Ketika Nigeria Datang Belajar

Ketika Nigeria Datang Belajar
*) Oleh : Syahrudin Darwis
Anggota Muhammadiyah NBM.495.547
www.majelistabligh.id -

Ada sesuatu yang patut direnungkan ketika sebuah negara bagian di Nigeria datang ke Yogyakarta untuk belajar dari Muhammadiyah. Yobe State menawarkan kerja sama kepada Muhammadiyah setelah mempelajari sejumlah sistem pendidikan di Indonesia dan Malaysia. Mereka melihat Muhammadiyah sebagai rujukan untuk mengembangkan sekolah yang mempertemukan nilai Islam dengan ilmu umum, sains, dan teknologi.

Barangkali yang mereka cari bukan sekadar bentuk sekolah. Mereka sedang mencari cara bagaimana agama tetap mempunyai tempat dalam kehidupan modern tanpa harus berhadapan dengan ilmu pengetahuan.

Muhammadiyah telah lama berjalan di wilayah itu. Sekolah dan perguruan tinggi yang dibangunnya bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar, tetapi bagian dari ikhtiar panjang untuk membentuk manusia yang berilmu sekaligus memiliki tanggung jawab moral. Itulah yang mungkin membuat pengalaman Muhammadiyah menarik bagi Yobe.

Ada pelajaran kecil di sini. Sesuatu yang tumbuh begitu dekat dengan kita sering kali sulit kita lihat nilainya. Kita terbiasa melihat sekolah Muhammadiyah di banyak kota, guru-gurunya, kampusnya, rumah sakitnya, dan amal usahanya. Karena terlalu akrab, semuanya tampak biasa.

Sampai kemudian orang dari tempat yang jauh datang dan bertanya bagaimana semua itu dibangun.
Kita memang tidak kekurangan kebijakan pendidikan. Kurikulum berubah, pendekatan berganti, teknologi datang dengan cepat. Tetapi ada sesuatu yang tidak mudah diganti oleh kebijakan: kesabaran membangun institusi.

Muhammadiyah menghabiskan lebih dari satu abad untuk membangun tradisi tersebut. Tidak semuanya sempurna. Tidak semua persoalan telah selesai. Tetapi keberlanjutan itulah yang membuatnya layak dipelajari.

Karena itu, kerja sama dengan Yobe sebaiknya tidak berhenti pada MoU. Yang lebih penting adalah proses setelahnya: pertukaran guru dan akademisi, pengembangan kurikulum, riset, teknologi pembelajaran, dan peningkatan kemampuan pengelola sekolah.

Dan Muhammadiyah pun perlu terbuka pada kemungkinan bahwa belajar tidak selalu berarti mengajar. Ketika sebuah gagasan dibawa ke lingkungan yang berbeda, ia juga diuji. Nigeria mempunyai konteks sosial dan budaya sendiri. Dari sana Muhammadiyah dapat menemukan pertanyaan-pertanyaan baru yang mungkin tidak muncul di Indonesia.

Mungkin itulah arti sebuah kerja sama yang sehat: bukan satu pihak merasa lebih maju, dan pihak lain sekadar menerima. Keduanya saling belajar.

Nigeria datang ke Yogyakarta untuk melihat apa yang telah dibangun Muhammadiyah.
Kita barangkali perlu berhenti sejenak dan melihatnya kembali—bukan karena orang lain memuji, tetapi karena sesuatu yang telah lama kita miliki belum tentu sudah kita pahami sepenuhnya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search