Ketika Amanah Runtuh, Negeri Pun Roboh

Ketika Amanah Runtuh, Negeri Pun Roboh
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Surat At-Tin tak sedang mengajarkan geografi. Ia sedang berbicara tentang peradaban. Ada negeri yang subur, gunung-gunung yang tegak, dan kota yang aman. Alam telah menyediakan panggungnya.

Tetapi Al-Qur’an segera mengalihkan pandangan kita: bukan tanah yang menentukan nasib sebuah bangsa, melainkan manusia yang menghuninya.
Laqad khalaqnal-insāna fī ahsani taqwīm. Manusia diciptakan dalam bentuk terbaik; dialah modal terbesar sebuah negara.

Ironisnya, manusia yang sama juga dapat menjadi sebab keruntuhan. Bukan karena bumi kehilangan kesuburan, melainkan karena hati kehilangan kejujuran. Bukan karena gunung runtuh, tetapi karena amanah dijual.

Bukan karena kekayaan alam habis, melainkan karena akal diperalat oleh keserakahan.

Di situlah makna ayat berikutnya menemukan daya gugatnya: manusia dapat jatuh ke asfala sāfilīn—titik terendah.
Kejatuhan itu bukan sekadar kemiskinan ekonomi, melainkan kemerosotan moral yang akhirnya menjelma menjadi korupsi, ketidakadilan, hukum yang tumpul, dan kekuasaan yang kehilangan rasa malu.

Indonesia sesungguhnya memiliki hampir semua yang digambarkan Surat At-Tin: tanah yang subur, gunung yang menjulang, laut yang luas, dan negeri yang dianugerahi kekayaan luar biasa.

Yang belum tentu kita miliki adalah manusia yang mampu menjaga anugerah itu dengan iman dan amal saleh.
Sebab iman bukan hanya urusan masjid, dan amal saleh bukan hanya ibadah ritual.

Dalam kehidupan bernegara, ia hadir sebagai kejujuran pejabat, keadilan hakim, integritas birokrat, tanggung jawab pengusaha, dan kepedulian warga negara.

Dari sanalah lahir baladil amīn—negeri yang aman karena amanah dijaga.

Maka ancaman terbesar bagi Indonesia bukanlah berkurangnya sumber daya alam, melainkan berkurangnya sumber daya moral.
Sebab sebuah bangsa tidak bangkrut ketika kas negaranya kosong.
Ia bangkrut ketika kebenaran tak lagi dipercaya, ketika amanah diperdagangkan, dan ketika petunjuk dianggap beban.

Barangkali itulah pesan paling sunyi dari Surat At-Tin: Allah telah menciptakan negeri yang mungkin makmur dan manusia yang mampu memakmurkannya.

Selebihnya, sejarah ditentukan oleh pilihan manusia sendiri—menjadi ahsani taqwīm yang memuliakan negeri, atau asfala sāfilīn yang menyeretnya ke jurang kehinaan.

SoeTa, Cengkareng, 28 Juni 2026
#BuyaDarwis

 

Tinggalkan Balasan

Search