Kisah mengenai orang tuli yang bisa “mendengar” atau berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah bentuk keajaiban spiritual dan motivasi yang luar biasa. Fenomena ini sering dikaitkan dengan kemukjizatan Al-Qur’an yang menyentuh hati dan jiwa, melampaui keterbatasan fisik.
Ada kisah tentang sosok yang tidak bisa mendengar atau berbicara (bisu tuli), namun mampu menghafal dan membaca Al-Qur’an dengan isyarat. Ini menunjukkan bahwa mukjizat Al-Qur’an dapat menembus segala keterbatasan.
Kisah tersebut adalah kejadian yang menimpa Isa bin Mina bin Wardan bin Isa bin Abdus Shamad bin Umar bin Abdullah az-Zuraqi, maula Banī Zuhrah, berkuniah: Abu Musa, dan lebih dikenal dengan gelarnya Qālūn adalah murid utama dari Imam Nāfi’ al-Madanī, salah satu imam qirā’āt besar dari kota Madinah. Bacaan yang kita kenal dengan “Riwayat Qālūn ‘an Nāfi’” dinisbahkan kepadanya.
Namun, yang menarik adalah kisahnya sebagi berikut:
قال أبو محمد البغدادي:
“كان قالون أصم شديد الصمم لا يسمع البوق، فإذا قرئ عليه القرآن سمعه. وكان يقرئ القراء ويفهم خطأهم ولحنهم بالشفة، ويرده إلى الصواب.”
“Qālūn adalah seorang tuli — bahkan suara terompet pun tidak ia dengar. Tapi jika Al-Qur’an dibacakan kepadanya, ia dapat mendengarnya. Ia mengajari para qārī’, memahami kesalahan mereka hanya dari gerakan bibir, dan membetulkannya dengan tepat.”
Keajaiban Al-Qur’an…
Suara yang tak terdengar oleh telinga yang rusak, mampu menembus dengan jelas ketika itu adalah firman Allah.
Lihatlah, Al-Qur’an bukan hanya untuk telinga yang sehat. Ia adalah cahaya yang mampu menembus hati, bahkan hati yang selama ini tertutup. Bukan cuma suara yang terdengar, tapi rahmat yang masuk dan menetap. Maka bersyukurlah jika kita masih bisa mendengarkan Al-Qur’an.
Lebih dari itu: maukah kita menjadi seperti Qālūn, hidupnya untuk Al-Qur’an, meski telinganya tak pernah benar-benar mendengar dunia?
Al-Qur’an adalah Asy-Syifa (penyembuh). Bagi teman tuli, membaca atau merasakan ayat Al-Qur’an dapat membawa ketenangan mental dan spiritual yang mendalam, terlepas dari keterbatasan pendengaran.
“Mendengar” dengan Hati dan Isyarat: Meskipun tidak mendengar secara fisik, banyak teman tuli merasakan getaran dan makna ayat Al-Qur’an melalui visualisasi, isyarat, dan pemahaman hati. || Disarikan dari kitab Tārīkh al-Qurrā’ wa Ruwātuhum, karya Syaikh ‘Abdul Fattāh al-Qāḍī.
