Ketika Pendidikan Mulai Mengejar Viral

Ketika Pendidikan Mulai Mengejar Viral
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Ada pekerjaan-pekerjaan besar yang sejak awal memang tidak diciptakan untuk menjadi tontonan. Mendidik adalah salah satunya. Pendidikan tumbuh melalui banyak pekerjaan yang sunyi, seorang guru yang sabar mengulang penjelasan kepada murid yang belum mengerti, dosen yang berjam-jam membaca tulisan mahasiswa, kepala sekolah yang memikirkan masa depan anak-anaknya, orang tua yang menitipkan harapan, atau seorang pendidik yang diam-diam mengubah jalan hidup seseorang tanpa pernah mengetahui seberapa besar pengaruhnya.

Tidak ada kamera yang merekam sebagian besar peristiwa itu. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada angka penonton. Namun justru dari kerja-kerja yang tidak terlihat itulah peradaban dibangun.

Kini pendidikan hidup dalam zaman yang berbeda. Sekolah memiliki akun media sosial. Perguruan tinggi mengelola berbagai kanal digital. Guru membuat konten, dosen membangun personal branding, siswa dan mahasiswa tumbuh bersama layar yang hampir tidak pernah padam.

Semua itu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi dapat memperluas jangkauan ilmu, mendekatkan pendidik dengan masyarakat, menyebarkan inspirasi, memperkenalkan karya peserta didik, bahkan membantu sekolah dan perguruan tinggi menemukan calon peserta didiknya. Pendidikan tidak perlu memusuhi zaman untuk mempertahankan martabatnya.

Namun ada kegelisahan yang patut kita pikirkan bersama, bagaimana jika media sosial yang semula hanya menjadi alat perlahan mulai menentukan cara lembaga pendidikan memandang dirinya sendiri? Bagaimana jika sekolah tidak lagi sekadar menggunakan media sosial, tetapi mulai menyesuaikan kegiatan pendidikannya dengan selera media sosial? Bagaimana jika pertanyaan “apa manfaatnya bagi peserta didik?” perlahan tergeser oleh pertanyaan “apakah ini bisa viral?”

Di sinilah persoalannya menjadi jauh lebih serius daripada sekadar guru atau dosen berjoget di depan kamera. Seorang guru menari bersama murid dalam pertunjukan seni tidak dengan sendirinya kehilangan kewibawaan. Dosen yang membuat konten humor tidak otomatis kehilangan kedalaman intelektual. Pendidikan bukan dunia yang harus selalu berwajah tegang. Kegembiraan, keakraban, kreativitas, dan humor justru dapat membuat proses belajar lebih manusiawi. Martabat bukan kekakuan. Wibawa bukan kemuraman.

Persoalan bermula ketika perhatian berubah menjadi tujuan. Ketika seorang pendidik merasa harus terus tampil agar dianggap relevan. Ketika popularitas mulai diperlakukan seolah-olah sama dengan kredibilitas. Ketika sebuah sekolah lebih bangga karena videonya ditonton jutaan orang daripada karena kualitas pembelajarannya semakin baik.

Ketika kampus lebih sibuk mempercantik citra daripada memperbaiki substansi. Ketika keberhasilan perlahan dihitung dengan jumlah pengikut, komentar, dan tayangan, sementara hal-hal yang sesungguhnya menentukan mutu pendidikan justru semakin sulit memperoleh perhatian.

Kita sedang hidup dalam ekonomi perhatian. Hampir semua orang berlomba agar dilihat, didengar, dibicarakan, dan dibagikan. Di ruang digital, sesuatu yang ramai sering dianggap penting, sesuatu yang viral terasa seperti keberhasilan, dan sesuatu yang sepi mudah dianggap tidak bernilai. Padahal pendidikan bekerja dengan ukuran yang berbeda. Membentuk karakter membutuhkan waktu. Menanamkan kejujuran membutuhkan keteladanan. Menghasilkan seorang ilmuwan membutuhkan proses bertahun-tahun. Membimbing seorang anak menemukan masa depannya tidak dapat diringkas menjadi video beberapa detik.

Satu juta penonton tidak sama dengan satu juta manfaat. Ribuan tanda suka tidak otomatis menjadi tanda mutu. Popularitas tidak selalu sejalan dengan kehormatan. Viralitas juga bukan ukuran akademik.
Karena itu, sekolah dan kampus perlu menjaga jarak kritis terhadap godaan untuk selalu tampil. Boleh dikenal, tetapi jangan kehilangan alasan mengapa ingin dikenal. Boleh berpromosi, tetapi jangan sampai promosi lebih besar daripada mutu yang dipromosikan. Boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai setiap tren dianggap harus diikuti.

Lembaga pendidikan seharusnya tidak hanya mampu mengikuti zaman, tetapi juga mempunyai keberanian untuk mengatakan kepada zaman bahwa tidak semua yang ramai layak ditiru.

Ada persoalan yang lebih halus ketika peserta didik mulai dilibatkan dalam produksi konten. Anak-anak datang ke sekolah sebagai manusia yang sedang bertumbuh, bukan sebagai bahan baku promosi. Mahasiswa memasuki ruang kuliah sebagai subjek pembelajaran, bukan sebagai properti personal branding dosennya. Wajah mereka, suara mereka, kekeliruan mereka, candaan mereka, bahkan ketidaktahuan mereka memiliki martabat yang harus dijaga.

