Ketika Penasihat Disalahkan, dan Kebenaran Tak Lagi Dihiraukan

Ketika Penasihat Disalahkan, dan Kebenaran Tak Lagi Dihiraukan
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim.
www.majelistabligh.id -

Dalam perjalanan hidup manusia, nasihat adalah salah satu cermin paling jujur. Ia hadir bukan untuk menelanjangi aib, melainkan untuk menjaga agar langkah kita tidak terperosok lebih jauh ke dalam jurang kesalahan. Namun, ada fenomena yang kian hari kian marak di tengah masyarakat kita: ketika seseorang memberikan nasihat dengan tulus, justru dialah yang disalahkan, dicurigai, bahkan dimusuhi.

Mengapa kebenaran kian sulit diterima? Mengapa lisan yang mengingatkan justru dianggap musuh, sementara bisikan yang meninabukokan dalam kesesatan dianggap kawan?

1. Fenomena Akhir Zaman: Membalikkan Keadaan

Rasulullah SAW telah mengabarkan fenomena psikologis dan sosial masyarakat masa depan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, beliau bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Saat itu pendusta dibenarkan dan orang yang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dituduh khianat…”

Ketika hati manusia telah terselimuti oleh kesombongan (al-kibr) dan hawa nafsu, tolok ukur kebenaran tidak lagi berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan ego pribadi. Syekh al-Islam Ibnu Taimiyah pernah menjelaskan bahwa definisi kesombongan yang paling berbahaya adalah sebagaimana ditegaskan oleh Nabi SAW:

“Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

Saat penasihat disalahkan, sering kali penyebab utamanya bukanlah cara penyampaian yang buruk, melainkan ketidaksiapan jiwa penerima untuk mengakui bahwa dirinya sedang berada di jalan yang salah.

2. Mengapa Kebenaran Sering Kali Ditolak?

Ada beberapa alasan mengapa kebenaran yang disampaikan justru memicu penolakan dan amarah:

• Penyakit ‘Ujub (Bangga Diri): Merasa diri sudah cukup baik, lebih berilmu, atau lebih berpengalaman sehingga menganggap nasihat orang lain sebagai penghinaan.

• Kehadiran Bithanah as-Su’ (Lingkungan yang Buruk): Ketika seseorang dikelilingi oleh pemuji palsu dan orang-orang yang senantiasa mengamini kesalahannya, suara penasihat jujur akan terdengar seperti gangguan yang tidak menyenangkan.

• Menghamba pada Hawa Nafsu: Kebenaran sering kali terasa pahit karena ia menuntut perubahan dan pengorbanan, sedangkan hawa nafsu menyukai kenyamanan dalam kelalaian.

3. Sikap Para Nabi dan Orang Saleh Saat Dinasihati

Perbedaaan utama antara mukmin yang sejati dan jiwa yang sombong terletak pada merespons teguran. Umar bin Khattab RA, seorang khalifah yang ditakuti musuh-musuhnya, justru sangat mencintai orang yang menunjukkan kesalahannya. Beliau pernah berkata:

“Semoga Allah merahmati seseorang yang menghadiahkan cacat-celaku kepadaku.”

Lihatlah bagaimana Umar memandang nasihat: bukan sebagai serangan, melainkan sebagai hadiah yang berharga.

Bandingkan dengan sikap Firaun ketika dinasihati oleh Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Firaun justru menuduh balik dan memutarbalikkan fakta dengan berkata:
قَالُوْٓا اَجِئْتَنَا لِتَلْفِتَنَا عَمَّا وَجَدْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَا وَتَكُوْنَ لَكُمَا الْكِبْرِيَاۤءُ فِى الْاَرْضِۗ وَمَا نَحْنُ لَكُمَا بِمُؤْمِنِيْنَ
“Mereka berkata, “Apakah engkau (Musa) datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (menyembah berhala), dan agar kamu berdua (Musa dan Harun) mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan beriman kepada kamu berdua.” (QS. Yunus: 78).

Menuduh penasihat memiliki niat buruk adalah pola lama yang dipelihara oleh kesombongan sepanjang sejarah.

4. Pesan untuk Para Penasihat: Jangan Berhenti Menyampaikan Kebaikan

Bagi Anda yang saat ini berada di posisi pemberi nasihat-baik sebagai orang tua, guru, sahabat, maupun dai-lalu kebaikan Anda dibalas dengan prasangka dan celaan, ingatlah firman Allah SWT:
فَاصْبِرْ صَبْرًا جَمِيْلًا
“Maka bersabarlah kamu dengan kesabaran yang baik.” (QS. Al-Ma’arij: 5)

Tugas seorang penasihat hanyalah menyampaikan (al-balagh), sedangkan hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT.

1. Luruskan Niat: Pastikan nasihat disampaikan karena kasih sayang dan rasa takut akan azab Allah yang menimpa saudara kita, bukan untuk merasa lebih superior.

2. Perbaiki Cara (Hikmah): Pilihlah waktu, tempat, dan bahasa yang paling santun.

3. Mendoakan Hidayah: Ketika nasihat ditolak, ikuti jejak Rasulullah SAW yang berdoa: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Zaman boleh berubah, tetapi kebenaran akan tetap menjadi kebenaran, meskipun seluruh dunia menolaknya. Kebatilan pun akan tetap menjadi kebatilan, meskipun jutaan orang merayakannya.

Bagi kita yang hari ini mendengar teguran atau nasihat, resapilah sebelum merespons dengan amarah. Bisa jadi, lisan penasihat yang kita benci hari ini adalah cara Allah menyelamatkan kita dari kehancuran di akhirat kelak. Jangan sampai kita menyadari kebenaran itu ketika kesempatan untuk bertobat telah habis.

 

Tinggalkan Balasan

Search