Di era modern yang serba instan, pendidikan anak sering kali terjebak dalam pemuasan materi yang semu. Banyak orang tua berlomba memberikan fasilitas termewah pada anak, namun abai terhadap kekuatan jiwa. Menanggapi fenomena ini, Dr. Sholihin Fanani, M.PSDM, Wakil Ketua PWM Jatim, membangkitkan kembali pemikiran emas Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali.
Pendidikan bagi Al-Ghazali bukanlah tentang seberapa tinggi gelar akademik yang diraih, melainkan tentang Tazkiatun Nafs atau penyucian jiwa. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan sejati terpancar dari kelembutan hati dan rendah hati, sebuah benteng kokoh yang menjauhkan anak dari iri hati dan kesombongan.
Ada sebuah filosofi, bahwa pedang yang tajam tidak ditempa di atas sutra yang halus, melainkan di atas bara api dan pukulan martil yang tak kenal ampun.
Untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, Al-Ghazali menawarkan lima cara emas dalam mendidik anak:
Pertama, Jangan dibiasakan memberikan makan yang lezat-lezat. Jangan selalu memberi makan yang enak-enak. Sesekali, berikan mereka makanan yang sederhana. Hal ini dilakukan agar mereka tidak tumbuh sebagai “ahli makan”, melainkan sosok yang makan untuk hidup dan senantiasa mengucap syukur atas setiap rezeki yang singgah.
Kedua, Jangan dibiasakan anak tidur di tempat yang empuk-empuk. Fasilitas kamar yang terlampau istimewa seringkali menjadi penjara yang melenakan. Al-Ghazali menyarankan agar anak sesekali tidur di lantai. Tujuannya agar raga tidak malas dan jiwa memiliki kekuatan untuk bangkit bersujud di sepertiga malam melalui salat Tahajud.
Ketiga, jangan dibiasakan anak diberi pakaian yang bagus-bagus. Pakaian yang terlalu bagus hanya akan menumbuhkan benih kesombongan dan sikap meremehkan orang lain. Ajarkan anak mencuci dan menyetrika pakaiannya sendiri. Biarkan mereka merasakan peluh perjuangan agar mereka menghargai setiap helai benang yang menempel di tubuh mereka.
Keempat, Jangan permudah memberi permintaan anak. Keinginan yang selalu terpenuhi akan melahirkan mentalitas rapuh. Biarkan mereka berjuang, bahkan hingga air mata menetes, untuk mendapatkan sesuatu. Berikan syarat dan ajarkan etos kerja. Inilah cara paling jitu membentuk kemandirian agar mereka tidak menjadi benalu bagi orang tua di masa dewasa.
Kelima, Jangan menghukum anak di depan orang lain. Jangan pernah sekali-kali menghukum anak di depan orang lain. Memarahi anak di ruang publik adalah tindakan yang akan menghancurkan masa depan dan menghancurkan jiwanya. Pilih waktu-waktu yang tepat untuk menasihat, seperti saat makan bersama, sebelum tidur, atau saat bepergian.
Selain materi, cara berkomunikasi menjadi kunci. Secara ilmiah, komunikasi bukan hanya soal kata-kata (substantif/6%), melainkan soal nada bicara (intonatif/37%) dan yang paling utama adalah sentuhan kasih sayang (kinestetik/57%).
Sebagaimana wasiat Ali bin Abi Thalib yang menjadi ruh dalam pendidikan ini: “Perbaikilah akhlakmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu.” Menanamkan akhlak pada anak adalah investasi abadi, karena saat akhlak tertata, maka seluruh kehidupan akan mengikuti jejak kebaikannya. (*/nun)
