Tokoh Muhammadiyah dan Tokoh Kesehatan Jiwa di Kalsel Berpulang: Sang Istri Kenang Momen Terakhir 

Tokoh Muhammadiyah dan tokoh Kesehatan Jiwa di Kalsel Berpulang: Sang Istri Kenang Momen Terakhir 
www.majelistabligh.id -

Dunia medis dan keluarga besar Muhammadiyah Kalimantan Selatan berduka. Salah satu dokter spesialis kejiwaan senior sekaligus akademisi terkemuka Banua, dr. Achyar Nawi Husin, Sp.KJ, mengembuskan napas terakhirnya di RSU Syifa Medika pada Kamis (17/9/2026) malam, sekitar pukul 20.30 WITA.

​Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi rekan sejawat, civitas akademika, hingga para pasien yang pernah ditanganinya. Sepanjang hidupnya, dr. Achyar dikenal tak pernah lelah mendedikasikan ilmu dan tenaganya untuk kemanusiaan.

​Di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah, almarhum aktif menyumbangkan gagasan strategis demi kemajuan sarana kesehatan berbasis nilai-nilai keislaman. Tak hanya aktif berorganisasi, beliau juga punya andil besar dalam sejarah lahirnya Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Sebagai salah satu pelopor di sana, almarhum ikut merintis fondasi pendidikan medis dan membimbing ribuan calon dokter yang kini bertugas di berbagai pelosok daerah.

​Gaya mengajar almarhum di ruang kuliah kerap dikenang para alumni sebagai perpaduan antara ketegangan akademis dan kehangatan seorang ayah. Beliau tak sekadar menuntut mahasiswanya menguasai teori psikiatri yang rumit, tetapi selalu menekankan pentingnya empati serta mendengarkan dengan hati saat menghadapi pasien yang sedang terguncang jiwanya.

​Rekam jejak kepemimpinan dr. Achyar di dunia kesehatan publik terbilang sangat lengkap dan matang. Beliau meniti karier dari bawah sebagai Kepala Puskesmas, sebelum akhirnya dipercaya memimpin RS Tamban di Kabupaten Barito Kuala.

​Kiprahnya makin dikenal luas saat menahkodai Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum. Memimpin dalam dua periode—1992 hingga 2007, lalu berlanjut pada 2007 hingga 2009—dr. Achyar sukses memodernisasi layanan kesehatan jiwa di Kalsel. Beliau gigih mengikis stigma negatif terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan menerapkan pendekatan medis yang jauh lebih humanis.

​Tangan dingin almarhum di RS Sambang Lihum juga melahirkan banyak pembenahan fasilitas serta sistem pelayanan yang lebih beradab bagi para pasien. Di bawah arahannya, para staf dan perawat dididik untuk selalu memperlakukan pasien jiwa sebagai manusia yang utuh dan bermartabat, bukan sekadar subjek pengobatan.

​Usai merampungkan tugasnya di RS Sambang Lihum, bakti dr. Achyar tidak berhenti. Beliau tetap aktif melayani masyarakat dan memberikan konsultasi psikiatri di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.

​Di balik perjalanan kariernya yang panjang, ada cerita mengharukan dari saat-saat terakhirnya. Sang istri, Hj. Ernawati, mengenang momen sewaktu mendampingi almarhum di RSU Syifa Medika. Sebelum berpulang, almarhum sempat meminta agar kuku tangan dan jenggotnya dibersihkan.

​Menurut Ernawati, menjaga kebersihan diri setiap hari Kamis menjelang Jumat memang sudah menjadi kebiasaan rutin almarhum semasa hidup. Namun, pihak keluarga saat itu tak mengira jika permintaan sederhana tersebut menjadi penanda kepergiannya.

“Karena kondisi fisik almarhum yang terus menurun malam itu, keluarga belum sempat menuruti permintaannya untuk memotong kuku,” jelasnya.

​Suasana haru pun menyelimuti rumah duka sejak Kamis malam hingga menjelang pemakaman. Para pelayat dari berbagai kalangan—mulai dari pejabat daerah, akademisi, tokoh agama, hingga warga biasa—datang silih berganti memberikan penghormatan terakhir dan mengantarkan doa terbaik untuk almarhum.

​Kini pejuang kesehatan jiwa itu telah berpulang. Arus doa dan ucapan belasungkawa terus mengalir dari jajaran rektorat ULM, pengurus Muhammadiyah, hingga para kolega dokter. Jenazah almarhum dilepas dan dimakamkan pada Jumat usai salat Jumat. Selamat jalan dr. Achyar Nawi Husin, Sp.KJ, dedikasi dan kebaikanmu akan selalu dikenang di bumi Kalimantan Selatan. (agus diannor)

 

Tinggalkan Balasan

Search