Khotbah Jumat: Islam Menghargai Peran Perempuan

*) Oleh : Muhammad DN, S.Ag, MHI. 
Ketua PDM Hulu Sungai Tengah Kalsel
www.majelistabligh.id -

الحَمْدُ للهِ الَّذِي هَدَى الْمُتَّقِيْنَ الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ وَفَضَّلَهُمْ بِالْفَوْزِ الْعَظِيْمِ،

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا أَفْضَلُ الْمُرْسَلِيْنَ،

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ذِي الْقَلْبِ الْحَلِيْمِ وَآلِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ وَأَصْحَابِهِ الْمَمْدُوْحِيْنَ

وَمَنْ تَبِعَ سُنَّتَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ،

وَبَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Islam sebagai agama yang sempurna, yang mengatur kehidupan manusia dengan adil dan penuh hikmah. Semoga kita tetap dalam ketaqwaan kepada Allah Swt.  Salawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Sebelum Islam datang, dunia berada dalam kegelapan yang disebut zaman jahiliyah. Pada masa itu perempuan diposisikan sangat rendah. Mereka dianggap aib bagi keluarga. Allah Swt menggambarkan kebiasaan buruk itu dalam firman-Nya:

وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدّٗا وَهُوَ كَظِيمٞ

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah” (QS. An-Nahl: 58)

Bahkan sebagian masyarakat Arab saat itu mengubur anak perempuan hidup-hidup karena takut miskin dan malu. Perempuan tidak mendapat warisan, tidak memiliki hak memilih, dan diperlakukan seperti harta yang bisa diwariskan.

Jamaah Jumat Rahimakumullah

Kondisi tidak adil itu ternyata belum sepenuhnya hilang. Hingga hari ini, di berbagai belahan dunia masih kita jumpai perempuan yang diperlakukan tidak adil. Ada yang dilarang mengenyam pendidikan, dipaksa menikah di usia anak, menjadi korban perdagangan manusia, atau digaji lebih rendah dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Laporan berbagai lembaga internasional menunjukkan bahwa kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan masih menjadi masalah global. Ini bukti bahwa tanpa tuntunan wahyu, manusia sering gagal berbuat adil.

Dalam banyak bidang kehidupan, posisi perempuan masih sering tersudutkan. Di bidang pekerjaan, perempuan lebih sulit mencapai jabatan tinggi. Di bidang hukum adat beberapa daerah, hak perempuan atas tanah dan warisan masih dibatasi. Di ruang publik, suara perempuan kadang dianggap tidak sepenting suara laki-laki. Padahal kemampuan akal, kecerdasan, dan ketakwaan tidak ditentukan oleh jenis kelamin. Islam datang justru untuk meluruskan ketimpangan ini.

Islam datang membawa keadilan mutlak. Di hadapan Allah, kemuliaan manusia tidak diukur dari jenis kelamin, tetapi dari takwanya. Allah Swt berfirman:

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. An-Nahl: 97)

Untuk menghapus ajaran jahiliyah yang merendahkan kelahiran anak perempuan, Islam datang memuliakan kedudukan anak perempuan dengan sangat terhormat. Rasulullah saw bersabda:

نْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَأَطْعَمَهُنَّ، وَسَقَاهُنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar terhadap mereka, memberi mereka makan, memberi mereka minum, dan memberi mereka pakaian dari hasil usahanya, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (HR. Ahmad no. 13835, Ibnu Majah no. 3669)

Ada juga riwayat lain dengan redaksi “memiliki dua anak perempuan” (HR. Muslim no. 2631) hal ini  menunjukkan betapa Islam memuliakan anak perempuan.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Dari keterangan di atas,  kita memahami bahwa menzalimi perempuan dengan merendahkan harkat dan martabat dan berbagai bentuk ketidakadilan terhadap mereka berarti menyalahi ajaran Islam. Agama Islam menetapkan hak dan kewajiban sesuai fitrah masing-masing. Laki-laki dan perempuan saling melengkapi, bukan saling bersaing. Keduanya memiliki peluang yang sama untuk meraih surga melalui amal saleh.

Karena pada dasarnya banyak juga peran dan sumbangan kaum perempuan untuk kemajuan agama Islam. Sejak awal dakwah Islam, perempuan memiliki peran yang sangat besar, sebutlah contoh salah satunya yaitu Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw. yang menjadi pendukung utama dakwah beliau, baik secara moral maupun materi.

Tidak kalah besarnya jasa  Aisyah binti Abu Bakar,  sosok pendamping Rasulullah yang juga seorang  ulama perempuan yang meriwayatkan ribuan hadis dan menjadi rujukan ilmu bagi para sahabat serta generasi sesudahnya. Begitu juga Ummu Salamah yang memberikan nasihat yang bijak pada peristiwa Hudaibiyah sehingga menenangkan Rasulullah saw. dan para sahabat.

Di Indonesia, kita mengenal R.A. Kartini sebagai pelopor kebangkitan perempuan. Beliau hidup di masa ketika perempuan Jawa terpinggirkan oleh adat. Perempuan tidak boleh sekolah tinggi, dipingit setelah usia tertentu, dan dijodohkan tanpa ditanya pendapatnya. Kartini menyuarakan pentingnya pendidikan bagi perempuan. Perjuangan Kartini membuka jalan bagi kaum perempuan Indonesia untuk belajar dan berkarya serta menjadi inspirasi bagi kaum perempuan lainnya.

Khutbah kedua

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sebagai penutup khutbah ini, Islam telah memuliakan perempuan dan menempatkannya pada kedudukan yang terhormat. Maka kewajiban kita adalah menjauhi segala bentuk kezaliman terhadap perempuan, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di masyarakat. Memberikan didikan adab terhadap  anak perempuan, memberikan hak pendidikan, menghargai pendapatnya, tidak membeda-bedakan mereka dengan anak laki-laki kita  lainnya dan melibatkannya dalam kebaikan adalah bagian dari mengikuti sunnah Rasulullah saw.  Akhirnya semoga kita  tidak mewarisi sifat jahiliyah yang merendahkan perempuan dalam semua lini kehidupan. Amin ya rabbal alamin

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ .

إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةٗ وَأَجۡرًا عَظِيمٗا

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

Tinggalkan Balasan

Search