Kesalehan individu dinilai tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman dan disrupsi peradaban modern jika tidak ditransformasikan menjadi kesalehan sosial, relasional, dan institusional.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, K.H. Fathurrahman Kamal, Lc., M.S.I., saat menyampaikan amanat kunci (keynote speech) pada Pembukaan Festival Anak Sholeh Muhammadiyah (Fashmu) Ke-3 di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Sabtu (25/7/2026).
Di hadapan ratusan pimpinan persyarikatan, pendidik, dan kontingen se-Jawa Timur, Fathurrahman menegaskan bahwa persyarikatan Muhammadiyah hadir bukan sekadar mengumpulkan orang-orang baik, melainkan membangun “umat” yang memiliki misi kenabian dan risalah Islam.
“Kesalehan individu tidak mungkin melahirkan umat jika berhenti pada diri sendiri. Orang saleh perlu mentransformasikan dirinya menjadi kesalehan yang bersifat relasional dan diwujudkan secara institusional. Di situlah fungsi risalah hadir,” tegas Fathurrahman.
Mengutip pemikiran ulama dan filsuf pendidikan Islam Prof. Dr. Majid Irsan Al-Kilani, ia menjelaskan konsep hakiki tentang umat. Menurutnya, umat bukanlah sekadar himpunan kuantitas manusia, melainkan perpaduan antara manusia dan risalah (insan plus risalah). Tanpa adanya pegangan risalah Islam yang berkemajuan, keberadaan suatu komunitas akan kehilangan fondasi peradabannya.
Lebih lanjut, Fathurrahman menyoroti predikat khairu ummah (umat terbaik) yang termaktub dalam Al-Qur’an. Ia mengingatkan para pendidik dan pengasuh generasi muda Muhammadiyah agar tidak terjebak pada klaim pasif.
“Predikat umat terbaik itu bukan status eksistensial yang kita terima begitu saja hanya karena bersyahadat. Khairu ummah adalah predikat fungsional. Seberapa jauh hidup kita fungsional dalam melahirkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan menegakkan iman,” ungkapnya.
Fathurrahman juga mencermati fenomena pergeseran pilihan masyarakat urban saat ini yang kian melirik lembaga pendidikan berbasis Islam. Menurut data yang ia cermati, masyarakat kini mencari sekolah yang tidak hanya mengajarkan materi akademik, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang menjamin keselamatan ideologis dan moral anak-anak mereka.
Oleh karena itu, keberadaan amal usaha Muhammadiyah—mulai dari sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi—harus menjadi etalase konkrit dari manifestasi iman (tajsidul iman). Ia mendorong para guru dan pengelola sekolah Muhammadiyah untuk terus mengasah kapasitas diri dan memiliki mindset yang canggih serta futuristik.
“Anak-anak kita sejak kecil harus di-engineering pemikirannya bahwa mereka tidak cukup hanya menjadi anak yang saleh secara pribadi. Mereka harus disiapkan menjadi pembangun peradaban yang berani tampil menjadi penentu dan saksi kebaikan di tengah masyarakat,” tambahnya.
Rangkaian Fashmu ke-3 yang mengusung tema “Aksi Nyata Anak Muhammadiyah dari Jawa Timur untuk Peradaban Dunia” ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang kompetisi seremonial tahunan semata. Melalui penggemblengan di wadah seperti Fashmu, lahir kader-kader yang militan, berakhlak mulia, kokoh tauhidnya, serta siap menjadi pelopor persyarikatan di masa depan. || chusnun
