Khotbah Jumat: Menjaga Kehormatan dengan Sifat Malu

Khotbah Jumat: Menjaga Kehormatan dengan Sifat Malu
*) Oleh : Warnoto, SM
Majelis Tabligh PCM Kerek Tuban
www.majelistabligh.id -

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ،َأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jemaah Salat Jumat Rahimakumullah
Salah satu akhlak mulia yang sangat dijunjung tinggi dalam Islam adalah sifat malu (al-haya’). Malu bukanlah kelemahan, melainkan tanda kuatnya iman seseorang.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ
Malu itu bagian dari iman.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan:
Iman memiliki lebih dari 60 cabang, dan malu adalah salah satu cabangnya.”
(HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa semakin kuat rasa malu seseorang—khususnya malu kepada Allah—maka semakin kuat pula imannya.

Malu yang Hakiki
Jamaah sekalian, malu dalam Islam bukan sekadar malu kepada manusia, tetapi yang paling utama adalah malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:
أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”
(QS. Al-‘Alaq: 14)

Malu kepada Allah berarti kita merasa diawasi, sehingga kita enggan melakukan maksiat meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Rasulullah bersabda:“Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.”Para sahabat berkata: “Kami sudah malu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda:

“Bukan itu, tetapi malu kepada Allah yang sebenarnya adalah menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dan apa yang dimakannya…” (HR. Tirmidzi)

Malu Menjaga Kehormatan
Jamaah rahimakumullah, sifat malu berfungsi sebagai benteng kehormatan. Orang yang memiliki rasa malu akan menjaga: lisannya dari berkata kotor, pandangannya dari yang haram, perbuatannya dari maksiat dan kehormatannya dari perbuatan tercela

Allah berfirman:
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya…”
(QS. An-Nur: 30)
Ini semua berakar dari rasa malu yang benar.

Selain sebagai perisai kehormatan, malu juga merupakan benteng akhlak,. Orang yang memiliki rasa malu akan menjaga dirinya dari hal-hal yang merendahkan martabat.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Jika engkau tidak punya rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini adalah peringatan keras bahwa ketika rasa malu hilang, maka manusia akan terjerumus ke dalam kehinaan tanpa batas.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Ke Dua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الْآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
أَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Fenomena Hilangnya Rasa Malu
Jemaah yang dimuliakan Allah,
Di zaman sekarang, kita menyaksikan fenomena yang sangat memprihatinkan: hilangnya rasa malu di tengah umat. Aurat dibuka tanpa rasa bersalah. Dosa dipamerkan di media sosial, perkataan kasar dianggap biasa. Kebohongan dan fitnah disebarkan tanpa takut.

Korupsi dan kecurangan dianggap hal lumrah. Yang lebih menyedihkan, sebagian orang malu berbuat baik, tetapi tidak malu berbuat maksiat. Inilah tanda melemahnya iman dalam hati.

Langkah Menghidupkan Kembali Budaya Malu
Jemaah rahimakumullah,
Agar kita kembali menjadi umat yang mulia, maka sifat malu harus kita hidupkan kembali dalam kehidupan:
1. Menanamkan rasa diawasi oleh Allah Sadari bahwa Allah selalu melihat setiap perbuatan kita.
2. Menjaga diri di ruang nyata dan digital. Jangan sampai kita berani bermaksiat di media sosial yang disaksikan banyak orang.
3. Memilih lingkungan yang baik. Lingkungan yang saleh akan menumbuhkan rasa malu dalam kebaikan.
4. Membiasakan diri menjaga lisan dan pandangan. Karena dari situlah banyak dosa bermula.
5. Malu meninggalkan ibadah. Tanamkan dalam hati rasa tidak enak jika meninggalkan shalat, lalai dari Al-Qur’an, dan jauh dari Allah.

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَاإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ
عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْ

 

Tinggalkan Balasan

Search