya. Namun, ketaatan itu belum tentu lahir dari keyakinan tulus. Ia dapat terbentuk karena ketergantungan ekonomi, rasa takut, tekanan sosial, dan harapan memperoleh keuntungan.
Orang miskin seringkali dijadikan kurir barang terlarang, peminjam identitas, penampung rekening, atau pelaksana transaksi ilegal. Mereka menerima imbalan kecil, sedangkan kelompok kuat meraup keuntungan besar. Ketika tertangkap, pemberi perintah sering tidak lagi melindungi. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَالُوْا رَبَّنَآ اِنَّآ اَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاۤءَنَا فَاَضَلُّوْنَا السَّبِيْلَا۠ ٦٧
“Mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar.’” (QS. Al-Ahzab: 67)
Ketaatan buta telah menghilangkan akal sehat dan tanggung jawab moral. Iming-iming berupa harta, atau jabatan sering dijadikan umpan untuk mau melakukan praktek kebohongan, kezaliman, fitnah, atau penindasan, kepada orang lain.
Loyalitas buta seringkali dimanfaatkan oleh kelompok kepentingan yang memiliki harta dan pengaruh. Mereka leluasa memanfaatkan harta dan pengaruhnya untuk menyuruh orang lain berbuat keburukan. Begitu menyadari bahwa dirinya ditipu, maka orang lemah itu berdoa dan melaknatnya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
رَبَّنَآ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًاࣖ ٦٨
“Wahai Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 68)
Hukuman berlipat menunjukkan besarnya tanggung jawab pemimpin yang bukan hanya berbuat jahat, tetapi juga mengarahkan orang lain melakukan kejahatan. Namun, kelompok lemah pun tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab. Mareka tetap mendapat hukuman karena kebodohannya sehingga terjerumus dalam menolak kebenaran.
Karena itu, masyarakat harus membangun benteng moral sehingga tidak mudah dibujuk rayu di tengah kesulitan ekonomi, illiterasi media, carut marut keculasan politik, dan hilangnya standar moral. Sogokan uang tidak boleh menjual kebebasan berpikir dan loyalitas pada kebenaran. Begitulah narasi Al-Qur’an, dimana ketika tipu daya terbongkar, pemimpin yang menyesatkan akan berlepas tangan, sedangkan pengikut yang taat secara buta hanya menyisakan penyesalan.
Surabaya, 2 Juli 2026
