Kiai Mas Mansur Tidak Mengejar Jabatan

Kiai Mas Mansur Tidak Mengejar Jabatan
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

#Keteladanan Kepemimpinan Dari Kongres Muhammadiyah Ke-26 Tahun 1937

Sejarah Muhammadiyah tidak hanya menyimpan kisah tentang perjuangan mendirikan sekolah, membangun rumah sakit, mengembangkan tabligh, mencerdaskan umat, dan membangun amal usaha. Di dalam sejarah tersebut juga tersimpan keteladanan tentang bagaimana sebuah organisasi melakukan regenerasi kepemimpinan secara bermartabat.

Salah satu episode yang sangat menarik adalah proses terpilihnya K.H. Mas Mansur sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta pada Oktober 1937. Peristiwa tersebut memiliki nilai historis yang sangat penting karena proses pergantian kepemimpinan tidak berlangsung melalui perebutan kekuasaan, apalagi dengan politik saling menjatuhkan. Sebaliknya, terdapat kesediaan generasi senior memberi ruang kepada generasi berikutnya, sikap tawadhu’ dari tokoh-tokoh yang dianggap layak, serta kesediaan menerima amanah setelah diminta oleh umat.

Secara resmi, Kongres ke-26 berlangsung di Yogyakarta pada 6–15 Oktober 1937, dan dalam kongres tersebut Mas Mansur ditetapkan sebagai Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah. Ia kemudian memimpin Muhammadiyah hingga 1943. (Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1938; Muhammadiyah, 2022). (Khazanah Muhammadiyah)

Yang membuat kisah ini semakin menarik ialah bahwa Mas Mansur bukan tokoh yang sejak awal tampil, bukan sebagai tokoh yang ambisius dan mengejar jabatan. Bahkan ketika diminta menjadi calon President HB Muhammadiyah, ia pada awalnya menolak.

Kisah ini layak direnungkan kembali, khususnya ketika Muhammadiyah terus melakukan regenerasi dan mempersiapkan kepemimpinan untuk menghadapi tantangan zaman.

Dinamika Muhammadiyah Menjelang Kongres 1937
Sebelum Mas Mansur tampil sebagai Ketua Pengurus Besar, Muhammadiyah berada di bawah kepemimpinan K.H. Hisyam. Ia terpilih sebagai Ketua pada Kongres ke-23 tahun 1934 dan kembali dipercaya pada Kongres ke-24 tahun 1935 serta Kongres ke-25 tahun 1936. (Muhammadiyah, 2022). (Muhammadiyah Resmi)

Pada masa Hisyam, Muhammadiyah mengalami perkembangan yang cukup pesat, terutama dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah Muhammadiyah berkembang luas. Bahkan pada masa tersebut Muhammadiyah memanfaatkan subsidi pemerintah kolonial untuk mengembangkan pendidikan pribumi. Bagi kelompok yang mendukung kebijakan tersebut, subsidi dipandang sebagai sarana agar umat Islam tidak tertinggal dalam bidang pendidikan dari lembaga pendidikan lain yang telah memperoleh dukungan pemerintah kolonial. (Mu’arif, 2021). (Suara Muhammadiyah)

Namun, perkembangan organisasi tersebut sekaligus melahirkan dinamika internal. Sebagian generasi muda Muhammadiyah mulai mengkritisi orientasi Pengurus Besar yang dinilai terlalu kuat memberikan perhatian kepada pendidikan dan sekolah, sementara bidang tabligh dan penyiaran Islam dianggap belum memperoleh perhatian yang seimbang.

Di samping persoalan orientasi gerakan, muncul pula persoalan regenerasi. Menurut catatan sejarah yang dihimpun Djarnawi Hadikusuma, pengaruh kepemimpinan saat itu sangat kuat berada pada tiga tokoh senior, yaitu K.H. Hisyam, K.H. Syujak, dan K.H. Mochtar. Oleh sebagian kalangan, mereka disebut sebagai kelompok “kaum tua”. Kritik tersebut kemudian mendorong munculnya aspirasi dari kalangan muda agar terjadi penyegaran kepemimpinan. (Mu’arif, 2021). (Suara Muhammadiyah)

Namun, yang patut dicatat adalah perbedaan pandangan tersebut tidak berakhir dengan perpecahan. Inilah salah satu pelajaran penting dari Muhammadiyah masa lalu.

Generasi Tua Tidak Mempertahankan Kekuasaan
Ketika aspirasi generasi muda semakin kuat, Ki Bagus Hadikusumo dan K.H. Hadjid tampil sebagai mediator. Mereka berusaha mempertemukan aspirasi generasi muda dengan para pemimpin senior. Dialog dilakukan sehingga ketegangan dapat diredakan dan proses regenerasi dapat dibicarakan secara terbuka.

Sikap para tokoh senior sangat menarik. K.H. Hisyam dan tokoh-tokoh senior lainnya pada akhirnya dapat menerima aspirasi regenerasi. Mereka tidak memandang jabatan sebagai sesuatu yang harus dipertahankan mati-matian.

Dalam catatan sejarah yang dikutip Suara Muhammadiyah, Hisyam menegaskan bahwa bekerja dalam Muhammadiyah bukanlah untuk mencari kedudukan ataupun keuntungan pribadi. Jika tidak lagi dipercaya menjadi pengurus besar, ia menyatakan kesediaannya ditempatkan di mana saja dalam Muhammadiyah. (Mu’arif, 2021). (Suara Muhammadiyah)

Inilah akhlak organisasi yang sangat penting. Ketika seseorang memahami kepemimpinan sebagai amanah, kehilangan jabatan tidak berarti kehilangan kehormatan.

Sebaliknya, kehormatan seorang aktivis justru terlihat ketika ia mampu menerima keputusan organisasi dengan lapang dada. Karena itu, regenerasi dalam sejarah Muhammadiyah 1937 bukanlah sekadar pergantian orang. Ia merupakan proses pendidikan akhlak kepemimpinan.

Generasi tua memberikan ruang. Generasi muda tidak mengambilnya dengan cara-cara yang merusak persaudaraan. Dan organisasi tetap berjalan.

 

Tinggalkan Balasan

Search