Khotbah Iduladha di LLDIKTI Wilayah XI Ajak Jemaah Menjadikan Kurban sebagai Gaya Hidup

Khotbah Iduladha di LLDIKTI Wilayah XI Ajak Jemaah Menjadikan Kurban sebagai Gaya Hidup
www.majelistabligh.id -

Pelaksanaan Salat Iduladha 1447 H yang diselenggarakan oleh pengurus Masjid Ar-Rahim berlangsung khidmat pada Rabu, 10 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan 27 Mei 2026 di halaman LLDIKTI Wilayah XI Jl. Adhyaksa, Banjarmasin. Sejak pagi, jamaah dari berbagai kalangan masyarakat memadati lokasi pelaksanaan shalat Idul Adha dalam suasana penuh kekhusyukan dan kebersamaan.

Shalat Iduladha dipimpin oleh Ustadz M. Hafidz Naim selaku imam. Sementara khotbah Iduladha disampaikan oleh Chusnul Aqib, SSy, MPd dengan tema “Transformasi Karakter: Menjadikan Semangat Iduladha sebagai Gaya Hidup, Bukan Sekadar Seremoni.”

Dalam khotbahnya, khatib menegaskan bahwa Iduladha tidak boleh berhenti sebagai ritual tahunan semata, tetapi harus menjadi momentum perubahan karakter dan perbaikan diri. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan nilai-nilai kurban sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari, bukan sekadar seremoni musiman.

Khatib juga menyampaikan kritik sosial yang menyentuh kehidupan umat saat ini. Menurutnya, banyak orang setiap tahun melaksanakan kurban, tetapi belum mengalami perubahan perilaku dan akhlak. Ia mempertanyakan apakah Iduladha benar-benar telah mengubah karakter manusia atau hanya menjadi kegiatan rutin yang berlalu begitu saja setelah daging kurban dibagikan.

“Tidakkah kita merasa aneh jika setiap tahun kita berkurban, namun lisan kita tetap tajam menyakiti tetangga? Tidakkah kita merasa janggal, jika setiap tahun kita bertakbir, namun hati kita masih dipenuhi kesombongan dan keangkuhan?” ungkapnya dalam khotbah.

Khotbah tersebut kemudian menguraikan tiga pilar transformasi karakter yang harus lahir dari semangat Iduladha. Pilar pertama adalah transformasi ketaatan, yaitu perubahan dari sekadar mengetahui ajaran agama menjadi benar-benar patuh menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dijadikan teladan tentang ketaatan total kepada Allah SWT meskipun menghadapi ujian berat.

Pilar kedua yang paling banyak mendapat perhatian jamaah adalah ajakan untuk menyembelih “Ismail-Ismail modern” dalam kehidupan manusia saat ini. Khatib menjelaskan bahwa “berhala” modern tidak selalu berbentuk patung, tetapi bisa berupa jabatan, harta, gaya hidup mewah, hingga budaya pamer di media sosial yang membuat manusia lupa kepada Allah SWT.

Selain itu, khotbah juga menekankan pentingnya transformasi sosial melalui semangat kepedulian dan kebiasaan berbagi kepada sesama. Menurut khatib, kurban bukan hanya tentang membagikan daging, tetapi tentang membangun karakter dermawan yang terus hidup sepanjang tahun.

“Pertanyaannya sekarang bukan lagi seberapa besar hewan kurban yang kita potong, tapi seberapa besar perubahan yang kita bawa setelah ini?” kata khatib menjelang penutupan khutbahnya.

Di akhir khotbah, jamaah diajak menjadikan Iduladha 1447 H sebagai titik balik perubahan perilaku menuju pribadi yang lebih taat, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Doa-doa yang dipanjatkan juga menyentuh berbagai persoalan umat, termasuk harapan bagi kedamaian bangsa Indonesia dan keselamatan saudara-saudara Muslim di Palestina. (lpcrpm-bjm)

 

Tinggalkan Balasan

Search