Membaca Al-Qur’an Lewat Pendekatan Sains, Jangan Salah Tafsir!

Membaca Al-Qur’an Lewat Pendekatan Sains, Jangan Salah Tafsir!
www.majelistabligh.id -

Penggunaan sains dalam memahami Al-Qur’an membutuhkan ketelitian dan sikap kritis agar tidak membahayakan kedudukan kitab suci saat teori ilmiah berubah.

Hal ini ditegaskan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Syifa Amin Widigdo, saat menyoroti berbagai pendekatan tafsir saintifik yang berkembang di kalangan ulama.

Dalam pengajian di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada Selasa (6/10/2026), Syifa menguraikan tiga pendekatan utama beserta kelebihan dan risikonya masing-masing.

Pendekatan pertama adalah al-i‘jāz al-‘ilmī (kemukjizatan ilmiah), yang dipelopori oleh tokoh seperti Maurice Bucaille dan Harun Yahya. Pendekatan ini meyakini Al-Qur’an memuat kebenaran sains modern jauh sebelum ilmunya ditemukan, seperti dalam bidang embriologi dan astronomi. Meski mampu memperkuat keyakinan umat, pendekatan ini rentan ketika teori sains yang digunakan mengalami revisi atau gugur.

“Jika suatu saat ada penemuan baru yang mengoreksi teori lama, jangan sampai Al-Qur’an dianggap keliru. Yang salah itu tafsir manusianya, bukan Al-Qur’an,” tegas Syifa.

Sebagai solusinya, Syifa mengenalkan pendekatan kedua, yaitu al-tafsīr al-‘ilmī (penafsiran ilmiah). Pendekatan yang diusung oleh Jamaluddin al-Afghani hingga Nidhal Guessoum ini memposisikan hasil pembacaan sains terhadap Al-Qur’an semata-mata sebagai produk ijtihad manusia yang dinamis.

“Pendekatan ini memiliki kerendahan hati epistemologis. Jika ada teori baru yang lebih kuat, penafsiran manusialah yang dikoreksi, bukan ayat Al-Qur’an,” lanjutnya.

Adapun pendekatan ketiga memilih memisahkan Al-Qur’an dan sains secara tegas karena menganggap keduanya bekerja dengan logika yang berbeda.

Di akhir pemaparannya, Syifa mengingatkan agar pemahaman teologis tidak dipaksakan ke dalam temuan saintifik. Pembacaan Al-Qur’an yang beraneka ragam ini hendaknya ditempatkan secara proporsional demi memperluas wawasan keilmuan sekaligus memperkuat penghambaan kepada Allah Swt. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search