Sebuah video mungkin hanya bertahan beberapa detik di layar, tetapi jejak digital dapat tinggal jauh lebih lama daripada masa sekolah seseorang. Apa yang hari ini dianggap lucu mungkin beberapa tahun kemudian menjadi sesuatu yang memalukan bagi orang yang direkam. Karena itu, persetujuan, privasi, kepantasan, dan penghormatan terhadap peserta didik harus lebih penting daripada potensi sebuah konten untuk memperoleh jutaan penonton.

Mungkin kita perlu membiasakan beberapa pertanyaan sebelum menekan tombol unggah. Apakah konten ini benar-benar memberi manfaat? Apakah martabat orang yang ada di dalamnya tetap terjaga? Apakah seorang siswa atau mahasiswa memiliki kebebasan untuk tidak ikut direkam? Apakah kita akan tetap bangga terhadap konten ini lima atau sepuluh tahun mendatang? Dan ada satu pertanyaan yang barangkali paling jujur, apabila jumlah penonton, tanda suka, komentar, dan pengikut tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun, apakah kita masih merasa konten ini perlu dibuat?

Pertanyaan terakhir itu mungkin dapat membantu kita mengetahui siapa yang sebenarnya sedang kita layani, pendidikan atau perhatian.

Kita juga perlu memahami keadaan para pengelola lembaga pendidikan dengan penuh empati. Tidak semua sekolah berada dalam kondisi mudah. Tidak semua perguruan tinggi mempunyai kemewahan untuk mengabaikan persaingan. Ada institusi yang harus bekerja keras mendapatkan peserta didik, mempertahankan operasional, menjaga pekerjaan para guru dan dosennya, sekaligus menghadapi perubahan demografi dan pilihan masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, pemasaran menjadi kebutuhan yang sangat masuk akal. Tetapi justru ketika tekanan semakin berat, kompas moral semakin dibutuhkan. Jangan sampai karena takut kehilangan siswa, sekolah kehilangan identitasnya. Jangan sampai karena mengejar mahasiswa, perguruan tinggi kehilangan kehormatannya. Jangan sampai lembaga pendidikan berhasil menyelamatkan jumlah pendaftar, tetapi diam-diam kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit dikembalikan, kepercayaan terhadap martabat pendidikan.

Kepada guru dan dosen, hadirlah di media sosial jika memang di sana ada ruang untuk menebarkan manfaat. Bawalah ilmu, kebijaksanaan, humor yang sehat, karya, dan keteladanan ke dalamnya. Tidak perlu menjadi kaku agar dihormati. Tetapi kita juga tidak harus meniru segala sesuatu yang dilakukan generasi muda agar dianggap dekat dengan mereka. Anak didik tidak selalu membutuhkan orang dewasa yang menyerupai mereka. Kadang mereka justru membutuhkan seseorang yang menunjukkan bahwa kedewasaan memiliki standar, bahwa kebebasan memiliki batas, bahwa kecerdasan memiliki kedalaman, dan bahwa hidup tidak harus selalu dipertontonkan untuk menjadi berarti.

Kepada siswa dan mahasiswa, jadilah kreatif tanpa kehilangan kesadaran. Tidak semua yang dapat direkam harus disiarkan. Tidak semua yang dapat mengundang tawa harus dijadikan tontonan. Dunia digital mempunyai ingatan yang lebih panjang daripada kegembiraan sesaat kita.

Kepada kepala sekolah, rektor, yayasan, pengelola humas, dan semua pihak yang menentukan wajah institusi di ruang digital, jagalah satu hal yang paling berharga, jangan biarkan strategi komunikasi mendikte misi pendidikan. Media sosial seharusnya memperlihatkan kualitas yang benar-benar ada, bukan menciptakan ilusi tentang kualitas yang tidak pernah dibangun.

Pada akhirnya, persoalan kita bukan tentang TikTok, Instagram, tarian, atau tren tertentu. Tren akan datang dan pergi. Platform akan berganti. Algoritma akan berubah. Tetapi satu pertanyaan akan selalu tinggal, untuk apakah sekolah dan kampus didirikan?

Jika pendidikan menggunakan media sosial untuk memperluas kebaikan, maka teknologi sedang berada di tempat yang benar. Tetapi ketika media sosial mulai menentukan bagaimana pendidikan harus bersikap agar mendapatkan perhatian, kita perlu waspada bahwa alat mungkin sedang perlahan mengambil alih tujuan.

Sekolah dan kampus boleh terkenal. Guru dan dosen boleh populer. Peserta didik boleh tampil dan berkarya. Bahkan semoga semakin banyak kebaikan pendidikan yang diketahui dunia.
Namun di tengah kegaduhan untuk menjadi viral, jangan sampai kita lupa bahwa pendidikan tidak pernah didirikan untuk menghasilkan tontonan. Pendidikan didirikan untuk membentuk manusia.

Dan mungkin tugas terbesar kita hari ini bukan membuat pendidikan semakin terlihat, melainkan memastikan bahwa ketika seluruh dunia melihatnya, yang mereka temukan tetaplah ilmu, keteladanan, kedalaman, kehormatan, dan martabat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search