Keunggulan Kampus Muhammadiyah Harus Sejalan dengan Penguatan Ideologi

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal.
www.majelistabligh.id -

Dalam mengejar kemajuan, pengakuan akademik, dan daya saing kelembagaan, Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) jangan pernah menanggalkan ideologi persyarikatan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, dalam acara Tabligh Akbar Milad ke-62 Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) di Auditorium Kampus, akhir Ahad lalu.

Fathurrahman menilai, keberhasilan PTMA tidak cukup diukur dari megahnya pembangunan fisik, bertambahnya program studi, lonjakan jumlah mahasiswa, maupun capaian akademik belaka. Lebih jauh, keberhasilan sejati ditentukan oleh sejauh mana kampus mampu menjadikan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai fondasi utama pengembangan institusi.

“Lembaga yang mampu bertahan menghadapi perubahan sosial dan pergolakan kebudayaan adalah lembaga yang memiliki basis nilai serta orientasi ideologis yang kuat,” tegas Fathurrahman.

Menurutnya, Muhammadiyah bukan sekadar identitas nama, melainkan sumber nilai dan ajaran yang menjiwai tata kelola kampus, pengembangan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, hingga keberpihakan terhadap persoalan masyarakat.

Oleh karena itu, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) tidak boleh berhenti sebatas formalitas kurikulum. AIK harus menjadi ruh yang menggerakkan etika akademik, budaya kerja, serta iklim interaksi seluruh civitas akademika.

Menyinggung pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), Fathurrahman mengingatkan bahwa kemudahan akses pengetahuan saat ini tidak akan pernah bisa menggantikan peran seorang dosen.

“Teknologi dapat menyampaikan pengetahuan, tetapi tidak dapat mentransformasikan ruh. Tugas dosen adalah menubuhkan konsep-konsep keimanan dalam kehidupan nyata,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa indikator keberhasilan AIK tidak hanya dilihat dari nilai ujian atau kelancaran mahasiswa mengutip ayat dan hadis. Keberhasilan tersebut harus mewujud nyata dalam kejujuran akademik, kedisiplinan, kematangan moral, serta kepedulian sosial seluruh warga kampus. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search