Ketika Hukum Fisika tak Berlaku di Badan Gizi Nasional

Nanik S. Deyang
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Sejak Robert Hooke mencetuskan karyanya Ut tensio, sic vis (“sebanding dengan tarikannya”) pada tahun 1678, para ilmuwan fisika selama empat abad lebih sepakat pada satu hukum alam, bahwa semakin kuat sebuah pegas ditekan, semakin besar energi potensial yang tersimpan. Begitu tekanan dilepas, energi itu meledak menjadi energi kinetik, melontarkan benda di atasnya dengan makin cepat dan kuat.

Namun, fisika klasik tampaknya harus menundukkan kepala di hadapan dinamika birokrasi dan politik. Pada 22 Juli 2026, Hukum Hooke resmi menemui “pengecualian” pada sosok Nanik S. Deyang.

***

Mundurnya Nanik dari kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) setelah baru sekitar 45 hari menjabat adalah kisah tentang bagaimana manusia, sekuat apa pun ia dicitrakan, bukanlah logam baja tahan karat. Tekanan yang menghantamnya tidak menghasilkan lontaran balik yang perkasa; melainkan sebuah kepatahan dalam sunyi.

Sepotong Pamit di Media Sosial

Di balik megahnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menopang harapan jutaan anak bangsa, ada badai yang menggulung Nanik. Namanya mendadak terseret dalam pusaran investigasi dugaan korupsi MBG yang tengah ditangani Kejaksaan Agung. Di saat bersamaan, nomor telepon pribadinya diberondong teror dan komunikasi asing tanpa henti.

Lelah yang menumpuk dan tekanan yang kian memuncak akhirnya memaksa Nanik membuang nomor pribadinya—sebuah tindakan kecil yang menggambarkan betapa sesaknya ruang napas yang tersisa.

Hukum Hooke meramalkan tekanan itu akan memicu daya dorong pemulih. Namun yang terjadi justru sebaliknya, benteng pertahanannya ambruk, dan kesehatan jantungnya menjadi pertaruhan terakhir.

Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Rabu (22/7/2026), Nanik memilih meletakkan jabatan. Sebuah pamitan bersahaja di jagat maya, tempat di mana publik acap kali menghujat tanpa sempat menanyakan kabar.

“Ini bukan karena saya tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju,” tulis Nanik, menyisipkan alasan kepergiannya ke luar negeri untuk berobat, meski tak menyebut ke negara mana.

Ia juga menambahkan kalimat yang beraroma santun sekaligus satir:

“Saya sampaikan ke Presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya dan Presiden menyetujui. Namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN,” tandasnya.

Patahnya Sang Pegas

Di sinilah letak ironi menyentil yang membuat kita tersenyum kecut. Nanik mundur dari jabatan puncak karena alasan kesehatan dan tekanan yang tak sanggup lagi dipikulnya. Posisinya pun langsung digantikan oleh Sudaryono yang dilantik resmi oleh Presiden Prabowo Subianto.

Namun, meski kursi kekuasaan sudah berpindah dan tubuhnya harus terbang jauh ke negara yang misterius untuk memulihkan detak jantung, Nanik berjanji akan “tetap mengawasi” implementasi MBG.

Betapa sakralnya tugas pengawasan itu, hingga seseorang yang mengaku tak kuat lagi menahan teror dan sakit jantung, masih merasa sanggup memantau program raksasa dari balik ruang perawatan di negeri orang. Sungguh sebuah pengabdian—atau mungkin ilusi—yang melampaui batas kemampuan medis.

Pada akhirnya, cerita Nanik Deyang memberi kita pelajaran berharga bahwa batas elastisitas manusia ada ukurannya. Ketika tekanan politik, teror, dan bayang-bayang kasus hukum memuat beban yang terlampau tebal, pegas itu tak melontarkan apa-apa. Ia tidak melontarkan solusi, tidak pula melontarkan perlawanan yang gagah. Ia hanya patah, hancur, dan memilih melangkah mundur.

Maafkan kami, Robert Hooke. Teori fisikamu yang agung ternyata tak selalu berlaku di atas bagian bumi tempat jabatan dan tekanan saling berbenturan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search