Dalam peristiwa kurban, kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, terdapat satu simbol kecil tetapi menyimpan makna sangat besar tentang sebuah pisau yang kehilangan ketajamannya.
Riwayat-riwayat tafsir menjelaskan bahwa ketika Nabi Ibrahim menjalankan perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, pisau yang digunakan untuk menyembelih itu tidak mampu melukai sedikit pun. Allah kemudian menggantinya dengan seekor domba besar sebagai tebusan kurban. Kisah ini dijelaskan dalam QS. Ash-Shaffat ayat 102-107 dan diterangkan dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azim karya Imam Ibn Kathir (w. 1373 M).
Secara filosofis, peristiwa ini menghancurkan kesombongan manusia terhadap logika sebab-akibat. Pisau secara hukum alam pasti fungsinya memotong. Namun dalam kisah Ibrahim, benda kehilangan daya potongnya di hadapan kehendak Tuhan. Ketajaman ternyata bukan milik pisau itu sendiri, melainkan bagian dari kuasa Allah.
Filsuf Jerman Martin Heidegger dalam The Question Concerning Technology (1954) mengingatkan bahwa manusia modern terlalu percaya pada instrumen dan teknologi sebagai pusat kekuasaan hidup. Manusia merasa mampu mengendalikan segala sesuatu melalui alat dan sistem rasional. Padahal, selalu ada dimensi spiritual yang melampaui kemampuan teknologi manusia.
Pisau Nabi Ibrahim menjadi simbol bahwa tidak ada kekuatan yang benar-benar mutlak. Ketika Tuhan menghendaki, sesuatu yang tajam dapat menjadi tumpul, dan sesuatu yang tampak kuat dapat kehilangan daya.
Karena itu, peristiwa kurban bukan sekadar tentang penyembelihan. Yang sesungguhnya “disembelih” adalah ego manusia tentang rasa memiliki, kesombongan, dan keterikatan duniawi. Secara lahiriah, Allah tidak menghendaki darah Nabi Ismail, tetapi secara batiniah adalah ketulusan Nabi Ibrahim.
Pisau-Pisau Sosial di Era Digital
Jika dahulu pisau hadir dalam bentuk besi dan pedang, hari ini manusia hidup di tengah “pisau-pisau digital.” Ketajaman tidak lagi tampak secara fisik, tetapi bekerja melalui kata-kata, informasi, media sosial, dan opini publik.
Satu komentar dapat menghancurkan martabat seseorang. Satu fitnah dapat memecah masyarakat. Satu potongan video dapat membangkitkan kebencian massal. Ketajaman digital sering kali lebih berbahaya daripada senjata fisik karena melukai batin dan kehidupan sosial manusia.
Dalam Adab al-Dunya wa al-Din, Imam Al-Mawardi (w. 1058 M) menjelaskan bahwa kerusakan masyarakat bermula dari hilangnya adab dalam berbicara dan dominasi hawa nafsu dalam komunikasi. Ketika manusia tidak lagi menjaga lisannya, masyarakat akan kehilangan ketenteraman dan persaudaraan sosial.
Apa yang dijelaskan Al-Mawardi terasa sangat relevan di era media sosial. Banyak orang lebih ingin menjadi viral daripada benar. Ketajaman kata lebih dihargai daripada kebijaksanaan. Ruang digital akhirnya berubah menjadi arena pertarungan ego.
Dalam Tafsir al-Qur’an al-’Azim, Imam Ibn Kathir ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah ayat 191 menjelaskan bahwa fitnah lebih besar bahayanya daripada pembunuhan karena fitnah menghancurkan ketenteraman sosial manusia. Di era digital, fitnah menyebar jauh lebih cepat daripada masa klasik. Sekali seseorang dihancurkan di ruang maya, jejak luka itu sering bertahan lama.
Media sosial membuat manusia mudah melukai tanpa merasa sedang melukai. Orang dapat menghina, menghakimi, dan mempermalukan sesama hanya melalui layar kecil di tangannya. Ketajaman kini tidak lagi berada di ujung pisau, tetapi di ujung jari.
Menumpulkan Ketajaman dengan Adab
Yang membuat dunia modern semakin rumit adalah bahwa kemarahan dan konflik kini menjadi komoditas. Semakin gaduh suatu pertengkaran, semakin besar perhatian publik yang diperoleh. Akibatnya, banyak manusia kehilangan empati karena terlalu terbiasa melihat penghinaan sebagai hiburan.
Di sinilah kisah Nabi Ibrahim menjadi sangat penting untuk dibaca ulang. Pisau kehilangan ketajamannya karena ada nilai ketuhanan yang menghentikan kekerasan. Artinya, manusia membutuhkan moral dan spiritualitas agar ketajaman tidak berubah menjadi kehancuran.
Dalam Riyadh al-Salihin, Imam Yahya ibn Sharaf al-Nawawi (w. 1277 M) membeberkan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Hurairah: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berkata baik atau diam.”
Hadis ini terasa sangat mendalam di era digital. Sebab media sosial mendorong manusia untuk terus berbicara, berkomentar, dan bereaksi tanpa jeda. Banyak orang tidak lagi bertanya apakah perkataannya baik, tetapi apakah perkataannya dapat menarik perhatian.
Tradisi pesantren sebenarnya telah lama mengajarkan etika menjaga lisan, tabayyun, dan menahan diri dari menyakiti sesama. Santri diajarkan bahwa ilmu bukan untuk memenangkan pertengkaran, tetapi untuk memperhalus hati. Karena itu, tantangan terbesar manusia modern bukan menciptakan teknologi yang semakin tajam, melainkan menghadirkan adab agar ketajaman itu tidak melukai manusia lain.
Kisah Nabi Ibrahim akhirnya mengajarkan satu hal penting bahwa ketajaman harus tunduk kepada kasih sayang dan cinta. Pisau tajam boleh ada, teknologi digital boleh berkembang, media sosial boleh bergerak cepat, tetapi kemanusiaan dan cinta tidak boleh hilang. Sebab dunia hari ini sesungguhnya tidak kekurangan kecerdasan. Dunia hanya kekurangan cinta yang mampu menghentikan ketajaman sebelum melukai sesama manusia. (*)
