Mama Siti Nekwek, Lentera Iman di Ujung Bumi Cenderawasih

Mama Siti Nekwek saat diwawancarai wartawan. (ist)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Di bawah langit megah Papua Pegunungan yang kerap berselimut kabut tebal, rimbun hutan merangkul sebuah kesunyian yang dalam. Di sanalah, sejauh seratus tiga puluh kilometer dari keramaian Wamena, sebuah kisah tentang keteguhan hati mengalir selembut mata air namun sekuat batu karang.

Siti Mariab Tun Qibtiyah Nekwek, atau yang akrab disusup ke dalam kalbu masyarakat sebagai Mama Siti Nekwek, berdiri tegak di tengah badai. Ia adalah sebutir permata yang unik, satu-satunya Orang Asli Papua (OAP) pemeluk Islam dari Kabupaten Yalimo, yang kini mendedikasikan sisa nafasnya untuk mengabdi melalui Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (PWA) Papua Pegunungan.

Langkah spiritual Mama Siti Nekwek bagai jalan setapak penuh duri tajam yang harus didaki dengan kaki telanjang. Ketika hidayah itu menyapa lubuk hatinya tanpa paksaan, keputusan memeluk Islam seketika meruntuhkan kedamaian hubungannya dengan keluarga besar.

Penolakan datang bertubi-tubi; amarah dari seluruh marga dan orang tua sempat mengurungnya dalam kesendirian. Pertanyaan sinis muncul, mengapa ia harus memilih jalan yang berbeda?

Sempat Tiba-Tiba Lumpuh

Belum kering air mata akibat penolakan keluarga, badai ujian kembali menerpa fisik Mama Siti Nekwek. Sebuah kelumpuhan mendadak menyerang tubuh bagian bawahnya, merenggut kemampuan kakinya untuk melangkah. Di atas ranjang sakit, dalam keterbatasan yang menghimpit, api imannya justru kian berkobar membakar keraguan.

Di saat raganya tak berdaya, jiwanya justru bersujud semakin dalam. Puasa tetap dijalankannya dengan khusyuk, dan salat lima waktu tak pernah sekalipun ia tanggalkan. Baginya, rasa sakit di tubuh adalah sebuah tungku pembakaran yang memurnikan emas keimanannya, membuktikan bahwa cintanya pada Sang Pencipta melampaui batas-batas keduniawian.

Namun, kepasrahan Mama Siti bukanlah kepasrahan yang pasif. Ia berdoa dan sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah Swt sangat dekat, lebih dekat dari urat nadi. Sakit itupun perlahan membaik.

Sebagai seorang ibu yang pernah merasakan pedihnya kehilangan, hatinya pernah koyak saat salah satu anak kembar balitanya harus berpulang ke pangkuan Ilahi akibat keterbatasan akses kesehatan dan minimnya pengetahuan di pedalaman.

Dari pusara sang buah hati, sebuah tekad baru lahir. Ia tidak ingin anak-anak Papua lainnya tumbuh dalam gelapnya ketidaktahuan. Ia mengirimkan anak pertamanya ke sebuah pesantren di tanah Jawa demi masa depan yang lebih cerah, secerah harapannya agar anak-anak hidup dalam tuntunan agama yang utuh dan selaras.

Titik balik pengabdiannya mengkristal pada tanggal 8 November 2025 di Wamena, saat Pimpinan Pusat ’Aisyiyah mengukuhkan PWA Papua Pegunungan. Dengan balutan busana muslimah berwarna hijau berpadu kerudung kuning yang hangat, kehadiran Mama Siti Nekwek menjadi pemandangan yang menyentuh sanubari setiap mata yang memandang.

Ia berdiri di sana bukan hanya sebagai pengurus, melainkan sebagai simbol hidup dari toleransi, keberanian perempuan, dan harapan baru di atas tanah kelahirannya.

Bergabung dengan ’Aisyiyah adalah jalan yang ia pilih untuk merajut peradaban. Mama Siti Nekwek sadar betul bahwa menjadi ibu ’Aisyiyah berarti harus terus membangun pikiran demi suksesnya masa depan generasi penerus.

Di sela-sela bait kehidupan yang ia lalui, ia kini menjadi lentera dakwah yang menyinari lembah-lembah sunyi Papua Pegunungan. Ia membuktikan bahwa balutan jilbab tidak pernah memisahkan dirinya dari darah dan rahim Bumi Cenderawasih, melainkan menjadikannya saluran berkat dan kedamaian bagi sesama. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search