Melihat judul di atas mungkin terasa agak aneh dan memicu berbagai pertanyaan: apa maksudnya? Pondok yang dimaksud di sini adalah pondok pesantren. Namun, mengapa dinamakan tanpa tembok? Inilah hal menarik yang perlu kita bahas bersama.
Beberapa tahun lalu, saya diberi amanah untuk memimpin sebuah lembaga baru milik Persyarikatan Muhammadiyah, yaitu Lembaga Pengembangan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Kota Surabaya. Berbekal amanah tersebut, kami langsung bergerak menyusun konsep lembaga pesantren sekaligus berikhtiar mencari lahan strategis untuk dijadikan pilot project.
Secara konsep, perancangan tersebut berhasil dituntaskan. Namun, pembangunan fisik pesantren belum bisa diwujudkan karena keterbatasan dana. Meski begitu, kami tetap berkomitmen menjalankan amanah. Kami mencari pola alternatif agar program pesantren ini tetap terealisasi. Dari sanalah lahir gagasan “Pondok Tanpa Tembok“.
Arti dari konsep ini adalah bahwa pesantren tidak boleh hanya dimaknai sebagai wujud bangunan fisik semata. Kata “tanpa tembok” menegaskan bahwa nilai-nilai keislaman dan kepesantrenan harus benar-benar tertanam di seluruh lembaga pendidikan dasar dan menengah, khususnya di Muhammadiyah Boarding School (MBS).
Oleh karena itu, tim LP2M memilih fokus mengoptimalkan sekolah-sekolah berlabel MBS, sambil terus berikhtiar mewujudkan pilot project pesantren, meskipun dalam skala kecil.
Adapun nilai-nilai kepesantrenan yang perlu kita kembangkan dan tanamkan meliputi:
- Pola Hidup Sehat
- Memperhatikan asupan makanan
- Mandi sebelum subuh
- Menjalankan puasa Senin-Kamis
- Istirahat yang cukup
- Bekerja keras
- Berolahraga
- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan
- Disiplin waktu (segera tidur dan segera bangun)
- Saling menyapa dan ramah
- Nuansa Cinta
- Cinta kepada Allah Swt
- Cinta kepada Rasulullah saw
- Cinta kepada sesama manusia
- Cinta kepada makhluk Allah lainnya
- Cinta dan kasih sayang kepada anak kecil
- Menjaga ikatan dan rasa cinta kepada lawan jenis sesuai syariat
- Mengelola cinta terhadap harta dengan bijak
- Mencintai diri sendiri
- Mencintai kawan sebaya/sesama
- Ikhtiar Keberanian
- Mandi pagi sebelum azan subuh
- Membiasakan puasa sunah sesuai petunjuk Rasulullah saw
- Menjaga wudu
- Salat berjemaah
- Menjaga salat Dhuha
- Menjalankan salat Tahajud
- Rutin membaca Al-Qur’an
- Memperbanyak istigfar
- Gemar bersedekah
Mengapa kita mengelompokkannya dalam angka sembilan? Sebab, angka sembilan adalah angka tertinggi. Angka sembilan juga memiliki keunikan: jika dikalikan dengan angka berapa pun, jumlah digit hasilnya akan selalu kembali menjadi sembilan. Contohnya:
- 9 x 1 = 9
- 9 x 2 = 18 (1 + 8 = 9)
- 9 x 3 = 27 (2 + 7 = 9), dan seterusnya.
Apabila kita istikamah menerapkan sembilan pola hidup sehat, sembilan nilai cinta, dan sembilan keberanian ini (beriman, berhijrah, dan bersungguh-sungguh/berjihad di jalan Allah), kita akan mendapatkan pahala yang besar, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. At-Taubah: 20–22.
Di dunia pesantren sendiri, belakangan kerap terjadi polemik atau kasus yang mencoreng nama baik lembaga. Peristiwa seperti ini semestinya dihindari karena dapat merusak kepercayaan para wali santri.
Namun, kita tidak boleh memukul rata semua pesantren. Saya yakin, dari setiap peristiwa yang terjadi, semua pihak bisa mengambil hikmah untuk membenahi manajemen dan memperkuat sistem pencegahan agar dunia pesantren menjadi jauh lebih baik ke depannya.
Harapan saya, gagasan ini dapat menambah wawasan serta mendorong kita untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui pola hidup yang sehat dan berkualitas. Dengan demikian, akan lahir generasi yang hebat, bermartabat, sehat, kuat, serta saleh dan salehah. Aamiin. (*)
