Sikap merasa paling benar dan gemar memaksakan kehendak kepada orang lain menjadi ancaman terselubung yang dapat merusak kehidupan sosial. Sikap dominan ini berisiko memicu karakter tughyan—perilaku melampaui batas yang berakar dari kesombongan ego manusia.
Peringatan tersebut disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DI Yogyakarta, Yayan Suryana, di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (18/9/2026).
Yayan menjelaskan, ketakwaan tidak sebatas menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah secara ritual. Dari sudut pandang psikologis, takwa mencakup kesadaran penuh bahwa setiap tindakan manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt.
“Makna takwa lebih pada bagaimana kita selalu merasa bersama Allah dan dikontrol oleh-Nya. Itulah sejatinya orang bertakwa,” ujarnya.
Namun dalam dinamika bermasyarakat, ego pribadi sering kali mengikis kesadaran tersebut. Seseorang yang merasa paling pintar, paling berpengalaman, paling senior, atau paling mengetahui agama berisiko terjebak pada merasa tidak lagi membutuhkan orang lain. Menurut Yayan, ketika ego ini mendominasi, seseorang tengah mengambil alih wilayah yang semestinya milik Tuhan.
“Sikap merasa lebih dari orang lain ini pada akhirnya melahirkan ketidakpedulian hingga tindakan eksploitatif yang merusak tatanan sosial,” tegas Yayan.
Menjelaskan bahaya karakter tersebut, Yayan mengutip kisah Firaun dalam Surah Al-Qasas ayat 4. Firaun digambarkan berlaku sewenang-wenang, memecah belah masyarakat, dan mengeksploitasi kelompok yang lemah. Perilaku ini bermula dari kesombongan kekuasaan hingga berada di puncak tughyan—mengklaim dirinya sebagai tuhan.
Yayan mengingatkan bahwa bibit karakter seperti Firaun bisa muncul dalam bentuk yang sederhana di kehidupan sehari-hari tanpa perlu menjadi penguasa. Perilaku ini kerap terselip dalam pelbagai relasi sosial: antara orang tua dan anak, suami dan istri, pimpinan dan bawahan, hingga ulama dan masyarakat awam.
Ia menyoroti kecenderungan figur-figur tertentu yang enggan dikritik hanya karena merasa paling berilmu. Padahal, menutup ruang diskusi demi memenangkan perdebatan bukanlah cerminan kebenaran.
“Bisa saja seseorang menang debat, tetapi ia memenangkannya dalam keburukan,” ungkapnya.
Sebagai solusinya, Yayan menekankan pentingnya penguatan tauhid. Kalimat lā ilāha illallāh harus berdampak sosial dengan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap kekuasaan, harga diri, maupun ego pribadi. Pengetahuan manusia sangat terbatas, sehingga sikap terbuka dan menghargai pandangan orang lain menjadi bukti nyata penghayatan tauhid.
Penghormatan kepada pimpinan, ulama, maupun orang tua tetap wajib dijaga, tetapi tidak boleh menggeser kedudukan Allah sebagai satu-satunya yang Mahabenar. Urusan bersama pun hendaknya diselesaikan melalui musyawarah (wa amruhum syūrā bainahum), bukan dengan pemaksaan kehendak. (*/tim)
