Masjid Nabawi, Madinah, menghadirkan fenomena “Rasa Indonesia”. Dengan kuota haji sebanyak 221 ribu jemaah, jemaah haji Indonesia mendominasi setiap sudut pelataran hingga saf-saf terdepan. Kehadiran identitas bangsa ini ditegaskan melalui syiar ilmu dan sentuhan teknologi yang menyapa jemaah dengan bahasa Indonesia.
Setiap hari, di jeda waktu antara salat Maghrib dan Isya, area sekitar Pintu 19 atau Badr Gate berubah menjadi oase ilmu bagi warga Indonesia. Di sebuah kursi kayu yang merangkap mimbar sederhana, duduk sosok muda berusia 34 tahun asal Riau, Ustaz Ariful Bahri.
Penerima gelar doktor dari Universitas Islam Madinah ini bukan sekadar pengajar biasa. Sejak 2019, ia telah dipercaya menjadi penceramah resmi di Masjid Nabawi. Dengan bahasa Indonesia yang lugas dan tegas, ia membedah makna ibadah di hadapan ratusan jemaah yang duduk bersimpuh di depannya. Di tengah keberagaman mazhab dan bahasa di Masjid Nabawi, suara Ariful Bahri sangat menarik bagi jemaah haji Tanah Air.
“Haji mabrur itu berat, tidak ringan. Ia tidak diukur saat Anda berada di sini (Tanah Suci), karena di sini semua orang mudah berbuat baik. Ukuran sesungguhnya adalah ketika kaki kita kembali berpijak di kampung halaman,” kata Ustaz Ariful Bahri, dalam tausiyahnya.
Kalimat tegas tersebut menjadi peringatan keras bagi para jemaah agar tidak terlena dengan suasana spiritual sesaat di Madinah, melainkan fokus pada perubahan karakter jangka panjang.
Inovasi Teknologi yang Menyapa Bangsa
Kehadiran Indonesia kian dihormati melalui fasilitas yang disediakan pemerintah Arab Saudi. Di depan Gate 333, sebuah layar LED raksasa memancarkan cahaya yang berbeda. Bukan hanya teks Arab atau Inggris, layar tersebut menampilkan pesan sambutan dan panduan dengan teks berjalan berbahasa Indonesia.

Ini adalah pengakuan terhadap posisi Indonesia sebagai pengirim jemaah haji terbesar. Inovasi ini bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bentuk penghormatan terhadap martabat bangsa Indonesia. Jemaah yang mungkin merasa asing di negeri orang, seketika merasa “pulang” saat melihat tulisan yang menyusun kalimat sambutan akrab di jalur menuju pelataran utama.
Dominasi Indonesia di Madinah tahun ini adalah manifestasi dari besarnya kerinduan umat terhadap tanah haram. Dengan kuota 221 ribu jiwa, pergerakan jemaah menjadi pemandangan ikonik yang mewarnai setiap sudut kota Nabi.
Kehadiran halaqah (pengajian) berbahasa Indonesia dan instruksi digital dalam bahasa nasional menunjukkan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar yang strategis di mata dunia internasional. Madinah tidak lagi terasa asing; Madinah kini terasa begitu dekat dengan detak jantung Jakarta, Surabaya, Makassar, hingga pelosok Riau.
Fenomena “Masjid Nabawi rasa Indonesia” ini membawa pesan bahwa identitas bangsa harus dijaga melalui perilaku yang mencerminkan kualitas haji mabrur. Jika Madinah telah memberikan ruang luas bagi bahasa dan putra terbaik kita untuk mengajar, maka tugas jemaah adalah mengisi ruang tersebut dengan adab yang luhur.
Indonesia harus hadir sebagai bangsa yang tertib, santun, dan haus akan ilmu agama. Sebagaimana pesan tegas dari pilar Pintu 19, kemabruran haji bukan tentang seberapa lama kita berada di Madinah, tapi seberapa besar “warna” Madinah yang kita bawa pulang untuk mewarnai Indonesia.|| chusnun
