Sering aku dengar permintaan banyak orang tentang satu hal, ketika berdoa meminta rezeki yang berlimpah, yang sering terlintas di pikiran adalah: “Ya Allah, berikan aku rezeki yang banyak, supaya aku bisa membantu lebih banyak orang.” Tentu itu doa yang baik.
Tapi aku berpikir lebih jauh. Bagaimana kalau rezeki yang cukup ternyata bukan hanya tentang bisa membantu banyak orang, tetapi juga tentang mendapatkan kembali waktu kita?
Ketika kebutuhan hidup sudah tercukupi, mungkin kita tidak perlu menghabiskan seluruh hidup hanya untuk mengejar lebih banyak lagi. Bisa mengatur kembali ritme hidup kita. Tidak setiap hari harus terburu-buru mengejar deadline dunia.
- Bisa salat tanpa terburu-buru karena masih memikirkan pekerjaan.
- Bisa membaca Al-Qur’an dengan tenang dan istikamah.
- Bisa duduk bersama keluarga tanpa merasa bersalah, karena pekerjaan belum selesai.
- Bisa bersedekah tanpa takut kebutuhan sendiri tak terpenuhi.
- Bisa bangun setiap pagi bukan selalu berpikir, “Hari ini aku lebih dekat kepada Allah.”
Ada rezeki yang memberi kita sesuatu yang sering kali tidak bisa dibeli dengan uang: waktu.
Waktu untuk beribadah. Waktu untuk keluarga. Waktu untuk belajar. Waktu untuk beristirahat. Waktu untuk memperbaiki diri.
Karena mungkin salah satu bentuk kekayaan yang paling indah adalah ketika dunia tetap ada di tangan kita, tetapi tidak lagi terlalu menyita hati kita. Kaya bukan hanya ketika kita mampu membeli banyak hal, tetapi ketika rezeki kita cukup, sehingga kita tidak harus menjual seluruh waktu hidup kita untuk mengejar dunia. Kita punya ruang untuk mengatur kembali ritme hidup.
- Lebih tenang.
- Lebih hadir.
- Lebih banyak beribadah.
- Lebih dekat kepada Allah.
Ketika berdoa meminta rezeki, mungkin doaku ingin sedikit berubah:
“Ya Allah, cukupkan kebutuhanku. Berkahilah rezekiku. Luaskan rezekiku tanpa melalaikanku. Berikan aku waktu yang berkah. Beri aku kemampuan mengatur ritme hidupku, agar tidak seluruhnya habis untuk dunia. Dan jangan jadikan dunia membuatku jauh dari-Mu.”
Semoga menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang membacanya. (*)
