#Telaah Kritis tentang Islam, Personifikasi Tokoh dan Etika Politik
Judul sebuah buku bukan sekadar rangkaian kata. Judul adalah pintu pertama yang mengantarkan pembaca memahami isi dan arah pemikiran sebuah karya. Karena itu, pemilihan judul mempunyai konsekuensi akademik, teologis, sosial, bahkan politik.
Belakangan publik ramai memperbincangkan sebuah buku berjudul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam. Buku tersebut bukan buku yang ditulis oleh Presiden Prabowo Subianto. Buku itu mencantumkan Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas sebagai penulis, dan menurut sejumlah pemberitaan telah diterbitkan pada 2025 serta diluncurkan dalam rangkaian Rakornas BAZNAS pada 26 Agustus 2025.
Yang menjadi persoalan bukan semata-mata isi buku, tetapi terutama frasa ‘Islam ala Prabowo’. Frasa tersebut mudah menimbulkan kesan bahwa terdapat suatu bentuk Islam yang dapat dinisbahkan kepada seorang tokoh politik: Islam ala Prabowo.
Padahal, dalam prinsip dasar Islam, Islam bukan hasil pemikiran, kreasi, atau formulasi seorang manusia. Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya, yang mencapai kesempurnaan risalahnya melalui Nabi Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. al-Mā’idah [5]: 3).
Oleh sebab itu, persoalan yang perlu dibahas secara jernih adalah: apakah istilah “Islam ala Prabowo” hanya merupakan gaya bahasa untuk menggambarkan pengamalan nilai Islam oleh seorang tokoh, atau berpotensi dipahami sebagai personifikasi Islam kepada seorang individu? Pertanyaan inilah yang lebih penting daripada sekadar ikut dalam pro dan kontra.
Islam Bukan “Milik” Tokoh atau Kelompok
Islam memiliki sumber yang jelas, yaitu wahyu Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur’an dan dijelaskan melalui Sunnah Rasulullah SAW. Allah berfirman: إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 19). Demikian pula:
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima darinya.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 85).
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mempunyai otoritas sumber yang berada di atas manusia. Karena itu, tidak tepat apabila Islam dipahami sebagai produk seorang tokoh, organisasi, mazhab politik, atau rezim kekuasaan. Dalam perspektif ini, kita perlu berhati-hati terhadap berbagai ungkapan seperti Islam ala tokoh tertentu, apabila ungkapan tersebut dapat memberikan kesan bahwa tokoh itu memiliki versi Islam sendiri.
Islam bukan Islam-nya seseorang. Islam bukan Islam-nya pemerintah. Islam bukan Islam-nya partai politik. Islam bukan pula Islam-nya organisasi tertentu. Yang ada adalah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, sedangkan manusia berusaha memahami, menghayati, mengamalkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam sesuai kemampuan dan kapasitasnya. Di sinilah pentingnya membedakan antara Islam sebagai ajaran dan pengamalan Islam oleh seseorang.
Apakah “Islam ala Prabowo” Berarti Islam Baru?
Secara objektif, tentu tidak boleh tergesa-gesa menyimpulkan bahwa buku tersebut bermaksud menciptakan “Islam baru”. Sejumlah pemberitaan justru menggambarkan buku tersebut sebagai upaya membaca nilai-nilai keislaman, moral, spiritualitas, dan kepemimpinan yang dikaitkan dengan kehidupan Presiden Prabowo. Karena itu, kritik terhadap judul tidak boleh berubah menjadi tuduhan terhadap niat penulis.
Ada perbedaan besar antara: “Islam ala Prabowo” dengan: “Nilai-Nilai Islam dalam Kepemimpinan Prabowo.” Kalimat pertama berpotensi menimbulkan persepsi bahwa terdapat “Islam versi Prabowo”. Kalimat kedua lebih jelas menunjukkan bahwa yang menjadi objek kajian adalah pengamalan nilai-nilai Islam oleh seorang tokoh.
