Melihat Takdir Lewat Kacamata Hikmah

www.majelistabligh.id -

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mukhlis Rahmanto, mengajak umat Islam untuk terus membangun optimisme dengan senantiasa berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah Swt. Menurutnya, optimisme sangat krusial mengingat keterbatasan manusia dalam memahami rahasia di balik setiap peristiwa.

Pesan tersebut disampaikan Mukhlis dalam pengajian di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (31/8/2026). Ia menegaskan bahwa optimisme seorang Muslim diuji saat menghadapi takdir yang secara kasatmata terlihat buruk.

“Sederhananya, optimis itu berarti senantiasa berprasangka baik terhadap apa pun kejadian yang menimpa kita—baik pada diri pribadi, keluarga, maupun masyarakat secara umum,” tuturnya.

Mukhlis menjelaskan, Al-Qur’an secara jujur memotret manusia sebagai makhluk yang berpotensi lemah. Hal itu sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 28. Kelemahan tersebut mencakup fisik maupun mental, seperti kecenderungan untuk mudah putus asa dan tidak sabar.

Kendati demikian, Al-Qur’an sekaligus menyodorkan jalan keluar. Melalui Surah Yusuf ayat 87, Allah melarang tegas hamba-Nya berputus asa dari rahmat-Nya. Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memetakan masalah, tetapi juga menyediakan penawarnya.

“Allah menginformasikan secara utuh tentang tabiat manusia, termasuk sifat mudah putus asa. Namun di saat yang sama, Allah juga memberikan solusinya,” kata Mukhlis.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa manusia dibekali dua potensi dasar: kefasikan dan ketakwaan (QS. Asy-Syams: 8). Karena itu, mengenali kecenderungan diri menjadi kunci agar tidak mudah terjebak dalam prasangka negatif ketika menghadapi badai kehidupan—seperti persoalan ekonomi, kesehatan, hingga dinamika sosial-politik.

Kacamata Hikmah

Mukhlis mengingatkan agar umat tidak terburu-buru menilai sebuah takdir. Berpatokan pada Surah Al-Baqarah ayat 216, ia menyebut apa yang dibenci manusia bisa jadi mengandung kebaikan mendalam yang belum kasat mata.

“Manusia sering kali menilai sesuatu hanya dari sudut pandang yang sempit. Sekilas menganggap hal yang ia benci sebagai keburukan, padahal ada kebaikan di baliknya,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia mengajak masyarakat melihat setiap peristiwa dengan “kacamata hikmah”. Sebagai contoh, sakit yang dirasakan secara fisik merupakan hal tidak menyenangkan, namun di balik itu terdapat penghapusan dosa dan ujian peningkat derajat. Begitu pula dengan erupsi Gunung Merapi; meski abu vulkaniknya sempat merusak panen, pada akhirnya material tersebut menyuburkan tanah pertanian. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search